Site icon Berita Kota Makassar

Bermula dari Pisang Nugget Buatan Istri

DARI sebuah usaha yang telah menggapai sukses, ada segudang kisah menyertainya. Bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. Meniti dari bawah membuat seseorang berbeda dengan yang lain. Demikian pula dengan Yusuf.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

BAKAT berwirausaha Yusuf sepertinya telah terasah sejak ia masih duduk di bangku sekolah. Kala itu, alumni Fakultas Peternakan Unhas ini kerap membantu pamannya dalam berjualan.
Sepulang sekolah, Yusuf sudah terbiasa menjaga sekaligus menjajakan produk dari toko kosmetik milik pamannya. Hal itulah yang menjadikannya terampil dalam berbisnis.
Usaha yang pertama kali digeluti Yusuf adalah es cincau. Namun, saat itu ada temannya yang mengomentari bahwa usaha seperti itu tak cocok jika tak dibarengi dengan penjualan makanan atau cemilan. Atas dasar itu, Yusuf lalu mencoba mengembangkan usahanya.
Kemudian ia mencoba peruntungan dalam menjual donat kentang. Awalnya biasa saja. Tapi setelah dua bulan berjalan, keuntungan pun urung didapatkan. Yusuf akhirnya menghentikan usaha tersebut.
Suatu hari, Yusuf bersama istrinya mengunjungi salah satu supermarket di kota ini. Mereka saat itu melihat ada pisang nugget yang dijual di tempat tersebut. Sang istri lalu berkata ke suaminya, bahwa dirinya juga bisa membuat makanan serupa. Nah, dari sinilah kisah Pisang Nugget Barokah bermula.
Beberapa hari berselang, istri Yusuf benar-benar mencoba membuat pisang nugget buatannya. Pertama dicoba, rasanya enak. Yusuf lalu membagikan beberapa pisang nugget buatan istrinya kepada para tetangga. Ternyata respon mereka sangat luar biasa.
“Waktu selesai buat pisang nugget, saya dan istri cobami bagikan ke tetangga. Ternyata banyak yang bilang enak. Tetangga lainnya juga bilang enak. Akhirnya kita sepakat untuk mencoba usaha pisang nugget,” kenang Yusuf.
Namun, harapan tak sesuai kenyataan. Awalnya, pisang nugget milik Yusuf tidak laku terjual. Bahkan suatu hari kerap tak ada yang membeli sama sekali.
Tapi Yusuf tak menyerah. Ia tetap menggelutinya, sembari berharap pisang nugget jualannya mendapat hasil positif.
Cara lain coba diterapkannya. Ia mengajak beberapa anak-anak yang ada di sekitar rumahnya untuk membantunya berjualan. Mereka berkeliling menjual pisang nugget buata istri Yusuf.
“Anak-anak di sini biasa saya panggil. Mereka anak-anak SD. Biasa lima sampai tujuh anak itu yang bantuka di sini dulu,” terang Yusuf.
Selain menjualnya secara keliling, Yusuf juga menitipkannya di berbagai kantin sekolah yang ada tak jauh dari rumahnya. “Ada sekitar 10 sekolah juga yang ada di sekitar sini saya titip pisang nuggetku waktu itu,” tambahnya.
Pola ini ternyata mampu mengembangkan usaha Yusuf. Kian hari omzetnya terus bertambah. Apalagi setelah bergabung dengan sebuah aplikasi online. Ia juga menggunakan gerobak yang ditempatkan pada beberapa supermarket di Makassar.
Meski begitu, bukan berarti tak ada pengalaman buruk yang ditemuinya. Pernah suatu ketika, ada seorang pelanggan yang memesan dan meminta untuk diantarkan. Yusuf pun melayaninya. Setelah pisang nugget telah dibuat dan hendak diantarkan, Yusuf mencoba menghubunginya guna meminta transaksi pembayaran. Namun apa mau dikata, si pemesan enggan mengaktifkan lagi nomornya. Yusuf tak bisa menghubunginya. Saat itu dia hanya bisa pasrah dan menjadikannya sebuah pelajaran.
Kini usahanya telah berkembang pesat. Ada aneka pisang nugget yang disediakan. Mulai dari rasa keju, coklat, sampai palem suker ia produksi di tempatnya. Ada pula berbagai minuman seperti es cappucino cincau, pop ice dan sebagainya.
Cabang Pisang Nugget Barokah pun kini ada di empat tempat berbeda. Yakni di Jalan Kerung-kerung, Gunung Tinggimae, Sukamulya, dan Jalan Tupai. Omzet yang telah mencapai Rp54 juta dengan enam orang karyawan, telah membuktikan keberhasilan Yusuf dalam berusaha. (*/rus/b)

Exit mobile version