AWALNYA, Febriansa tak pernah berpikir membangun sekolah untuk anak-anak pemulung. Semuanya bermula ketika ia dan teman-teman komunitasnya rutin tiap Jumat membagikan makanan gratis di sekitar wilayah tersebut untuk para kaum dhuafa.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
FEBRIANSA adalah alumni Jurusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Makassar (UNM). Dari aktivitas sosial bersama komunitasnya, ia akhirnya tergugah melihat kondisi di kawasan pemukiman kumuh para pemulung.
Di situ ada banyak anak-anak yang ia jumpai. Setelah mencari informasi lebih jauh, ternyata banyak dari mereka yang tak bersekolah. Alasan ekonomi membuatnya tak mampu melanjutkan pendidikan.
Sekolah Impian yang didirikan pertengahan tahun 2017 ini sekarang memiliki 35 siswa. Semuanya adalah anak-anak sekitar sekolah yang masih usia TK. Selama proses pengajaran, banyak hal-hal unik yang dilalui oleh Febriansa beserta dua gurunya.
Dari segi sikap, ternyata anak-anak pemulung ini sedikit lebih baik dibanding siswa di sekolah favorit. Setidaknya begitulah penilaian Febriansa.
Pandangan itu cukup beralasan. Sebab Febriansa pernah mengajar cukup lama di salah satu sekolah favorit di Makassar. Dia mencoba memberi sedikit perbandingan karakter anak-anak ini.
Menurutnya, siswa di sekolah favorit yang pernah ia ajar memang memiliki kecerdasan yang lebih. Namun, terkadang ada diantara mereka yang suka melawan gurunya. Selain itu, siswa di sekolah favorit biasanya ingin lebih selalu bermain.
Sebaliknya, para siswa di Sekolah Impian memang belum terlalu cerdas, tapi sangat patuh kepada gurunya. Mereka juga sangat bersemangat sekali dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.
“Siswa di sekolah favorit yang pernah saya ajar memang cerdas, tapi kadang suka melawan dan banyak main. Berbeda di sini. Walaupun belum terlalu cerdas, tapi sangat patuh sama gurunya. Perlahan, Insya Allah kelak mereka akan berguna bagi nusa dan bangsa,” kata Febriansa optimistis.
Pengalaman lain yang diperoleh, banyak dari murid Sekolah Impian yang bahkan tidak mandi saat akan mengikuti proses belajar. Walaupun para guru kerap mengingatkan pentingnya mandi pagi, namun anak-anak tersebut sepertinya tak terlalu memperhatikan kesehatan tubuhnya.
Terkadang juga ada siswa yang tidak membawa bekal. Namun, saling berbagi seakan telah membudaya di sekolah ini. Sebelum makan pun,para guru selalu mengingatkan siswanya untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Dan masih banyak lagi hal menarik yang kerap dilakukan oleh para siswa.
“Hal menarik lainnya itu, biasanya anak-anak sering sekali okkots (salah ucap). Kalau bilang kemarin, biasa nabilang kemaring,” kata Febriansa sambil tertawa.
Ada fakta yang didapati Febriansah dan komunitasnya selama mendirikan Sekolah Impian. Ibu-ibu dari anak yang jadi murid sekolahnya terkadang ikut duduk di atas balai-balai bambu yang ukurannya hanya 4×5 meter. Akibatnya, anak-anak belajar sampi berdempet-dempetan.
”Ternyata, orang tua siswa ini juga ingin sekali ikut belajar. Karena diantara mereka ada yang tidak bisa membaca. Makanya, ke depan kita juga berencana memberikan pembelajaran untuk ibu-ibu di sini,” terang Febriansa.
Yang menjadi kekurangan terbesar di Sekolah Impian, menurut Febriansa, yaitu area bermain. Jika TK pada umumnya biasa menyediakan area bermain dan alat-alat permainan, namun di Sekolah Impian ini tidak ada sama sekali.
Padahal, alat bermain semisal ayunan, jungkat jangkit dan lainnya dapat memacu perkembangan motorik halus dan kasar anak.
Febriansa berharap, dalam waktu yang tidak terlalu lama, area dan alat bermain sudah ada. Selanjutnya, akan dipikirkan lagi untuk membuat SD, SMP bahkan SMA Sekolah Impian di dekat lokasi tersebut. (*/rus/b)
