MAKASSAR, BKM — Imej tak baik disematkan di Kampung Sapiria. Daerah yang berada di Kelurahan Lembo, Kecamatan Tallo, Kota Makassar ini begitu lekat dengan kasus penyalahgunaan narkoba. Seperti apa sebenarnya kondisi terkini daerah tersebut?
Sejak berpisah dengan Kelurahan Pannampu sebagai kelurahan induk di tahun 1993, Kampung Sapiria yang sebelumnya masuk wilayah RW 06, berubah menjadi RW 02 Kelurahan Lembo. Nama Sapiria sudah dikenal sejak lama, saat masa awal-awal kemerdekaan.
Menurut Sumardi, Ketua RW 02, tempat yang ia tinggali kini dahulunya merupakan daerah yang banyak ditumbuhi pepohonan. Didominasi oleh pohon kemiri, yang dalam bahasa Makassar disebut dengan nama poko sapiri (pohon kemiri). Pepohonan ini tumbuh subur di sekitaran pekuburan Beroanging. Sapiri inilah yang kemudian menjelma menjadi nama sapiria.
Wilayah yang cukup dekat dengan pasar ini, tergolong rentan dengan kondisi rumah yang berpetak-petak kecil dan fasilitas begitu minim. Telah beberapa kali terjadi kebakaran di daerah ini.
Warga RW 2 kampung Sapiria yang tersebar di empat RT berjumlah 320 kepala keluarga (KK), dengan jumlah penduduk sekitar 1.115 jiwa. Tingkat pendidikannya rerata sekolah dasar dan sekolah menengah.
”Mata pencaharian warga di sini sebagian besar buruh harian lepas atau sekitar 65 persen. Mereka bekerja di pasar, pelabuhan dan pekerja bangunan. Sementara sisanya berjualan, mengurus rumah tangga dan pengangguran,” terang Sumardi.
Sejak peristiwa kebakaran di tahun 2014 yang menghanguskan hampir seluruh rumah, kata Sumardi, banyak warga yang mengalami tekanan hidup yang berat. Kondisi ini memaksa mereka mencari jalan pintas untuk mendapatkan penghasilan guna menghidupi keluarga dan membangun kembali rumahnya.
Hingga pada akhirnya ada yang menggeluti bisnis haram narkoba. Melalui jaringan yang tersebar di beberapa wilayah Kota Makassar hingga beberapa wilayah lainnya di Sulsel dan Indonesia timur, pekerjaan ini masih mereka geluti hingga saat ini.
Diakui Sumardi, berbagai upaya pembinaan telah dilakukan oleh Pemkot Makassar dengan melibatkan dinas terkait, pemerintah kecamatan dan kelurahan. Mulai dari membina generasi muda melalui pelatihan sablon, perbengkelan, konstruksi hingga home industri oleh Dinas Ketenagakerjaan Kota Makassar dan BNN Provinsi Sulsel.
Ada juga proyek padat karya melalui penataan kawasan kumuh oleh PNPM perkotaan. Termasuk sejumlah kegiatan lain yang masih sementara berlangsung oleh pemerintah Kecamatan Tallo dan Kelurahan Lembo, yakni pembinaan mental spiritual warga lorong dan pengecetan penataan lorong melalui program Bulo (Badan Urusan Lorong) dan Longgar (Lorong Garden) melalui pendekatan partisipatif.
Dinas Sosial Kota Makassar langsung menindaklanjuti rencana pemkot untuk mengubah Kampung Sapiria dari kampung narkoba menjadi aman. Menurut Kadis Sosial Muhtar Tahir, Kampung Sapiria memang perlu segera ditata untuk menjadi lebih baik. Menghadirkan program, seperti kampung aman salah satu upaya yang dinilai bisa mengubah Sapiria.
“Kita masih perlu kordinasi bersama SKPD lain. Jelasnya, ini harus terpadu. Bersama-sama kita turun jadikan kampung Sapiria lebih baik lagi. Kalau kami di Dinsos Kota Makassar siap jalankan program wali kota,” kata Muhtar Tahir.
Untuk saat ini, Muhtar Tahir masih mencari tahu alur-alur program yang nantinya dihadirkan wali kota di tahun 2018. Dinsos akan mengambil peran dengan memberikan pemahaman kepada warga Sapiria. (jun-arf/rus)
Kampung Sapiria
Harus segera Ditata
MAKASSAR, BKM — Imej tak baik disematkan di Kampung Sapiria. Daerah yang berada di Kelurahan Lembo, Kecamatan Tallo, Kota Makassar ini begitu lekat dengan kasus penyalahgunaan narkoba. Seperti apa sebenarnya kondisi terkini daerah tersebut?
Sejak berpisah dengan Kelurahan Pannampu sebagai kelurahan induk di tahun 1993, Kampung Sapiria yang sebelumnya masuk wilayah RW 06, berubah menjadi RW 02 Kelurahan Lembo. Nama Sapiria sudah dikenal sejak lama, saat masa awal-awal kemerdekaan.
Menurut Sumardi, Ketua RW 02, tempat yang ia tinggali kini dahulunya merupakan daerah yang banyak ditumbuhi pepohonan. Didominasi oleh pohon kemiri, yang dalam bahasa Makassar disebut dengan nama poko sapiri (pohon kemiri). Pepohonan ini tumbuh subur di sekitaran pekuburan Beroanging. Sapiri inilah yang kemudian menjelma menjadi nama sapiria.
Wilayah yang cukup dekat dengan pasar ini, tergolong rentan dengan kondisi rumah yang berpetak-petak kecil dan fasilitas begitu minim. Telah beberapa kali terjadi kebakaran di daerah ini.
Warga RW 2 kampung Sapiria yang tersebar di empat RT berjumlah 320 kepala keluarga (KK), dengan jumlah penduduk sekitar 1.115 jiwa. Tingkat pendidikannya rerata sekolah dasar dan sekolah menengah.
”Mata pencaharian warga di sini sebagian besar buruh harian lepas atau sekitar 65 persen. Mereka bekerja di pasar, pelabuhan dan pekerja bangunan. Sementara sisanya berjualan, mengurus rumah tangga dan pengangguran,” terang Sumardi.
Sejak peristiwa kebakaran di tahun 2014 yang menghanguskan hampir seluruh rumah, kata Sumardi, banyak warga yang mengalami tekanan hidup yang berat. Kondisi ini memaksa mereka mencari jalan pintas untuk mendapatkan penghasilan guna menghidupi keluarga dan membangun kembali rumahnya.
Hingga pada akhirnya ada yang menggeluti bisnis haram narkoba. Melalui jaringan yang tersebar di beberapa wilayah Kota Makassar hingga beberapa wilayah lainnya di Sulsel dan Indonesia timur, pekerjaan ini masih mereka geluti hingga saat ini.
Diakui Sumardi, berbagai upaya pembinaan telah dilakukan oleh Pemkot Makassar dengan melibatkan dinas terkait, pemerintah kecamatan dan kelurahan. Mulai dari membina generasi muda melalui pelatihan sablon, perbengkelan, konstruksi hingga home industri oleh Dinas Ketenagakerjaan Kota Makassar dan BNN Provinsi Sulsel.
Ada juga proyek padat karya melalui penataan kawasan kumuh oleh PNPM perkotaan. Termasuk sejumlah kegiatan lain yang masih sementara berlangsung oleh pemerintah Kecamatan Tallo dan Kelurahan Lembo, yakni pembinaan mental spiritual warga lorong dan pengecetan penataan lorong melalui program Bulo (Badan Urusan Lorong) dan Longgar (Lorong Garden) melalui pendekatan partisipatif.
Dinas Sosial Kota Makassar langsung menindaklanjuti rencana pemkot untuk mengubah Kampung Sapiria dari kampung narkoba menjadi aman. Menurut Kadis Sosial Muhtar Tahir, Kampung Sapiria memang perlu segera ditata untuk menjadi lebih baik. Menghadirkan program, seperti kampung aman salah satu upaya yang dinilai bisa mengubah Sapiria.
“Kita masih perlu kordinasi bersama SKPD lain. Jelasnya, ini harus terpadu. Bersama-sama kita turun jadikan kampung Sapiria lebih baik lagi. Kalau kami di Dinsos Kota Makassar siap jalankan program wali kota,” kata Muhtar Tahir.
Untuk saat ini, Muhtar Tahir masih mencari tahu alur-alur program yang nantinya dihadirkan wali kota di tahun 2018. Dinsos akan mengambil peran dengan memberikan pemahaman kepada warga Sapiria. (jun-arf/rus)