Site icon Berita Kota Makassar

Mengawali Usaha dengan Modal Rp200 Ribu

BAGI kebanyakan orang, sebuah masalah akan sangat mempengaruhi kehidupan mereka. Entah besar ataupun kecil, pasti memiliki efek, baik pada perilaku maupun pola pikir. Termasuk dalam berusaha.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

DI sebuah lorong sempit Jalan Anuang. Depan sebuah rumah terpampang papan nama usaha. Tertulis Atiek Collection. Pemiliknya bernama Mardianti Amir. Sehari-harinya akrab disapa Atiek.
Perempuan ini juga menyandang posisi sebagai ketua RT di pemukimannya. Saat ditemui BKM, terlihat ada dua karyawannya yang tengah bekerja.
Di usianya yang sudah 45 tahun, Atiek terlihat sangat keibuan dengan menggunakan baju berwarna biru dan jilbab abu-abu. Dengan ditemani oleh anak semata wayangnya, ia menceritakan kisahnya merintis usahanya.
Atiek Collection adalah sebuah usaha yang bergerak di bidang Craft & Souvenir. Ada juga penyewaan baju bodo dan jas tutup.
“Usaha saya itu melayani pesanan aneka kerajinan sutra bross, dompet pesta, jahitan gorden, dan lain-lain. Juga menyewakan baju bodo, jas tutup, erang-erang, bosara, meja oshin, dan lain-lain,” jelas Atiek memulai perbincangan.
Usaha milik wanita kelahiran Ujung Pandang ini sudah sangat berkembang. Produknyapun telah diekspor hingga ke luar negeri.
Namun, siapa sangka jika Atiek memiliki pengalaman pahit sebelum usahanya seperti sekarang. Baik di kala mengembangkan usaha, maupun dalam kehidupan pribadinya yang tentu saja sangat mempengeruhi mentalnya.
Atiek mengawali usahanya dengan modal Rp200 ribu. Bermula dengan menyewakan baju bodo di tahun 1999. Modal itu terus ia putar sedikit demi sedikit.
“Ibu saya dulu kan penjahit. Jadi kalau ada sisa kainnya saya buat lagi erang-erang, terus bikin tutup bossara. Ada yang beli. Terus, lama-lama banyak barangku,” terang Atiek menceritakan usahanya yang berkembang perlahan namun pasti.
Sebelum mengembangkan usahanya ke arah kerajinan dan souvenir, Atiek pernah ditipu oleh seorang pelanggannya. Saat itu ia mengirimkan beberapa baju bodo ke pelanggan tersebut.
Atiek yang enggan menyebut nama orang itu, mengatakan sebenarnya ia telah mempercayai pelanggannya ini karena sudah menjadi konsumennya sejak lama.
Tapi entah mengapa, saat itu pelanggannya ini justru tak mau membayar semua jasa yang diberikan Atiek. Bahkan Atiek sempat kehilangan kontaknya. Mau tidak mau, Atiek saat itu harus merugi sampai Rp10 juta.
Berhentikah Atiek? Tidak. Malah sebaliknya. Usai mengalami penipuan, Atiek semakin bersemangat mengembangkan usahanya.
Hingga pada 2011 lalu, Atiek bisa berada pada titik guna menggapai sukses. Bukan hanya dari penyewaan baju bodo, namun juga ke arah penjualan souvenir. Hal ini jugalah yang membuat usaha Atiek kini dikenal sampai pasar internasional. (*/rus/b)

Exit mobile version