Site icon Berita Kota Makassar

Mars Komit Dukungan Pengembangan Kakao di Sulsel

MAKASSAR, BKM — Bagi para penggemar coklat, tentu sudah tidak asing lagi dengan produk coklat bercita rasa tinggi, seperti Snicker’s, Dove, Wrigley’s, Whiskas, Pedigree, dan Royal Canin. Ternyata, produk coklat yang dihasilkan produsen coklat ternama di dunia, Mars Inc, bahan bakunya berasal dari Sulsel.
Bagi Mars Inc, Indonesia khususnya Sulawesi Selatan memiliki arti penting dalam kemajuan dan keberlangsungan usahanya di daerah ini. Sementara itu, baik Wakil Presiden, HM Jusuf Kalla maupun Gubernur Sulsel, H Syahrul Yasin Limpo (SYL), sama-sama memberi apresiasi positif atas upaya PT Mars Symbioscience Indonesia kembali membangun pusat penelitian dan pengembangan tanaman kakao di Sulsel.
Pusat penelitian pertama dibangun di Tarengge, Kabupaten Luwu Timur tahun 2010 lalu. Sedangkan pusat penelitian kakao (Cocoa Research Center/CRC) kedua dibangun di Attang Salo, Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkep. Groundbreaking atau peletakan batu pertama pembangunannya telah dilakukan Wapres Jusuf Kalla (JK), Sabtu (18/11).
Menurut JK, kehadiran pusat penelitian ini memiliki arti sangat penting dalam upaya mendorong peningkatan jumlah produksi kakao. Karena produksi kakao di Indonesia masih sangat rendah, yakni hanya dikisaran 600 ribu sampai 700 ribu ton pertahun. Jumlah ini sangat jauh di bawah jika dibandingkan dengan beberapa produsen kakao lainnya di dunia yang mencapai kisaran dua juta sampai tiga juta ton pertahun.
”Kalau kita ingin menyamai jumlah produksi kakao di negara lainnya, tentu ini menjadi tantangan tersendiri bagi para petani maupun kalangan perusahaan untuk meningkatkannya. Nah, lewat pusat penelitian seperti inilah yang akan memberi dampak kepada para petani dalam meningkatkan produktivitasnya,” tandas JK.
Begitu pula dengan SYL, menilai, kalau PT Mars telah turut berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi di Sulsel. Ini terbukti, selama beberapa tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Sulsel selalu jauh di atas dari pertumbuhan rata-rata secara nasional. Bahkan, pertumbuhannya yang terbaik di seluruh Indonesia.
Untuk merealisasikan Pusat Penelitian Kakao Pangkep yang menempati area seluas 95,2 hektare, Mars merogoh dana sebesar USD4 juta atau setara Rp50 miliar. Di tempat ini, Mars berharap dapat lebih jauh mengembangkan genetika kakao yang unggul dan tahan hama.
”Investasi di Pangkep ini adalah fasilitas penelitian kakao kedua di Indonesia. Hal ini berkaitan erat dengan bagaimana Mars menerapkan prinsip bisnisnya secara nyata, khususnya pada prinsip mutualitas. Kakao telah membuka lapangan kerja bagi lebih dari 6,5 juta keluarga petani di seluruh Afrika, Amerika Selatan, dan Asia Tenggara. Namun, 40 persen produksi kakao menurun karena serangan hama, penyakit dan praktik pertanian yang kurang tepat. Jika Mars dan seluruh pemain industri tidak mengubah kondisi ini dan membuka lapangan kerja bagi petani, maka tidak akan ada petani yang ingin menanam kakao dan pada akhirnya kakao akan punah. Kami berharap melalui Pusat Penelitian Kakao di Pangkep dapat mengubah keadaan ini,” kata Frank Mars, Board of Directors of Mars Inc.
Arie Nauvel Iskandar, Direktur Corporate Affairs Mars Symbioscience, mengatakan, perjalanan Mars di Indonesia menandakan kuatnya hubungan Mars dengan berbagai pihak. Khususnya dengan komunitas petani dan pemerintahan.
Mars akan terus meningkatkan kontribusinya di Sulsel dan terus berinvestasi untuk mentransfer teknologi dan pengetahuan demi meningkatkan taraf hidup petani, melanjutkan pengembangan yang selama ini telah dilakukan selama 15 tahun.
Dalam lima tahun terakhir, melalui empat Pusat Pengembangan Kakao atau Cocoa Development Center (CDC) di Sulsel, Mars telah melatih 120 Cocoa Doctor yang kemudian mengedukasi dan memberikan pembinaan kualitas kakao kepada 12.000 petani di desa mereka.
Selain itu, Mars juga aktif bekerja sama dengan delapan sekolah kejuruan untuk mengembangkan dan mempertahankan kurikulum kakao guna mendorong generasi muda untuk terlibat dalam perkebunan dan usaha kakao. Kakao merupakan bahan baku penting yang digunakan produk Mars di seluruh dunia.
Bisnis pasar coklat di Indonesia tercatat cukup besar. Angkanya mencapai Rp3,5 triliun hingga Rp3,7 triliun per tahun. Selain itu, nilai bisnis coklat tersebut masih berpeluang tumbuh sangat besar, mengingat tingkat konsumsi coklat di Indonesia masih rendah, yakni 420 gram per kapita per tahun.
”Konsumsi coklat di Inggris mencapai 10 kg per kapita, Arab Saudi saja sekitar hampir 2 kg per kapita. Padahal menurut World Consumption Studi 2015 coklat menempati posisi pertama sebagai rasa makanan yang paling disukai di dunia, setelah itu ayam, vanila, keju baru kemudian daging sapi. Artinya potensi pasar yang coklat di Indonesia masih terbuka lebar untuk digarap,” kata Gemita Pasaribu, Country Marketing Manager Mars Chocolate Indonesia.(mir)

Exit mobile version