JIKA menilik masa depan dunia, masyarakatnya pasti akan sangat dekat dengan teknologi. Begitupun di Indonesia. Perkembangan teknologi di negara ini begitu pesat. Salah satu buktinya, kini kita tidak bisa lepas dari berbagai jenis peralatan elektronik.
LAPORAN: NUGROHO NAFIKA KASSA
BERBAGAI kompetisi dilaksanakan dengan tema teknologi. Baik perangkat lunak maupun keras. Kompetisi unik seperti lomba perakitan mobil, robot, hingga pembuatan roket juga intens digelar.
Lomba terakhir yang disebutkan cukup unik, karena memadukan antara teknologi dan kemampuan meganalisis antariksa. Salah satu pemuda yang pernah mengikuti kompetisi ini ada di Makassar. Naja namanya Iris Sumariyanto. Ia bahkan sudah empat kali berturut-turut mengikuti kompetisi tersebut.
Ditemui di kediamannya Jalan Skarda N Blok A nomor 4, Iris mengakui jika ia bersama teman-temannya rutin mengikuti kompetisi yang diadakan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) ini. Dia menceritakan dengan rinci bagaimana awalnya dirinya antusias membuat roket, hingga akhirnya mendapat penghargaan dari hasil karyanya.
Iris lahir di Toabo, Mamuju, 26 Agustus 1992. Putra dari pasangan Muh Nasir M dan Nursia ini tidak sendiri ketika membuat roket. Ia dibantu oleh dua orang rekannya. Masing-masing Andry Anzari dan Muh Mario Basirung. Bersama-sama mereka mengikuti Komurindo yang diadakan Lapan.
Komurindo adalah kompetisi tahunan rancang bangun muatan roket dan roket EDF. Even ini diselenggarakan sejak 2009.
Dalam ajang ini, para peserta ditantang untuk membangun suatu sistem monitoring dan pengukuran yang stabil, akurat, dan presisi di bidang peroketan.
Komurindo dibagi dalam tiga kategori. Yakni kategori roket EDF, roket muatan, dan Kompetisi Muatan Balon Atmosfer (Kombat). Iris pernah meraih penghargaan di kategori Roket Muatan pada tahun 2015.
Tercatat, Iris telah mengikuti kompetisi ini sejak tahun 2014. Kemudian berturut-turut pada 2015, 2016, dan terakhir 2017.
Di tahun 2015 silam, ia beserta temannya meraih penghargaan berupa roket dengan desain terbaik dalam kategori roket muatan.
Dalam pelaksanaannya, roket muatan ini telah disediakan oleh pihak panitia, namun diisi dengan muatan yang dirancang sendiri oleh Iris dan teman-temannya. Perangkatnya berbentuk tabung yang bisa terbang sampai ketinggian empat kilometer.
Iris pun mengisi muatan roketnya dengan berbagai komponen. Mulai dari kamera, sensor untuk mengukur suhu dan kecepatan angin, sensor IMU, mikrokontroler, dan arduino. Roket ini dirancang dalam bentuk payload, dan memakai salah satu zat cair yang digunakan sebagai pemicu roket tersebut untuk terbang.
Iris mengungkapkan ada beberapa alasan mengapa ia menggeluti dunia roket. Salah satunya adalah ia ingin memajukan dunia kedirgantaraan di Indonesia, yang menurutnya masih bisa terus dikembangkan. Selain itu, roketnya pun dikatakan sesuai dengan visi dan misi Lapan selama ini. (*/nug/b)
