MAKASSAR, BKM — Kekalahan PSM dari Bali United pada kompetisi Liga I di Stadion Andi Mattalatta, Senin malam (6/11) menjadi topik hangat dibicarakan.Tak terkecuali antara Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo dengan Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto. Danny berkunjung ke ruang kerja gubernur, Selasa (7/11).
Kendati kalah dari Bali United, Danny Pomanto mengaku tetap bangga kepada PSM. Menurutnya, kesebelasan Juku Eja sudah bermain maksimal, namun memang belum takdirnya untuk menang.
Mestinya, kata Danny, PSM bisa menang 3-1 seperti prediksinya sebelum laga berjalan. Namun, kelihaian dan ketangguhan kiper Bali United yang ciamik dalam mempertahankan gawangnya agar tidak bobol, patut diapresiasi.
“Seharusnya skor semalam itu 3-1 untuk PSM. Tapi penjaga gawangnya Bali United jago pertahankan gawang,” ungkapnya.
Kendati demikian, Danny mengaku tetap respek dengan performance PSM, terutama pengelolanya. “Tidak gampang itu kelola sepakbola, ” ungkapnya.
Sementara itu, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo lebih banyak menjadi pendengar saat Danny bercerita soal pertandingan Senin malam.
Kepada wartawan, dia mengatakan tidak bisa memberi komentar banyak mengenai penampilan PSM melawan Bali United. Pasalnya, orang nomor satu Sulsel itu tidak menonton pertandingan tersebut.
Menurutnya, dia tidak terlalu mengikuti perkembangan PSM. Termasuk kekalahan tim sepakbola kebanggaan warga Sulsel itu saat laga kandang di Stadion Andi Mattalatta Mattoanging.
“Maaf saya tidak ikutin tuh. PSM kalah yah? Saya baru dengar juga kalau PSM kalah. Saya kira dia menang. Saya tidak bisa banyak komentar. Apa yang bisa saya komentari? Saya tidak nonton,” cetusnya.
Pengamat sepakbola Makassar Sumirlan, menilai kekalahan PSM atas Bali United di laga ke 23 Liga Indonesia Gojek Traveloka 2017 memang sangat menyakitkan. Tapi yang mesti disyukuri adalah peran besar CEO PSM Munafri Arifuddin dalam membangun tim seperti saat ini patut diacungi jempol.
Apalagi selama kompetisi berlangsung, PSM tidak pernah keluar dari lima besar klasemen. Olehnya itu, kegagalan mengangkat tropy musim ini tak perlu disesali secara berlebihan. Sebab penampilan tim lawan juga sangat bagus.
Mendatangkan pemain dengan kualitas mumpuni menjadi torehan prestasi bagi Appi. Karena hal ini tidak pernah bisa dilakukan manajemen sebelumnya dalam mengelola PSM.
”Kegagalan PSM kali ini sesungguhnya hanyalah keberhasilan yang tertunda,” katanya, kemarin.
Terkait reaksi suporter atas kekalahan tersebut, juga harus dimaklumi. Kekecawaan atas kegagalan PSM menjuarai liga musim ini sebagai bentuk perhatian serius bagi tim.
”Mereka kecewa pasti karena suporter merupakan bagian terbesar di PSM,” jelas Sumirlan.
Sementara Jenderal Lapangan Gabungan Suporter Makassar Bismar, menilai kegagalan PSM kali ini harus menjadi dasar bagi manajemen. Terutama pelatih Robert Rene Albert untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap timnya.
Evaluasi mutlak dilakukan, kata dia, karena ada beberapa sektor yang begitu mudah ditembus pemain depan lawan.
”Di sayap kanan yang ditempati Zulkifli Syukur menjadi PR bagi Robert. Mobilitas Zulkifli tidak sebaik saat masih membela Timnas dan Mitra Kukar. Jadi sudah saatnya regenerasi,” tandasnya.
Pengamat sepakbola lainnya Yopi Lumoindong, menyebut kekalahan PSM akan berdampak bagi pemain, manajeman, bahkan suporter sendiri. Tataran manajeman klub yang telah yakin 99 persen juara, harus gigit jari melihat hasil pertandingan kemarin.
”Hasil yang diperoleh PSM tentu akan berdampak negatif bagi semua, terutama tataran manajemen. Para pemain juga pasti akan terganggu secara psiklogis, karena sebelum pertandingan terlalu yakin akan mengalami kemenangan,” jelasnya.
Padahal, menurut Yopi, materi pemain kedua tim sama. Permainan PSM juga bahkan dinilai baik. Terutama menit 30 sampai 40.
Namun di atas menit 40, para pemain justru terlihat serba frustasi. Apalagi Pluim yang menjadi tokoh sentral permainan PSM terus ditutup pergerakannnya oleh para pemain Bali United.
Di babak kedua, permainan PSM yang mulai bermain terbuka, sedangkan Bali United justru bermain tertutup. Susahnya menembus barisan pertahanan Bali United membuat para pemain PSM di 10 menit terakhir terlihat begitu frustasi.
”Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan para pemain Bali United yang hanya mengandalkan serangan balik. Sehingga di detik-detik terakhir pemain PSM kehilangan konsentrasi dan harus mengakui keunggulan Bali United,” tandasnya.
Yopi menganggap bahwa strategi yang diterapkan Bali United sudah benar, namun tidak dengan strategi PSM. “Pelatih PSM terlalu ngotot untuk menang. Sementara yang sedang dihadapi adalah salah satu tim terbaik, bukan tim papan bawah. Harusnya seri saja sudah menjadi hasil yang baik,” kata Yopi.
”Secara teknis, pemain PSM begitu overconfidence. Padahal mental, konsentrasi, dan psikologi sangat penting jika ingin juara. Tapi itulah sepakbola, tetap jempol buat PSM,” tambahnya. (rhm-nug/rus)
PSM Kalah, Danny Tetap Bangga
