MAKASSAR, BKM — Proyek kereta api terus berlanjut. Kendati saat ini masih dalam proses pembangunan trayek atau rel di Kabupaten Barru, namun sejumlah daerah yang akan dilewati juga mulai mempersiapkan diri.
Salah satunya adalah Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar. Pemkot mulai melakukan persiapan pembebasan lahan proyek Kereta Api Trans Sulawesi. Diperkirakan rel kereta api yang melintas di Makassar sepanjang enam kilometer.
Jalur ini dimulai dari perbatasan Makassar-Maros, tepatnya di Sungai Tangkejangan daerah Pattene Kecamatan Biringkanaya sampai lokasi Makassar New Port (MNP), tepatnya di sepanjang pantai.
Wakil Wali Kota Makassar, Syamsu Rizal mengungkapkan pihaknya telah mulai melakukan tahapan sosialisasi, sambil menunggu finalisasi lokasi yang dilewati oleh jalur kereta api.
“Pada prinsipnya kita sudah sampaikan ke semua pemilik lahan di lokasi yang diperkirakan akan dilalui jalur kereta api untuk bersiap-siap. Pak lurah dan camatnya juga sudah menghitung nilai NJOP,” katanya baru-baru ini di Kawasan PT IKI.
Pihaknya berharap pemilik lahan tak menaikkan harga saat proses pembebasan nanti. Pasalnya, proyek KA yang menghubungkan Makassar-Parepare memiliki nilai manfaat yang penting.
“Kita ingatkan pemilik lahan untuk tidak macam-macam termasuk menaikkan harga lahannya karena ini proyek nasional,” ungkapnya.
Meski demikian Daeng Ical panggilan akrab Syamsu Rizal menyebutkan saat ini masih ada dua opsi untuk jalur rel di Kota Makassar. Apakah melalui laut atau dibangun di darat.
Terkait kepastian ini, pihaknya masih menunggu keputusan final dari Kementerian Perhubungan. “Ada dua alternatif, tapi inikan belum finalisasi,” ujarnya.
Sebelumnya, Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo melirik investor dari Korea Selatan (Korsel) untuk mendanai keberlanjutan proyek Kereta Api Trans Sulawesi.
“Dari berbagai hal yang saya lihat, Korea (Korsel) cukup ‘green’ (ramah lingkungan), mempunyai reputasi dan tidak merepotkan siapa-siapa,” kata Syahrul yang ditemui di Makassar.
Gubernur dua periode ini mengatakan, ada beberapa negara yang sangat tertarik menanamkan investasinya untuk proyek besar ini, namun pihaknya lebih memilih investor dari Korsel.
“Kalau saya ditanya saya ingin Korea, tapi tentu saja yang memutuskan adalah pemerintah pusat,” tuturnya.
Pihaknya, kata Syahrul, juga sudah memutuskan desain kereta yang akan digunakan pada proyek tersebut.
“Desainnya tentu saja masih akan dibicarakan dalam tingkat yang lebih tinggi,” kata dia.
Sebelumnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, tender proyek Kereta Api Trans Sulawesi Makassar-Parepare akan ditawarkan ke swasta nasional dan swasta asing mulai Februari 2018.
Menhub dalam kunjungan kerjanya di Makassar baru-baru ini mengatakan, saat ini pihaknya tengah mempersiapkan dokumen untuk penawaran tender tersebut.
Dia menjelaskan saat ini tengah dilakukan penyelesaian untuk 47 kilometer pertama yang ditargetkan akan rampung akhir tahun ini.
Sementara itu, sekitar 100 kilometer sisanya akan ditawarkan kepada swasta nasional dan asing melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU).
Saat ini pemerintah melalui Kementerian Perhubungan telah menganggarkan Rp4 teiliun untuk penyelesaian 47 kilometer tersebut yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Kemudian, kebutuhan dana sekitar Rp4 triliun-Rp5 triliun akan didapatkan dari KPBU tersebut.
“Pemerintah menyediakan Rp2 triliun, yaitu Rp1,4 triliun tahun ini dan Rp600 miliar tahun depan,” katanya.
Dia menambahkan pihaknya juga akan menyuntikan dana subsidi berupa PSO untuk belanja modal untuk menstimulus investor agar mau menamakan modalnya.
“Kita harapkan proyek ini memberikan ‘income’ (pemasukan), nanti kita bantu dengan PSO untuk menambah belanja modal,” katanya. (rhm)
