”YOGYA punya Dagadu. Bali punya Joger. Makassar punya Kareba.” Tagline inilah yang kerap digunakan Fakhruddin dalam mempromosikan oleh-oleh khas produksinya.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
DARI berbagai usaha sebelumnya yang digeluti Fakhruddin, ia mampu menabung sedikit demi sedikit. Setelah terkumpul, kemudian dijadikanlah modal. Jumlahnya tak banyak. Hanya Rp2 juta.
Nilai tersebut tergolong kecil. Namun, untuk memulai sebuah usaha, angka itu sangatlah membantu. Dari Rp2 juta itulah Kaos Kareba bermula.
Di awal merintis usahanya, Fakhruddin memilih lokasi di sebuah lorong kecil Jalan Racing Centre (sekarang Jalan Prof Abdurahman Basalama). Tempat yang amat tak strategis, namun ia harus menempatinya.
Tentu saja konsumennya saat itu bukanlah orang yang tak sengaja ingin singgah. Melainkan Fakhruddin sendiri yang harus mencari konsumennya.
Ia juga pernah menjual kaosnya di pinggir jalan, tepat di samping Hotel Singgasana. Empat bulan pertama di awal rintisan usaha, ia mengikut dengan temannya yang juga berjualan di tempat tersebut. Dengan menggunakan tempat jemuran, ia menggantung pakaian dagangannya di sana.
Dari pertama ketika ia membuka lapaknya pada malam hari, ternyata ada yang membeli produknya satu orang. Kemudian ia pun disarankan oleh temannya tersebut untuk membuka lapaknya sedari pagi. Namun harapan pembeli datang lebih banyak, urung didapat. Malah selama ia berjualan, tak ada lagi orang yang membeli.
“Saat itu saya sudah panas-panasan. Pernakh juga itu bajuku jatuh, saya bersihkan lagi. Saya menjual dari pagi, bahkan biasa saya tunggu sampai tengah malam, tidak ada pembeli sama sekali,” kenangnya.
Fakhruddin pun memutuskan untuk tidak berjualan lagi di pinggir jalan, karena ia merasa pilihan lokasinya salah. “Dari situ saya juga dapat hikmahnya, yaitu harus menjual pada tempat yang tepat. Produk saya kan khas oleh-oleh. Kurang tepat jika dijual seperti itu. Saya kemudian berpikir kalau fokusnya adalah para wisatawan, dan harus menjualnya di tempat tertentu,” jelas Fakhruddin.
Sampai akhirnya, sekitar setahun belakangan barulah Fakhruddin bisa menempati tempatnya yang sekarang. Ia pun mulai bekerja sama dengan berbagai vendor percetakan untuk lebih mengembangkan usahanya dalam bidang percetakan kaos pesanan.
Di tempat barunya, ia tetap menemui berbagai kendala. Pernah suatu hari ia mendapat pesanan dari sebuah instansi di Kota Parepare. Ia pun bekerja sama dengan salah satu vendor di Yogyakarta untuk membantunya menyelesaikan pesanan tersebut.
Namun saat menjelang deadline pegambilan barang, vendor tersebut masih belum bisa menyelesaikan. Pelanggannya yang berada di Parepare pun mulai menuntut.
Yang lebih parah, Fakhruddin bahkan dituduh ingin menipunya. Sampai pada akhirnya ia harus mengembalikan kembali uang yang telah dibayarkan oleh pelanggan. Sedangkan uang muka yang telah diberikan ke pihak vendor tak bisa ia dapatkan kembali. Kerugian saat itu pun mencapai jutaan rupiah.
“Waktu itu sudah ditagih sama pelanggan. Sampai-sampai dikira saya mau tipu dia. Padahal pihak vendor belum selesaikan. Itu juga vendor saya tagih baru santai sekali tanggapannya, kayak ndak ada masalah, baru saya setengah mati. Begitulah,” kisahnya.
Tapi dari semua itu, Fakhruddin justru mampu membuktikan dirinya bisa lebih berkembang. Kini usahanya telah meniti sukses. Diapun berencana akan lebih mengembangkannya tahun depan.
Bukan hanya kaos khas daerah, di tempatnya kini juga terdapat berbagai pernak-pernik seperti gantungan kunci, pin, mug, miniatur phinisi, serta songkok Bone. Ada juga berbagai kuliner khas Sulsel seperti kopi toraja, sirup markisa, otak-otak, roti mantau, aneka keripik, dan masih banyak lagi. (*/rus/b)
