KESULITAN kerap melanda di awal memulai usaha. Banyak rintangan mesti dihadapi oleh mereka yang masih pemula. Umi pun mengalami hal serupa.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
SUMIARA lahir di Kabupaten Kepulauan Selayar, 24 Juni 1993. Ia menamatkan pendidikan di SDN Unjuruiya Selayar, SMPN 3 Bontomate’ne dan SMKN 1 Benteng Selayar. Kemudian menyelesaikan kuliah S1 di Universitas Muhammadiyah Makassar.
Jika bicara emping, kampung halaman Umi lah tempatnya. Awalnya bukan Mpingchip namanya. Dimulai tahun 2016 lalu, Umi bersama rekannya bernama Syaifullah dan Dirwan mendirikan sebuah usaha keripik melinjo yang mereka namai Nuhalenjo. Awalnya lancar. Namun hanya bisa bertahan selama dua bulan saja.
Adanya perbedaan pendapat diantara mereka membuat usaha ini hampir tak bisa dilanjutkan. Dirwan akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja sama dengan Umi dan Syaifullah.
Hal tersebut, diakui Umi sebagai sesuatu yang wajar dalam sebuah usaha. Apalagi jika masih dalam proses merintis. Pada saat itu usahanya benar-benar kacau. Keluarnya Dirwan sangat berpengaruh pada produksi, pemasaran, dan omzetnya yang semakin menurun.
Namun Umi tak mau menyerah. Bersama Syaifullah, ia pun mendirikan usaha serupa yang diberi nama Mpingchips. Umi juga mengajak temannya yang lain, Nurlindah untuk bekerja sama membangun usahanya.
Saat mulai mengadakan sosialisasi pengemasan produk di Kabupaten Kepulauan Selayar, Umi bertemu dengan beberapa petani melinjo. Umi dan rekan-rekannya pun kemudian menjalin kerja sama dengan para petani melinjo yang ada di sana. Berkat kerja sama yang terjalin ini pula, usaha Mpingchips pun semakin bergairah.
Dengan hanya bermodalkan Rp1 juta, Mpingchips generasi pertama diproduksi sebanyak 80 bungkus saja setiap hari. Masing-masing 40 bungkus rasa jagung bakar dan 40 bungkus rasa pedas manis.
Hasil produksi tersebut tidak hanya dijual secara langsung. Tapi juga melalui media online seperti Facebook, Instagram, dan website.
Lika-liku Mpingchips juga mulai terasa ketika para pendirinya mulai pecah konsentrasi dalam proses mengurus usahanya. Umi yang mulai mengurus pendidikannya, dan Syaifullah yang juga menggeluti bisnis lain, membuat usaha ini hampir bangkrut.
Walaupun sedikit kendur, tekat Umi dan rekan-rekannya masih bisa tetap dijaga. Hal itu pulalah, yang dikatakan Umi menjadi salah satu kunci mempertahankan usaha.
Berselang beberapa lama, perlahan-lahan Mpingchips mulai dikenal di Makassar. Dikatakan Umi, pelan namun pasti para pemesan Mpingchips makin meningkat. Bahkan Umi pun mulai kesulitan memenuhi pesanan yang masuk.
“Alhamdulillah, setelah berbagai halangan dalam pendiriannya, perlahan usaha kami mulai menampakkan hasil juga,” kata Umi.
Salah satu kunci kesuksesan dari brand Mpingchips ternyata adalah produknya yang unik dan menarik dari segi pemasaran. Selain itu, Umi dan rekan-rekannya juga pandai memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh jejaring dengan baik. Hasilnya, produk Mpingchips pun dapat dikenal masyarakat hingga saat ini. (*/rus/b)
