Site icon Berita Kota Makassar

Perdastri Temukan Restoran dan Laundry Gunakan Elpiji 3 Kg

GOWA, BKM — Gegara gas tabung isi 3 Kg disebut-sebut langka di masyarakat dalam beberapa pekan terakhir, membuat jajaran Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Perdastri) Kabupaten Gowa turun inspeksi mendadak (sidak).
Sidak dimulai pagi hingga siang, sejumlah aparat Dinas Perdastri melakukan sidak ke sejumlah tempat usaha di wilayah Gowa. Sasaran Sidak dinas yang dipimpin Andi Sura Suaib ini adalah restoran, rumah makan, serta usaha laundry.
Rasa penasaran dinas Perdastri kalau elpiji 3 Kg langka disebabkan banyaknya penggunaan yang tidak sesuai dengan kapasitas yang telah ditentukan pemerintah padahal tabung isi 3 Kg ini hanya diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu atau miskin, ternyata benar.
Tabung kemasan 3 Kg ternyata digunakan pula usaha menengah ke atas, seperti restoran, rumah makan, serta laundry. Salah satu usaha yang menjadi tempat sidak Dinas Perdastri adalah restoran CK yang terletak di Jalan Sultan Hasanuddin, Kelurahan Pandang-pandang, Kecamatan Somba Opu.
Kadis Perdastri Gowa, Andi Sura Suaib yang memimpin sidak ini kemarin, mengatakan, sidak dilakukan untuk memantau langsung peredaran atau penggunaan elpiji 3 Kg di tengah masyarakat.
”Beberapa pekan ini ada laporan kalau peredaraan elpiji 3 Kg itu tidak tepat sasaran. Tabung isi 3 Kg hanya diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu. Namun kenyataannya, ada beberapa pelaku usaha seperti restoran, rumah makan, dan usaha laundry, usaha peternakan dan pertanian yang menggunakannya. Makanya, kami langsung pantau untuk dicek kebenarannya,” jelas Andi Sura.
Dikatakan, pemantauan ke sejumlah rumah makan dan restoran ini juga dilakukan untuk menindaklanjuti Permen Energi dan Sumber Daya Mineral No 26 tahun 2009 dan surat edaran Gubernur Sulsel tentang penyaluran elpiji 3 Kg agar tepat sasaran. Dimana, para pelaku usaha dan PNS tidak diperbolehkan menggunakannya dan harus menggunakan elpiji berukuran 5 sampai 12 Kg.
”Dari hasil sidak yang dilakukan di lapangan, kami menemukan satu rumah makan di wilayah Somba Opu yang menggunakan elpiji 3 Kg serta ada dua pengusaha laundry yang juga menggunakan elpiji 3 Kg. Padahal, itu dilarang. Kami sudah memberikan teguran langsung dan para pemilik usaha tersebut berjanji akan beralih menggunakan tabung ukuran 5,5 Kg atau 12 Kg sesuai aturan berlaku,” tambah Andi Sura.
Terpisah, Kabid Perdagangan Dinas Perdastri, Muh Rais menambahkan, pemantauan ini akan terus dilaksanakan untuk memulihkan kembali arus penggunaan elpiji sesuai peruntukannya. Selain itu, pihaknya juga akan melaksanakan operasi pasar bekerjasama Pertamina. (sar/mir/c)

BPBD Maros Bentuk Relawan Sungai

MAROS, BKM — Memasuki musim hujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
Kabupaten Maros membentuk relawan sungai. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi bencana banjir di Maros yang terjadi hampir tiap tahun. Pembentukan relawan sungai ini dilakukan saat BPBD Maros menggelar apel siaga bencana di Lapangan Pallantikang Kabupaten Maros, Rabu (22/11).
Kepala BPBD Kabupaten Maros, Frans Johan, mengatakan, relawan sungai ini dibentuk untuk mengantisipasi dan sebagai upaya pencegahan banjir. Relawan ini bertugas memastikan warga Kabupaten Maros tidak ada lagi yang membuang sampah di sungai.
”Bukan hanya memantau warga, tapi juga pabrik-pabrik perusahaan, jangan sampai
ada yang membuang limbahnya ke sungai. Tugas mereka juga senantiasa mengimbau
untuk menjaga kebersihan sungai. Jika ada pelanggaran, mereka bisa melaporkan
ke pihak berwenang,” papar Frans.
Jumlah relawan sungai yang dibentuk sebanyak 30 orang. Selain relawan sungai, BPBD juga memiliki relawan desa tangguh bencana (Destana) yang berada di dua kecamatan, yakni Desa Mattirodeceng, Kecamatan Lau dan Desa Bontotallasa, Kecamatan Simbang.
Sedangkan personel internal BPBD yang siap 24 jam sebanyak 45 orang dengan kendaraan operasional 4 buah dan perahu karet 4 buah. Peta rawan bencana juga telah dimiliki BPBD. Untuk bencana banjir, kecamatan yang rawan adalah Lau, Bontoa, Turikale dan sebagian Bantimurung. Sedangkan daerah Camba, Cenrana dan Mallawa rawan terjadi longsor.
”Kalau di Maros itu paling sering banjir dan angin puting beliung. Dua bencana itu selalu terjadi tiap tahun,” ujar Frans.
Apel siaga bencana ini dipimpin langsung Bupati Maros, HM Hatta Rahman. Apel ini digelar untuk mengecek kesiapan BPBD Maros dan seluruh stakeholder menghadapi bencana. Mengingat sudah masuk musim penghujan dan bencana banjir serta angin puting beliung terjadi hampir tiap tahun di Maros.
Hatta mengatakan, Kabupaten Maros mewaspadai bencana banjir besar seperti yang terjadi lima tahun silam. Menurutnya, siklus banjir besar terjadi setiap lima tahun.
”Awal 2013 lalu kita tahu banjir besar terjadi di Maros. Sehingga ini perlu kita waspadai pada Januari 2018 mendatang. Langkah-langkah antisipasi diperlukan dan seluruh stakeholder dapat bersinergi terhadap bencana yang akan datang. Kesiapan kita bukan karena kita berharap bencana terjadi. Tapi diperlukan antisipasi jika terjadi bencana untuk mencegah korban jiwa dan kerugian materil,” papar Hatta.
Apel siaga bencana ini disambut guyuran hujan yang sangat deras. Namun peserta apel siaga tidak bergeming hingga apel siaga selesai. (ari/mir/c)

Exit mobile version