HOBI yang dijalankan dan dikelola dengan baik akan memberikan penghasilan. Bukan sebaliknya, mengeluarkan biaya lebih untuk melakoni hobi tersebut.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
PROFESI yang paling disukai adalah pekerjaan sesuai hobi. Bukannya membuat jenuh, pekerjaan yang dilakukan berdasarkan hobi malah akan memberi gairah tersendiri dalam menjalankannya.
Begitu pula dengan Anti. Hobi masak telah mengantarkan dirinya memiliki sebuah usaha yang beromzet hingga puluhan juta rupiah. Bahkan pernah menyentuh ratusan juta.
Anti bercerita, dulunya ia hanya hobi memasak dan membuat berbagai kue. Awalnya ia hanya menyediakan kue-kue buatannya bagi teman-temannya. Beberapa diantaranya pun suka dan menyarankan Anti untuk menjadikannya sebuah usaha.
Karena saat itu Anti belum paham tentang pengelolaan usaha, maka ia hanya menerima pesanan dari temannya saja. Saat ada yang memesan, ia hanya menerima modal seadanya sesuai jumlah kue yang ingin dibuatkan.
Jadi usaha ini mulai tanpa modal sama sekali. Lama kelamaan, di tahun 2009 dan 2010 ia mulai menjual kuenya secara online melalui aplikasi BBM.
“Dulu kan belum paham tentang usaha. Jadi begitu ada keuntungan Rp100 ribu atau Rp200 ribu senang sekalimi. Saya pergi belanjakanmi itu semua. Padahal kan seharusnya tidak begitu. Harus ada disisakan untuk usaha,” tuturnya.
Anehnya, saat itu Anti malah merasa tidak cocok dengan usaha yang digelutinya. Ia pun kemudian berubah haluan dan berjualan pakaian sistem grosir. Karena tak memiliki tempat usaha, Anti memasarkan dagangannya juga melalui sistem dalam jaringan (daring) alias online.
Tak puas hanya melalui daring, ia juga kadang berkeliling ke berbagai daerah memasarkan baju dagangannya. Pernah sampai di Takalar, Sidrap, Bulukumba, bahkan Sinjai.
Lambat laun ia kembali berhenti dari usaha penjualan pakaian grosirnya. “Berhenti saat itu karena banyak yang berutang. Jadi tidak bisa berputar uang,” kata Anti.
Sampai akhirnya ia memutuskan untuk kembali berbisnis kuliner. Anti pun mulai belajar mengelola bisnis secara profesional kala itu. Banyaknya pelatihan kewirausahaan yang diadakan oleh pemerintah Kota Makassar tak disia-siakan olehnya.
Ia mulai berjualan kue dadar, pancake, dan lain-lain mulai 10 sampai 20 biji perharinya. Makin hari orderannya kain bertambah. Sampai ada yang memesan 100 kotak kue waktu itu.
Seiring perjalanan waktu, Anti pun mulai merambah ke beberapa bisnis kue ulang tahun dan nasi tumpeng. Hingga akhirnya ia mencoba kuliner makanan.
Saat ini Dapur Mama Putri sendiri menjual berbagai makanan khas dari bermacam daerah. Seperti bubur Manado, soto Betawi, hingga tum ayam dan sebagainya. Ada juga aneka minuman, seperti es teler, aneka jus, salad buah, dan sebagainya. Termasuk aneka kue seperti klappertart, lapis, pie dan sebagainya.
Anti berharap kelak kelak usahanya semakin lancar. Yang menjadi inti dari kesuksesannya selama ini ia katakan adalah kesabaran. “Kita sudah malang melintang ke sana kemari. Intinya, kami selalu sabar karena rezeki dari Tuhan itu pasti ada,” kunci Anti. (*/rus/b)