KASUS kekerasan dan kejahatan yang kerap dilakukan sejumlah sopir angkutan umum yang ada di Jawa berimbas pada aktivitas Petepete di daerah ini. Para penumpang, khususnya perempuan takut jika ingin naik petepete sendirian.
Laporan: AGHITS RENALDY
Namun tidak semua sopir angkot berperilaku jahat, bahkan banyak yang membantu penumpangnya jika kekurangan uang untuk ongkos naik petepete. Seperti halnya yang dilakukan Daeng Nirwan sopir petepete jurusan Pabaengbaeng-Sentral.
Pria berumur 60 tahun itu seringkali membantu penumpangnya jika tidak memiliki uang cukup untuk membayar ongkos petepete. “Aturannya mereka membayar jauh dekat Rp5 ribu. Tapi kadang ada penumpang hanya mengantongi uang Rp3 ribu, dan saya tetap terima. Sebab rezeki akan mengalir dimanapun kita berada selama kita membantu orang,” jelas Daeng Nirwan di depan penulis.
Bahkan cerita bapak dua orang anak ini, ia sempat melihat dompet yang terjatuh diatas mobilnya dan mengembalikan ke pemiliknya. “Waktu itu saya ingin beristerahat karena kelelahan seharian membawa mobil. Saat ingin tidur sambil menyandarkan kepala ke setir mobil tiba-tiba melihat dompet laki-laki di bawah jok mobil. Isinya tidak seberapa, hanya yang berharga surat-surat yang ada dalam dompet,” jelasnya.
Tanpa pikir panjang, ia mengembalikan dompet tersebut di rumah pemilik dompet di Jalan Mappala. “Pemilik dompet sangat berterima kasih setelah saya mengembalikan. Pasalnya, KTP yang ada dalam dompet sangat dibutuhkan untuk melamar pekerjaan. Kalau membantu orang pasti kita juga akan dibantu oleh Allah,” katanya.
Hanya saja memang, masih ada penumpang perempuan yang tidak ingin naik petepete jika dalam keadaan kosong. Mungkin mereka takut atau apalah. “Biasa nak’, ada penumpang ku perempuan tidak mau naik kalau petepete dalam keadaan kosong tanpa penumpang. Mungkin dia takut, padahal tampangku tidak menakutkan ji apalagi kita ini orang tua,” tanyanya.
Tidak menetunya penumpang membuat penghasilan daeng Nirwan ikut tidak menentu. Belum lagi jika mobil petepete daeng Nirwan rusak di tengah jalan. Daeng Nirwan akan kehilangan pendapatannya dikarenakan penumpang yang turun untuk mencari petepete lain. Ditambah biaya perbaikan yang ditanggung sendiri oleh daeng Nirwan. Di jaman sekarang mencari nafkah sebagai supir petepete semakin sulit, dikarenakan menjamurnya angkutan transportasi online di kota-kota besar seperti Makassar. Itulah yang membuat daeng Nirwan lebih tekun mencari penumpang, bahkan sampai hampir tengah malam.
Daeng Nirwan hidup bersama dua orang anak di sebuah rumah yang dia sewa di Jalan Mappala. Sedangkan sang istri telah meninggal tujuh bulan lalu.
Pendapatan Daeng Nirwan dalam sehari biasanya sekitar Rp300 ribu sampai Rp350 ribu. Namun itu hanya pendapatan kotor saja. Karena daeng Nirwan harus membagi pendapatan dengan sang pemilik mobil sebesar Rp80 ribu perhari. Belum lagi daeng Nirwan harus membeli bensin sekitar Rp120.000. Jadi daeng Nirwan hanya membawa pulang uang sekitar Rp100 ribu untuk dipakai membeli beras dan lauk pauk. Semenjak ada angkutan berbasis dalam jaringan (Daring) atau selama ini disebut online, pendapatan Daeng Nirwan menurun dikarenakan adanya saingan tersebut. Itulah yang dikeluhkan beberapa supir petepete termasuk Daeng Nirwan. Pendapatan daeng Nirwan sekarang hanya sekitar Rp100 ribu sampai Rp120 ribu saja perharinya, Jika dikurangi dengan uang sewa mobil, Daeng Nirwan hanya menerima sekitar Rp50.000 yang hanya cukup untuk makan saja. Belum lagi Daeng Nirwan harus membayar biaya sewa rumah senilai Rp500.000 perbulan. Untungnya biaya sewa rumah dapat ditutupi oleh kedua anaknya yang kebetulan sudah bekerja.(*)