Site icon Berita Kota Makassar

Tinggalkan Aliyah, Agus Gandeng Nurpati

MAKASSAR, BKM — Optimisme masih dimiliki Agus Arifin Nu’mang. Wakil gubernur Sulsel dua periode itu tetap akan maju di kontestasi pemilihan pemilihan gubernur (pilgub) Sulsel, 27 Juni 2018 mendatang lewat jalur partai politik.
Penegasan itu ia sampaikan kepada wartawan di posko pemenangannya Media Bagus di Jalan AP Petta Rani, Minggu (26/11). Hadir dalam acara ini mantan komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI Andi Nurpati, serta Dr Hj Majdah Zain, istri Agus.
Hj Aliyah Mustika Ilham yang sebelumnya disebut-sebut akan maju berpasangan dengan Agus, tidak tampak. Apakah ini pertanda Agus telah resmi meninggalkan Aliyah, lalu kemudian menggandeng Andi Nurpati untuk bertarung di pilgub?
Dalam penjelasannya, Agus mengatakan, saat ini sebenarnya ia sangat bisa mendaftar melalui jalur perseorangan atau independen. Alasannya, karena dukungan KTP (Kartu Tanda Penduduk) yang ia kumpulkan, sampai sejauh ini telah mencapai 692.769 lembar. Angka itu jauh dari jumlah minimal KTP yang ditetapkan sebanyak 480 ribu, yang membuatnya bisa mendaftarkan diri lewat jalur perseorangan.
“KTP ini dari berbagai kalangan. Mulai dari nelayan sampai mahasiswa. Dari berbagai daerah juga. Ada dari Selayar, Toraja, bahkan sampai Luwu Timur sana. KTP ini sudah kami rekap, yang kami kumpulkan selama 18 hari,” ucap Agus.
Namun, mantan sekretaris Golkar Sulsel ini belum ingin menyebutkan partai apa saja yang siap mengusungnya. Ia hanya mengatakan jika sampai sejauh ini pintu partai masih terbuka.
“Untuk partai politik belum kami sampaikan. Nanti kita lihat. Yang penting cukup 17 kursi. Doakan saja ya,” ucap Agus dalam konferensi persnya.
Agus juga menegaskan jika sampai saat ini ia masih berpasangan dengan Andi Nurpati. Namun ia seakan tak mau memastikan bahwa wakilnya nanti saat pencalonan adalah Andi Nurpati.
“Sampai saat ini saya masih berpasangan dengan ibu Andi Nurpati. Sama ibu Aliyah kemarin mungkin kami belum jodoh. Tapi jika nanti ada perubahan lagi, kita pasti akan duduk bersama merundingkannya,” jelas mantan ketua DPRD Sulsel ini.
Andi Nurpati dalam kesempatan itu, mengatakan apapun bisa terjadi. “Namanya juga politik, semua bisa terjadi di saat-saat terakhir,” ujar salah satu ketua DPP Partai Demokrat ini.
Kedatangan Agus untuk acara deklarasi kesiapan maju disambut dengan Tari Paraga. Agus juga dikawal puluhan pengurus dan kader Pemuda Panca Marga (PPM) se-Sulsel.
Informasi yang dikumpulkan koran ini, Agus masih mendapat angin segar dari sejumlah elit partai politik seperti Gerindra, PKS, Demokat dan PKB.
Seberapa besar peluang Agus untuk mendapatkan dukungan partai politik yang cukup? Pengamat politik dari Universitas Bosowa (Unibos) 45 Dr Arief Wicaksono yang melihat deklarasi Agus lewat media, memberi ulasannya.
“Tadi deklarasinya saya lihat individual sifatnya. Tidak ada bersama pasangannya. Kalau lewat parpol, saya lihat masih ada peluang di Demokrat dan PPP, yang nampaknya tidak digunakan oleh IYL-Cakka,” ujar Arief.
Menurutnya, jika memang Agus masih berharap maju lewat jalur parpol, maka Partai Demokrat dan PPP serta partai lain masih bisa berjalan bersamanya. “Kalau lewat parpol, calon pasangan Pak Agus yang paling ideal adalah bu Aliyah Ilham. Jika lewat jalur perseorangan, informasinya Pak Agus akan jalan dengan bu Andi Nurpati,” terangnya.
Dosen politik Unhas Dr Azwar Hasan, menilai selama masing-masing pasangan dengan parpol pengusungnya belum mendaftarkan dirinya di KPU sesuai jadwal tahapan, maka usungan parpol kepada pasangan calon masih bisa berubah atau berpindah. “Termasuk dukungan parpol untuk mengusung Agus, hingga saat ini masih memungkinkan. Politik pilgub masih cair dan dinamis,” jelas Azwar.
Pengamat politik dari Unismuh Makassar Dr Luhur A Prianto, menilai saat ini Agus sudah ketinggalan langkah di antara kandidat lain. “Agus relatif ketinggalan langkah. Strateginya memilih terlibat dalam dinamika internal Gerindra, membuatnya kehilangan energi dan juga kehilangan momentum. Meskipun kecil, tapi peluangnya tetap terbuka. Terutama pascaIYL memilih jalur perseorangan. Tentu bukan hal yang mudah. Secara psikologis, performa dan elektabilitasnya perlu semangat baru untuk mendongkrak,” ujar Luhur.
Menurutnya, Agus butuh sesuatu yang “besar” untuk tetap menjaga asa di kontestasi pilgub. Butuh dukungan tokoh besar, ongkos politik besar dan energi baru yang besar untuk tetap survive di pencalonan.
“Tapi kalau melihat konstelasi politik pilgub, yang sudah berada di tangan elit nasional, maka Agus bisa menjadi kandidat pengganti yang mengejutkan. Dalam sepakbola, layaknya pemain super-sub yang turun di menit-menit terakhir. Pemain seperti ini bisa mengubah jalannya pertandingan,” pungkasnya. (nug-rif/rus)

Exit mobile version