Site icon Berita Kota Makassar

SYL akan Selidiki Penyebab Kelangkaan Elpiji

MAKASSAR, BKM — Sejak sebulan terakhir, elpiji 3 kg cukup langka di pasaran. Selain langka, harganya pun meningkat cukup tajam.
Pada skala pengecer, harga per tabung bisa mencapai Rp25 ribu. Padahal Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah hanya sekitar Rp15 ribu.
Menyikapi persoalan ini, Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo akan melakukan pemantauan peredaran bahan bakar gas itu di lapangan.
Menurut orang nomor satu Sulsel itu, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Pertamina untuk sama-sama melihat kondisi di lapangan seperti apa untuk mencari tahu penyebab kelangkaannya.
“Sudah ada informasi saya peroleh jika elpiji langka di pasaran. Tapi saya butuh data konkrit di daerah mana saja terjadi. Saya siap serbu (peninjauan langsung), soalnya sejauh ini Pertamina masih terus komunikatif melaporkan,” ujar Syahrul di kantornya jalan Urip Sumoharjo Makassar, Kamis (9/11).
Syahrul mengakui pihaknya tidak bisa memantau 24 jam, namun akan berusaha segera menyelesaikan persoalan ini.
“Tentu tidak bisa dikontrol 24 jam, yang penting pemerintah tidak diam dan ada di semua situasi yang ada,” pungkasnya.
Sebelumnya, gejolak kebutuhan masyarakat terjadi setelah sejumlah warga mengeluh terhadap langkanya gas bersubsidi tersebut.
Salah seorang pedagang pengecer di Jalan Paccerakang, Mahmud (54), mengeluh lantaran kurangnya pasokan elpiji 3 kg.
Menurut Mahmud, kurangnya pasokan membuat dirinya sulit untuk melayani konsumen pengguna gas 3 kg tersebut. Selain itu, dirinya harus membeli gas elpiji 3 kilo gram ini dengan harga mahal.
“Ini sudah dua minggu kurang pasokannya. Saya beli mahal dari harga jualnya, makanya saya juga jualnya mahal,” ungkapnya.
Menanggapi hal itu, PT Pertamina, melalui Area Manager Communication & Relation Pertamina Sulawesi, Hermansyah Y Nasroen mengklaim distribusi elpiji 3 kilogram hingga hari ini normal tanpa adanya pengurangan stok.
Tentu hal ini bertolak belakang dengan kondisi di lapangan. Hermansyah mengatakan, volume elpiji 3 kg yang disalurkan di bulan Oktober 2017 khusus Sulsel sebanyak 6.553.997 tabung atau setara rata-rata harian sebesar 252.077 tabung/hari.
Jumlah tersebut, kata dia, telah sesuai dengan rata-rata penyaluran elpiji 3 kg tiap bulannya. Penyaluran elpiji 3 kg ini sesuai kuota yang ditentukan oleh pemerintah.
“Penyaluran kita tetap, tidak ada pengurangan,”ujar Hermansyah melalui pesan whatsapp, kemarin.
Ia menjelaskan, sebanyak 117 agen sebagai perpanjangan penyaluran gas bersubsidi tersebut dari 7.909 pangkalan. Adapun aktivitas pengisiannya dilakukan di 15 SPPBE (Stasiun Pengisian & Pengangkutan Bulk Elpiji) dan saat ini berjalan lancar tanpa kendala.
Pihaknya pun menduga, kelangkaan elpiji 3 kg hanya terjadi di pengecer bukan di pangkalan resmi.
Olehnya itu, pihaknya mengimbau masyarakat membeli elpiji 3 kg di pangkalan terdekat sesuai harga eceran tertinggi yakni Rp15.500. Sebab pengecer bukan jalur distribusi resmi Pertamina.
“Pertamina sebagai badan usaha yang ditugaskan menyediakan dan mendistribusikan elpiji 3 kg, hanya melakukan pengawasan pendistribusian hingga ke tingkat agen dan pangkalan, tidak sampai ke tingkat pengecer,” jelasnya. (rhm)

Exit mobile version