Site icon Berita Kota Makassar

Siap Antar Mayat Kecelakaan dan Bunuh Diri

SOPIR mobil ambulance yang kerapkali mengantar jenazah adalah profesi yang cukup membutuhkan keberanian dan nyali kuat. Karena diprofesi tersebut menuntut pekerjanya bertemu dan bersentuhan langsung dengan mayat di Rumah Sakit (RS).

Sore sekira pukul 16:40, Selasa (14/11), suasana di RS Stella Maris cukup ramai. Dari luar di Instalasi Gawat Darurat (IGD), terdengar isak tangis. Suaranya terdengar dari sebuah lorong dekat IGD. Hujan yang turun di waktu itupun menambah rasa penasaran penulis mencari asal suara tangisan. Dan benar saja dari dalam sebuah bangunan kecil tampak seorang ibu duduk di kursi kayu panjang dan menangis. Sesekali kain kerudung berwarna kuning yang dipakai menutupi kepalanya dipakai mengusap air matanya.
Ruangan yang ditempati ibu itu adalah ruangan tunggu jenazah. Bukan cuma ibu tua saja, di samping ibu ada anak perempuan dan laki-lakinya ikut meneteskan air mata. Sementara tampak juga petugas dari rumah sakit silih berganti masuk di sebuah ruangan yang tidak begitu luas. Dalam ruangan terdapat sesosok jenazah yang siap diberangkatkan di Sulawesi Tengah.
“Bagaimana ibu, sudah siap berangkat atau masih menunggu pihak keluarga datang ?,” tanya Faisal, seorang sopir ambulans pengantar jenazah dari Yayasan Kerukuran Keluarga Soppeng (KKS).
Sementara ibu tua berkerudung kuning tampak lemas dan bahkan tidak mampu menjawab pertanyaan dari sopir. Hanya isak tangis dan tetesan air mata yang ada. Namun seorang anak perempuannya berucap “Iya kita tunggu keluarga dulu datang,” sahutnya.
Disela-sela waktu menunggu pihak keluarga jenazah dari Kota Palu datang ke Makassar, Faisal mempersilakan penulis masuk di sebuah ruangan yang menjadi tempat berkumpulnya sopir ambulans dan pengurus jenazah di RS Stella Maris. Menuju ke ruangan tersebut lebih dekat melalui ruang jenazah, namun di depan ruang jenazah aroma formalin cukup terasa. Tidak cuma itu, peti-peti jenazah juga tampak tersusun rapi.
Ruangan yang cuma berukuran lebar empat meter dan panjang tiga meter menjadi tempat berkumpul setiap waktu para sopir ambulans dan pengurus jenazah. Dan disitu Faisal mengingat kembali awal dirinya menjadi sopir ambulans pengantar jenazah dan pengalaman-pengalamannya.
Bekerja sebagai sopir ambulans pengantar jenazah tidak dibenarkan memilih kondisi mayat yang ingin diangkut, sebagai konsekuensi profesi harus selalu siap mengantar mayat yang membutuhkan pelayanan ambulans mulai mayat berdarah karena kecelakaan, bunuh diri, dibunuh atau karena sakit.
Bagi awam profesi itu cukup menyeramkan, tetapi ketika sudah sering dilakukan maka fobia bertemu dan bersama mayat sekalipun kondisinya penuh dengan darah dapat hilang. Karena hal tersebut pernah dirasakan Faisal ketika pertama kali terjun di lapangan mengantar jenazah dari RS ke rumah duka.
Meski dikatakan dimasa kecilnya dulu sering bermain di samping mobil ambulans yang terparkir depan rumahnya, namun rasa merinding tetap tidak terhindarkan sewaktu pertama kali mengantar jenazah.
“Sekarang rasa takut sudah tidak ada lagi, karena sudah terbiasa, dan menurut saya takut hanyalah sugesti saja,” ucap suami Dewi Amelia.
Sudah cukup lama bapak enam orang anak itu menggeluti profesinya sebagai sopir ambulans pengantar jenazah, dimulai sejak 1995. Meski telah berulang kali mencoba beralih ke pekerjaan lain seperti driver bank dan menjadi pengawas pembuatan kerupuk, walhasil kembali menjadi sopir ambulans pengantar jenazah. Mungkin saja ini takdirnya mencari nafkah dan rezekinya. Karena dengan menjadi sopir ambulans dia berhasil menyekolahkan satu anaknya di tingkat SMA, dan empat anaknya lagi masih sementara bersekolah.
Di Yayasan KKS, Faisal dulunya ditempatkan sebagai operator. Tugasnya saat itu hanya menerima orderan ambulans melalui telepon. Yayasan KKS sendiri adalah salah satu usaha pelayanan jasa sewa ambulans dan pengiriman jenazah, kantornya dulu berlamat di Jalan Tinumbu.
Tidak mengenal waktu, tengah malampun dia harus siap menerima telepon masuk dan menyambungkan ke sopir-sopir ambulans di RS. Tetapi posisi sebagai operator cukup singkat dirasa Faisal, hanya beberapa bulan saja bekerja sebagai operator, dia diminta menjadi sopir ambulans pengantar jenazah dan standby 1 × 24 jam menunggu orderan. Ini menjadi tantangan baru dan harus dihadapi.
Dua RS menjadi tempat kumpulnya menunggu orderan masuk yaitu, RS Wahidin Sudirohusodo dan RS Stella Maris. Hanya beberapa jam saja menunggu orderan di awal beralihnya menjadi sopir ambulans, orderanpun masuk. Faisal yang saat itu berada di RS Wahidin Sudirohusodo diminta datang ke RS Stella Maris mengantar jenazah.
Berdua dengan kernet, dia mengantar jenazah ke rumah duka yang pada waktu itu masih dalam Kota Makassar. Tidak banyak waktu dibutuhkan, diapun berhasil jalankan tugasnya dengan baik dan lancar. Kerena jam kerjanya belum selesai, maka sesampainya di RS tidak banyak nafas ditarik usai melaksanakan tugas pertamanya. Alasannya tugasnya belum selesai dan harus kembali standby mengantar jenazah.
“Alhamdulillah waktu pertama kali jadi sopir lancar, dan memang perlu adanya adaptasi. Kalau sudah biasa pasti tidak tegang. Di depan rumah memang dulu ada mobil jenazah, jadi dari kecil sampai besar sudah biasa dekat mobil jenazah. Saya dulu suka main dekat mobil jenazah jadi biasalah,” jelas Faisal di hadapan juniornya di samping kamar mayat, RS Stella Maris.
Bukan cuma di dalam Kota Makassar saja, pengalaman lainnya pernah mengantar jenazah sampai ke Gorontalo, Sulawesi Utara melalui jalur darat. Untuk sampai di Gorontalo, Faisal bersama kerneknya menghabiskan waktu selama tiga hari di jalan bersama jenazah yang terbaring dalam keranda. Bincang kecil terus dilakukan guna memecahkan heningannya malam di perjalanan.
Disaat waktu makan malam di warung, Faisal bersama kerneknya menyempatkan beristirahat dan tidur secara bergantian. Lalu melanjutkan kembali perjalanan ketika kondisi fisik segar.
“Pernah saya tidur di keranda mayat dan waktu itu saya di tengah perjalanan Gorontalo ke Makassar selesai antar jenazah. Hitung-hitung menghemat pengeluaran juga. Lagian di keranda bagus ji, ada bantal dan kasurnya busa,” tambahnya. (arf)

Exit mobile version