Site icon Berita Kota Makassar

Yatim Sejak Kecil, Bantu Bersihkan Bawang di Pasar

TAK ada satupun manusia yang bisa memastikan seperti apa hidupnya kelak. Jika dulunya mengalami kesulitan ekonomi, bukan tidak mungkin kondisi itu akan berubah menjadi lebih baik. Sebuah kerja keras menjadi jawabannya.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

PADA salah satu sudut Jalan Boulevard. Tepat di depan Mal Panakkukang Makassar. Sebuah rumah toko (ruko) menjual berbagai makanan khas daerah dan aneka kue.
Tempat itu bernama “Dapur Mama Putri”. Pemiliknya Sutanti Mokodongan. Lebih akrab disapa Anti.
Sejatinya, wanita usia 40 tahun ini berasal dari Kota Manado. Namun sejak SMA ia telah berdomisili di Kabupaten Sidrap. Kemudian berhasil mengembangkan usahanya di Kabupaten Gowa sejak 2011 lalu. Hingga pada awal 2017, ia bersama tiga rekannnya yang lain di Celebes Cooking & Baking Community (CCBC) memiliki tempat di Jalan Boulevard Makassar.
BKM menemui Anti di tempat usahanya tersebut. Di bagian dalam sengaja didesain dengan nuansa menarik. Cocok bagi semua kalangan. Penataan ruangan yang memasukan klasik dan modern, membuat tempat ini memiliki daya tarik sendiri untuk para pengunjung. Baik yang sekadar ingin nongkrong, ataupun mengisi perut.
Meja dan kursi yang terbuat dari kayu, serta dinding dengan gambar wallpaper berbagai ikon negara, dijamin akan menambah kenyamanan pengunjung. Tidak heran jika tempat selalu sesak dipadati pengunjung jika sore hari tiba.
Didampingi suaminya Muhammad Basri, Anti tak sungkan menceritakan siapa dirinya yang sebenarnya. Mulai dari kisahnya sewaktu kecil, bagaimana ia membangun usahanya, hingga pencapaiannya kini. Satu hal yang bisa dipelajari darinya, bahwa kesuksesan itu tidak bisa dicapai dalam waktu yang singkat.
Dapur Mama Putri saat ini memiliki empat orang karyawan. Omzetnya per bulan bisa mencapai puluhan juta rupiah. Bahkan pada bulan ramadhan lalu, dari hasil penjualan kue kering saja, ia bisa meraup omzet hingga Rp200 juta.
Hal ini menjadi sebuah berkah tersendiri baginya. Karena di masa kecilnya, kehidupan keluarga Anti lumayan ‘susah’.
Sejak kecil, Anti telah menjadi anak yatim. Ayahnya meninggal dunia ketika ia duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Kondisi ini membuat ibunya harus banting tulang memenuhi kebutuhan Anti dan enam saudaranya yang lain. Berjualan makanan menjadi pilihan sang bunda kala itu.
Seiring perjalanan waktu, Anti harus diasuh oleh omanya. Setiap pulang sekolah ia pun harus membantu sang oma yang berjualan buah. Namun jika sedang tidak membantu berjualan, Anti kerap pergi ke pasar untuk membantu para pemasok bawang di sana membersihkan bawang-bawangnya.
“Di pasar dulu itu kan ada tempat grosir bawang yang belum bersih. Yang masih ada daun sama akar-akarnya. Nah, saya sama teman-teman biasa ke sana bersihkan bawang. Untuk anak-anak kecil saat itu bisa dapat Rp200 per hari. Lumayanlah,” kenang Anti. (*/rus/b)

Exit mobile version