JENEPONTO, BKM — Kabupaten Jeneponto telah berhasil menjadi swasembada pangan. Swasembada dimaksud memberikan kontribusi terhadap ketersediaan pangan di Sulsel khususnya komoditi tanaman pangan. Demikian disampaikan Kadis Pertanian Jeneponto, H Ahmad, saat acara Empo Sipitangarri musim tanam 2017/2018 yang dibuka Bupati Jeneponto, H Iksan Iskandar yang dihadiri Kadis Ketahanan Pangan Provinsi Sulsel, Andi Parenrengi, Wabup Mulyadi Mustamu, Ketua DPRD, Muh Kasmin, Dandim 1425, HR sugiri, serta peserta rembug Sipitangari. Juga hadir pPara anggota Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) serta para penyuluh pertanian se Kabupaten Jeneponto di gedung Sipitangarri, Rabu (15/11).
Misal ubi kayu, kata Ahmad, peringkat ketiga tertinggi di Sulsel sebesar 81.877 ton atau 19,66 persen, peringkat ketiga jagung sebanyak 254.008 ton atau 12,30 persen, peringkat ketiga produksi ubi jalar sebanyak 7.289 ton atau 10,21 persen, peringkat ketiga produksi kacang hijau sebesar 4.559 ton atau 13.63 persen, peringkat keenam produksi kedelai sebesar 2.340 ton atau 3,78 persen, dan peringkat kedelapan produksi kacang tanah sebesar 508 ton atau 1,73 persen.
Sedangkan untuk luas lahan sawah di Sulsel yang luasnya mencapai 656.610 hektare sudah termasuk di dalamnya 16.853 hektare berada di Jeneponto yang sudah ditanami dua kali dalam setahun.
Bupati Jeneponto, H Iksan Iskandar, mengatakan, target swasembada pangan sudah terealisasi tahun ini yang ditunjukkan pula dengan ketiadaan impor beras. ”Ke depan, tantangan yang kita hadapi yaitu bagaimana kemudian kita dapat berdaulat pangan. Sehingga diperlukan gerakan nasional dan daerah. Karena itu saya mengajak masyarakat dan kita semua untuk mempedomani hasil rumusan Empo Sipitangarri sebagai acuan dalam pelaksanaan kegiatan usaha tani di Kabupaten Jeneponto,” jelas Iksan Iskandar. (krk/mir/c)