MAKASSAR, BKM — Selama ini, data jumlah wisatawan yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik dengan Dinas Pariwisata dan pelaku usaha kepariwisataab tidak sinkron alias berbeda.
Padahal, menurut Konsultan Kepariwisataan, Farid Said, akurasi data menjadi rujukan, selain untuk mengetahui perkembangan kepariwisataan, menjual destinasi pariwisata, juga menjadi acuan investor yang akan menanamkan modalnya dalam bidang tersebut.
“Kerap ditemukan, data yang dikeluarkan BPS berbeda dengan pelaku usaha, maupun pemerintah,” ungkapnya saat menjadi pembicara pada Sosialisasi Analisa Data Kunjungan Flight dengab Peningkatan Jumlah Wisatawan Mancanegara yang digelar Rabu (6/12) di Hotel La’Riz.
Perbedaan data itu bisa disebabkan karena metode pengambilan data yang berbeda. BPS biasanya mengambil data dari Imigrasi misalnya. Sementara pelaku usaha, mengambil data langsung dari wisatawan.
“Karena itu, kadang ditemukan data yang dilaporkan BPS menurun, namun ternyata dari Dinas Pariwisata kabupaten/kota mengalami kenaikan.
Hal tersebut dibenarkan salah seorang peserta sosialisasi dari Kabupaten Gowa. Menurutnya, pernah BPS melaporkan jika kunjungan wisatawan ke daerah tersebut mengalami penurunan. Sementara pada saat yang sama data yang dikantongi mengalami lonjakan.
Sehingga dia berharap ke depan, sebelum BPS mengeluarkan data, hendaknya berkonsultasi dulu dengan instansi terkait.
Untuk mendapatkan data akurat, ada tiga cakupan survey yang harus diperhatikan yaknis blok sensus, Kantor Imigrasi dan Hotel, serta akomodasi lainnya.
Secara umum, menurut Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel, Andi Pancawati menjelaskan, secara umum, statistik pertumbuhan wisatawan, baik nusantara maupun mancanegara selama lima tahun terakhir menunjukkan tren positif.
Wisatawan mancanegara naik sebesar 20 persen dan nusantara 13,6 persen.
“Saat ini, angka kunjungan wisatawan ke Sulsel sebesar 8,7 juta. Terdiri dari 191 ribu wisatawan mancanegara dan 8,4 juta wisatawan nusantara, ” ungkap Andi Panca.
Dia melanjutkan, saat ini, pariwisata Sulsel merupakan bagian penting dari strategi pengembangan pariwisata nasional. Karena dalam induk pariwisata nasional, destinasi Toraja dan Takabonerate ditetapkan sebagai destinasi pariwisata nasional sekaligus sebagai kawasan strategis pariwisata nasional.
Informasi kunjungan wisatawan, menurut Andi Panca, memberi gambaran prospek pariwisata Sulsel kepada semua pemangku kepentingan. Terutama bagi industri pariwisata dan pendukungnya termasuk industri penerbangan. (rhm)
BPS-Disbudpar Diminta Kompak Sajikan Data Wisatawan
