Site icon Berita Kota Makassar

Dari Balai Bambu Didik Anak agar tak Putus Sekolah

BANGSA ini tak akan maju bila semata yang diharapkan berbuat adalah pemerintah. Rakyat yang ada di dalamnya juga patut memberikan tindakan nyata, lebih produktif serta peduli pada lingkungan sekitar.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

DI pinggir kanal dekat waduk tunggu Pampang. Tepatnya di Jalan Inspeksi Kanal II Bangkala, Kecamatan Manggala.
Sebuah bangunan balai-balai berdiri di atas areal persawahan yang sebagian telah ditimbun. Empat buah tiangnya terbuat dari bambu. Begitu pula dipannya, dibuat dari bambu yang telah dibelah untuk kemudian dijalin saling terkait satu sama lain. Di atasnya dipasangi lembaran plastik untuk dijadikan tempat duduk.
Atap balai-balai berupa seng. Tak ada yang menutupi sekelilingnya. Dibiarkan terbuka.
Pada bagian depan terpasang spanduk. Tertera tulisan; Komunitas Rumah Dedikasi Indonesia Sekolah Impian Pendidikan Anak Usia Dini Taman Kanak-kanak Taman Pendidikan Alquran. Di bawahnya tercantum alamat; Jalan Inspeksi Kanal II, Bangkala, Manggala.
Oleh masyarakat sekitar, tempat ini dikenal dengan sebutan Sekolah Impian. Diperuntukkan bagi anak-anak pemulung yang banyak bermukim secara tak tetap, tidak jauh dari lokasi sekolah.
Tempat yang sebenarnya tak layak disebut sebagai sekolah dalam arti sebenarnya ini, didirikan oleh Febriansa. Dia punya alasan hingga tercetus Sekolah Impian.
”Yang akan menjadi pemimpin dari generasi emas Indonesia kelak adalah usia anak pada saat ini. Karena itu, sekolah ini didirikan supaya anak-anak yang putus sekolah bisa kembali bersekolah dan kelak bisa menjadi pemimpin bangsa,” kata Febriansa.
Sekolah Impian dibuat setingkat Taman Kanak-kanak (TK). Pendiriannya dilakukan secara sosial sosial oleh pemuda kelahiran Bone ini bersama komunitasnya, yakni Komunitas Rumah Dedikasi Indonesia.
Tempat ini dikhususkan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu yang berada di sekitar lokasi sekolah tersebut. Rerata pekerjaan orang tua mereka adalah pemulung.
Beberapa rumah di sekitar sekolah itupun tampak kumuh. Saat BKM mengunjungi area sekitar sekolah itu, jalanannya bukan aspal, melainkan tanah dan bebatuan.
Agak terpencil dan terbelakang. Padahal berada di perbatasan antara Kabupaten Gowa dan Kota Makassar. Hanya beberapa meter dari lokasi ini, berdiri kawasan perumahan elit.
Kegiatan sehari-hari Sekolah Impian sama dengan sokolah TK pada umumnya. Belajar materi tingkat kanak-kanak, dan sesekali bermain. Bedanya, Sekolah Impian saat ini belum menjadi sekolah resmi. Sifatnya juga lebih ke arah sosial, sukarela, yang tujuannya adalah mencerdaskan anak-anak yang tak mampu lagi bersekolah.
Sekolah ini aktif melakukan aktivitas setiap Senin sampai Jumat pada pukul 08.00 Wita hingga 11.00 Wita. Anak-anak tampak begitu ceria bisa kembali belajar sambil bermain. Mereka didampingi dua pengajar yang bergantian melakukan pengajaran di sekolah tersebut. Sebagian dari orang tua tampak menemani.
“Saya memang berharap agar anak-anak ini bisa mengenyam pendidikan supaya tidak jadi pemulung. Kelak mereka mudah-mudahan akan jadi pemimpin, misalkan saja menjadi kepala sekolah, dan lain-lain,” harap Febriansah yang merupakan Magister Manajemen Pendidikan UNM. (*/rus/b)

Exit mobile version