PEMUDA menjadi bagian penting dalam berbagai aspek. Salah satunya sebagai pelestari budaya.
Namun, di era modern seperti saat ini, tidak banyak anak muda yang tertarik untuk terjun menekuni budaya peninggalan nenek moyang. Dari sedikit pemuda yang menjadi bagian dari pelestari budaya itu, Arif Rahman Dg Rate adalah salah satunya.
Menariknya lagi, yang ia pilih adalah sinrili’. Budaya tradisional asal Sulawesi Selatan yang nyaris hilang ditelan modernisasi zaman.
Sinrili’ adalah seni bertutur atau seni bercerita menggunakan alat musik keso-keso yang tumbuh di kalangan masyarakat Makassar. Sinrili’ sendiri adalah media untuk menyampaikan kisah-kisah atau petuah-petuah leluhur dalam masyarakat Makassar.
Dulunya, sinrili’ digunakan untuk menyampaikan kisah-kisah kepahlawanan maupun kisah-kisah romantis yang berlatar belakang sejarah. Contohnya kisah Datu Museng dan Maipa Deapati.
Semasa kecilnya, Dg Rate yang kini berusia 27 tahun memang sering diceritakan kisah-kisah dongeng oleh ayahnya. Ibunya juga kerap mendendangkan musik-musik Bugis-Makassar. Dari sanalah kecintaannya terhadap seni budaya lokal tumbuh, dan saat ini ia berhasrat untuk terus melestarikannya.
Pada 2010 lalu ia berguru pada seorang penggiat seni budaya sinrili’ bernama Syaifuddin Dg Tutu. Bersama gurunya, Dg Rate menampilkan sinrili’ dengan tidak menggunakan naskah standar yang ada. Tidak pula harus ditampilkan dalam waktu yang panjang. Tema dan narasi sinrili’ pun bisa membahas apa saja. Inilah yang Arif sebut sinrili’ kontemporer.
Banyak tema yang bisa diusung dalam sinrili’ kontempoer ini. Misalkan saja tentang kerusakan lingkungan. Bahasa yang digunakanpun menyesuaikan. Bisa bahasa Bugis atau Makassar. Bis juga bahasa Indonesia. Bahkan bisa pula memakai bahasa Inggris. Tergantung dari audiens yang hadir.
“Biasanya kalaunya tentang tema kerusakan lingkungan, saya ambil banyak data dari jurnal dan artikel mengenai itu. Bahasa yang digunakan juga mengikuti siapa yang hadir. Menggunakan bahasa Inggris pun bisa,” kata Arif.
Atas kecintaannya akan budaya lokal ini, Arif terhitung telah dua kali mementaskan sinrili’ di kegiatan kepemudaan yang dilaksanakan di Malaysia dan Jepang. Di Malaysia, ia hadir dalam rangka pertukaran pemuda.
Di sana Arif berkesempatan menampilkan sinliri’ dengan membawakan narasi keserumpunan antara Bugis-Makassar dan Malaysia. Sedangkan di Jepang, ia menyampaikan narasi perdamaian. Juga seruan tentang reaksi terhadap pengembangan nuklir yang digunakan untuk perang.
Berbicara tentang pemuda masa kini, Arif mencoba mengaitkannya dengan pengembangan seni budaya lokal, khususnya di Sulawesi Selatan. Baginya, peran pemuda saat ini perlu diapresiasi dibandingkan dengan satu dekade sebelumnya. Di mana kalangan senior lebih mendominasi pagelaran seni budaya.
“Sekarang sudah cukup baik. Misalkan, berbagai pertunjukan seni tradisional tidak lagi didominasi kalangan senior atau orang-orang tua. Sekarang generasi muda sudah mulai kembali berperan menjaga dan melestarikan kesenian tradisional di Sulsel,” jelas Arif.
Ditambahkan olehnya, anak muda saat ini sudah mulai tak tinggal diam dalam peranan melestarikan budaya leluhur. Hanya saja, yang masih menjadi kendala baginya adalah keterbatasan ruang bagi anak muda bisa mengekspresikannya.
Bagi Arif, anak muda sekarang butuh ruang yang lebih dan wadah yang sedemkian rupa sehingga bisa menyalurkan bakatnya dengan maksimal. (nug/rus/b)
Arif Rahman, Pelestari Budaya Sinrili’
