Sulawesi Selatan termasuk daerah yang memiliki anggrek spesies dan langka. Jumlahnya cukup besar. Mencapai 700 lebih jenis. Sayangnya, sebagian besar jenis anggrek langka itu sudah terancam dan nyaris punah akibat pembakaran dan pembalakan hutan secara besar-besaran. Oleh karena itu, untuk menjaga keberlangsungan hidup anggrek dibutuhkan perhatian serius pemerintah dan masyarakat dalam menjaganya.
Hingga saat ini, beberapa anggrek spesies langka belum diproteksi dengan baik. Buktinya, masih dipasarkan dan dijual bebas di beberapa tempat. Salah satu jenis anggrek yang bebas diperjualbelikan itu adalah grammatophyllum stafeliforum dan vanda celebica (anggrek daun jahe). Kedua anggrek ini banyak ditemukan di Malino, Kabupaten Gowa.
Anggrek memang merupakan tumbuhan anggrek epifit yang ditemukan di daerah ketinggian 400-500 meter dpl (dari permukaan laut) atau jenis grammatophyllum stafeliforum (anggrek tebu), vanda celebica (anggrek daun jahe). Kontur tanah dan suhu udara di Malino memang sangat cocok untuk pengembangan dan budidaya tanaman ini. Bahkan Malino kini sudah disiapkan menjadi sentra budi daya anggrek di Indonesia. Wakil Presiden HM Jusuf Kalla juga berharap ke depan Malino tidak hanya dikenal sebagai kota bunga, tetapi juga populer sebagai kota anggrek yang tidak hanya dikagumi bangsa tapi juga para wisatawan.
Selain Malino, Kabupaten Maros dan Enrekang juga potensial dijadikan area pengembangan anggrek. Kedua daerah ini juga memiliki anggrek spesies langka. Tiga dosen Biologi dan Budidaya Pertanian Universitas Hasanuddin; Elis Tambaru,
Rinaldi Sjahril, dan Muh. Ruslan Umar yang melakukan penelitian tahun 2014 menemukan adanya spesies anggrek langka di dua daerah ini. Ketiganya melakukan penelitian di hutan Pattunuang, Maros dan hutan Bolli Kabupaten Enrekang. Kondisi lingkungan tempat anggrek itu tumbuh sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidupnya. Sebab banyak anggrek yang sensitif terhadap suhu dan ketinggian.
Spesies anggrek yang ditemukan di Hutan konservasi dan wisata alam Pattunuang yaitu sebanyak 15 spesies yang kesemuanya bersifat epifit. Jenis anggrek yang ada di kawasan ini antara lain dendrobium, luisia, aerides, pholidota, cymbidium, flickingeria, eria, cleisostoma, phalaenopsis, coelogyne, pomatocalpha, dan brachypeza. Sedangkan di hutan Bolli, Kabupaten Enrekang ditemukan 288 spesies anggrek yang terdiri dari 37 spesies dan 20 genus di mana 36 di antaranya spesies bersifat epifit. Hanya satu spesies yang bersifat teresterial yaitu Spathoglottis plicata.
Keanekaragaman spesies anggrek di hutan Bolli, Kabupaten Enrekang lebih tinggi dibandingkan di Hutan Pattunuang, Kabupaten Maros. Hal ini dikarenakan hutan Bolli merupakan hutan alami dengan kondisi iklim yang memungkinkan bagi habitat anggrek serta kurang dipengaruhi oleh aktivitas masyarakat dibandingkan di hutan Pattunuang yang merupakan hutan konservasi dan wisata. Meskipun demikian, tumbuhan inang di hutan Pattunuang lebih beragam dibandingkan di hutan Bolli. Tumbuhan inang di hutan Pattunuang antara lain mangifera indica, syzigium sp ficus fistulosa, dan mallotus.
Anggrek epifit hidup menempel pada tumbuhan inang. Hal ini disebabkan karena jenis tumbuhan inang umumnya memiliki kulit yang tebal, lunak, permukaannya kasar, kulit tidak mengelupas dan lepas, tajuknya rimbun dan daun tidak menggugurkan seluruh daun pada musim kemarau sehingga dapat memberikan iklim mikro yang lebih sesuai. Anggrek alam epifit yang cukup sering dijumpai antara lain Aerides inflexa, Coelogyne celebensis, Dendrobium crumenatum dan Pholidota imbricata. Dari anggrek alam epifit Appendicula laxifolia, Bulbophyllum agapethoides, Bulbophyllum auritum, Bulbophyllum pachyneuron, Ceratostylis sima, Coelogyne celebensis, Dendrobium rantii, Dendrobium thysanophorum dan Luisia celebica merupakan anggrek alam endemik Sulawesi
Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (Babul) juga pernah melakukan identifikasi keanekaragaman jenis anggrek alam di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN. Babul). Hasilnya, diperoleh sedikitnya 85 jenis anggrek alam yang terdiri atas 43 marga. Di antaranya terdapat 66 jenis anggrek alam yang teridentifikasi pada tingkat jenis, dan 19 jenis pada tingkat marga.
Tipe tempat tumbuh anggrek alam dibagi kedalam 4 kategori, yaitu epifit, terrestrial, litofit dan saprofit. Sedangkan habitat anggrek alam dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu area vegetasi hutan yang berbatasan langsung dengan tepi sungai (HTS), area hutan dengan pola vegetasi yang rapat dan lembab (HTL), dan area hutan dengan pola vegetasi yang tidak terlalu rapat/cenderung terbuka (HVT). Semakin sedikit jumlah tipe habitat yang dapat ditumbuhi anggrek alam, maka diduga semakin spesifik pula kondisi habitat dimana anggrek alam tersebut tumbuh.
Sebagian besar anggrek alam di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung hanya memiliki satu tipe tempat tumbuh secara epifit atau terrestrial saja, yaitu 80 Jenis dari 85 jenis yang ditemukan. Meski begitu terdapat empat jenis spesies anggrek alam yang dapat tumbuh baik pada dua tipe tempat tumbuh, yaitu Appendicula laxifolia, Appendicula cornuta, Calanthe vestita dan Didymoplexis pallens. Sedangkan satu jenis anggrek alam yang dapat tumbuh pada tiga tipe tempat tumbuh diduga memiliki kemampuan adaptasi yang baik untuk dapat tumbuh baik secara epifit, terrestrial maupun litofit, yaitu Vandopsis lissochiloides.
Dari 13 lokasi yang dieksplorasi di Taman Nasional Bantimrung-Bulusaraung, , lokasi Mallawa (Bentenge dan Ballanglowe), Pattunuang (di sekitar sungai Pattunuang), Tondong Tallasa (Dusun Bonto Birao) dan Gunung Bulusaraung yang paling banyak ditemukan jenis anggrek alam tumbuh. Di lokasi tersebut banyak jenis anggrek alam karena kelembaban, intensitas cahaya dan temperatur di sekitarnya lebih mendukung untuk kehidupan beberapa jenis anggrek alam.
Ada empat jenis anggrek alam yang paling dominan di Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung yaitu Aerides inflexa, Coelogyne celebensis, Dendrobium crumenatum dan Pholidota imbricata. Dominasi ini didasarkan atas sebarannya yang mencakup di semua tipe habitat serta jumlah individu yang sering dijumpai selama eksplorasi dilaksanakan. Sementara itu jenis-jenis anggrek alam yang sebarannya terbatas hanya ditemukan di satu lokasi saja adalah Abdominea minimiflora, Bulbophyllum agapethoides, Bulbophyllum auritum, Bulbophyllum odoratum, Bulbophyllum orthoglossum, Bulbophyllum pachyneuron, Bulbophyllum sessile, Calanthe triplicata, Calanthe vestita, Ceratostylis sima, Ceratostylis sp., Eria flavescens, Eria javanica, Eria merrillii, Eria sp.1, Eria sp.3, Flickingeria fimbriata, Gastrochilus sororius, Liparis elegans, Malleola sp., Pholidota articulata, Taeniophyllum malianum, Thrixspermum purpurascens, Trichotosia ferox dan Vanda sp. Selain itu, terdapat juga jenis yang penyebarannya luas, namun jumlah individu di habitatnya sangat jarang dijumpai yaitu Phalaenopsis amabilis dan Phalaenopsis amboinensis.
Kerusakan habitat dan eksploitasi liar anggrek alam memungkinkan populasinya anggrek alam di habitat aslinya di TN Bantimurung-Bulusaraung berkurang. Jika populasi di habitatnya berkurang, maka proses regenerasinya secara alami akan sangat terhambat. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk menjaga kelestarian populasi anggrek alam ini di habitat aslinya. Tidak hanya di Taman Nasional Bantimurun-Bulusaraung, tetapi juga di kawasan pengembangan dan budidaya anggrek lainnya. Sebab jika tidak, kepunahan anggrek-anggrek langka di Sulsel akan terus terjadi. (Fachruddin Palapa)
