MAKASSAR, BKM — Peluang pasangan bakal calon gubernur dan wakil gubernur Sulsel, Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar (IYL-Cakka) untuk mendapatkan rekomendasi dari Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat Susilo Bambang Yudoyono (SBY) terus disoal. Bahkan dihalangi.
Setelah mereka menerima surat tugas dari DPP Demokrat yang ditandatangani Sekretaris Jenderal (Sekjen) Hinca Panjaitan, banyak komentar, kritikan hingga protes bermunculan. Tak sedikit yang meragukan surat yang hanya diteken Hinca Panjaitan. Bahkan ada juga yang ingin memanggil dan mengadili Hinca dalam sidang kode etik.
Terakhir, Ketua Harian DPP Demokrat Syarif Hasan memberi komentar. Ia menegaskan, surat tugas untuk IYL-Cakka bisa saja berubah menjadi rekomendasi. Sebaliknya, bisa pula membatalkan agar rekomendasi beralih ke kandidat lain.
Setelah itu, kritik serta protes datang dari mantan Ketua DPD Demokrat Sulsel Ilham Arief Sirajuddin (IAS). Dari Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung, IAS yang diusung sebagai calon gubernur di pilgub 2013 lalu menyurati sang pendiri Demokrat SBY.
Dalam surat tersebut, IAS yang juga pernah tercatat sebagai wali kota Makassar dua periode memberikan gambaran bila IYL pernah berhadapan dengan dirinya, keluarganya maupun kader Demokrat dalam sejumlah kontestasi.
Hanya saja, IAS yang ingin dihubungi terkait surat tersebut tidak berhasil dikonfirmasi. Namun, kakak kandung IAS, Syamsu Bachri Sirajuddin membenarkan bila surat untuk SBY tersebut memang ditulis oleh IAS.
“Betul, surat itu dari IAS, sebagai apresiasi dari banyaknya kader Demokrat yang menghubungi, bahkan datang ke Sukamiskin dengan berbagai alasan dan cara. Mereka menolak surat tugas Demokrat ke IYL,” ujar Ancu, panggilan akrab Syamsu Bachri.
Menurut Ancu, sebagai mantan ketua Partai Demokrat, dia (IAS) merasa perlu untuk memberikan keterangan. “Jadi begitulah jadinya,” tandasnya.
Ketua DPD Demokrat Sulsel Ni’matullah Erbe yang dimintai tanggapannya soal banyaknya kritik, protes hingga aksi demo yang menolak agar IYL-Cakka mendapatkan surat tugas, apalagi rekomendasi dari DPP, menanggapi dengan santai.
“Sebagai partai besar tentu memiliki dinamika yang juga tentu besar. Ini dinamika dan konsekwensinya sebagai sebuah partai yang besar,” ujar Ulla, panggilan akrab Ni’matullah.
Pada saat syukuran yang digelar IYL pada Jumat pekan lalu, mantan bupati Gowa dua periode ini sudah menyampaikan kepada pendukungnya bila masih ada kekuatan yang mahadahsyat akan datang dari arah kiri, kanan, depan, belakang hingga atas dan bawah yang terus mengganggunya untuk maju di pilgub.
‘Tapi saya tidak takut dengan manajemen manusia. Kecuali itu dari Tuhan,” jelas IYL.
Ichsan yang dimintai tanggapannya soal surat IAS, hanya tersenyum. Ia berusaha menikmati akhir pekannya dengan memilih bersantai di salah satu mal di Makassar, Minggu (5/11).
Bersama sejumlah tim dan kerabatnya, Punggawa, julukan yang disematkan ke IYL, nampak menikmati momen kebersamaan ini. Itu terlihat saat IYL nongkrong di salah satu cafe hingga meluangkan waktu menonton di studio XXI.
IYL yang mengenakan kemeja bermotif kotak-kotak, ditemani sejumlah kerabat dekatnya. Seperti Ketua PMI Parepare Taqyuddin Djabbar, Ketua Umum Abdi Merah Putih Andi Ian Latanro, akademisi Unhas Dr Lulu, serta lainnya.
“Setiap ada waktu lowong, memang saya sering sempatkan untuk bersantai, baik bersama keluarga, maupun dengan kerabat,” kata IYL di Trans Mal, tanpa memberi tanggapan soal surat IAS.
Selama di mal, IYL juga mendapat sambutan hangat dari sejumlah pengunjung. Tidak sedikit yang memintanya berfoto bersama. Termasuk penonton di studio XXI.
Sebelum ke Trans, IYL terlebih dahulu menjenguk orangtuanya, Hj Nurhayati Yasin Limpo di Jalan Haji Bau, Makassar. Selama beberapa jam, ia nampak bercengkrama dengan Unda, sapaan akrab Nurhayati. (rif)
Surat Tugas IYL-Cakka Disoal, Ni’matullah Santai
