GOWA, BKM — Sehari penuh, seluruh kantor pelayanan publik di Kabupaten Gowa memberikan pelayanan berbeda dari hari-hari biasanya. Pada Kamis (19/10), mulai pagi hingga jam kerja bubaran sore, para pegawai pemerintahan maupun karyawan kantor swasta melayani masyarakat dengan berbusana adat Makassar.
Busana adat ini dikenakan para pegawai dalam rangkaian memperingati Hari Jadi Sulsel ke 348 yang jatuh pada 19 Oktober kemarin. Khusus di lingkup Pemkab Gowa, diawali dengan upacara pagi di halaman kantor bupati Gowa dipimpin Wakil Bupati Gowa, H Abd Rauf Malaganni.
Baik Wabup Gowa maupun seluruh pimpinan SKPD dan pegawai berbusana adat aneka warna. Wabup Gowa, Abd Rauf Malaganni bertindak sebagai inspektur upacara dan membacakan sambutan seragam Gubernur Sulsel, H Syahrul Yasin Limpo.
Ditegaskan, peringatan ini bukanlah rutinitas seremonial belaka. Tapi di dalamnya mengandung makna dan hakikat yang lebih dalam tentang kilas balik sejarah untuk menemukan jejak momentum yang menandai tahapan perjalanan daerah Sulsel sejak tahun 1669.
”Semua berawal ketika perjanjian Bongaya ditandatangani antara Raja Gowa Sultan Hasanuddin dengan Kompeni Belanda yang sekaligus menjadi simbol rekonsiliasi kerajaan-kerajaan besar di Sulawesi Selatan,” sebut Rauf.
Dalam amanah gubernur tersebut, Wabup Gowa mengatakan, hari jadi ini juga dapat dijadikan momentum untuk melakukan introspeksi atau muhasabah dan mengevaluasi diri apakah yang dilakukan selama ini telah memberi manfaat bagi kesejahteraan rakyat di Sulsel.
Dari pemantauan BKM, sejumlah perkantoran memperlihatkan para pegawai dan karyawannya berbusana adat. Pegawai lelaki mengenakan jas tutup dan songkok guru. Sedangkan pegawai perempuan mengenakan busana adat baju bodo. Hal itu terlihat di kantor pelayanan Pemkab Gowa, Bank BRI Kanca Sungguminasa, Puskesmas Somba Opu, dan kantor-kantor instansi lainnya. (sar/mir)