KEPEDULIAN terhadap sesama yang mengalami penderitaan bisa dilakukan siapa saja. Tak terkecuali oleh jajaran kepolisian. Seperti apa bentuknya?
LAPORAN: ISHAK MAPPELAWA
DI Jalan Alauddin, depan Pasar Pa’baeng-baeng. Tampak berjejer deretan rumah toko (ruko) di pinggir jalan.
Tak jauh, sebuah sisa bangunan yang telah terbakar terlihat. Di bagian depannya terpasang tenda. Tembok dindingnya telah berlumut. Lokasinya tepat di Jalan Veteran Lorong 43 nomor 36, samping kanal.
Belakangan diketahui jika penghuninya pasangan suami istri (pasutri) bernama Darwis dan Dg Ramlah (43). Tinggal pula anaknya.
Ketika masuk ke bagian dalam, situasi yang lebih miris kembali ditemui. Sesosok tubuh renta tampak terbaring lemah di atas tempat tidur. Tubuhnya mulai ringkih.
Yang paling menonjol terlihat di bagian kepalanya. Benjolan berukuran besar tampak di bagian jidat sebelah kanan. Dialah Dg Ramlah.
Jarum jam menunjuk pukul 09.00 Wita, Kamis (7/12). Seorang pria berpakaian lengkap kepolisian tampak berjalan kaki menuju ke kediaman Ramlah.
Kehadirannya langsung mengundang perhatian. Dia adalah Kombes Pol Dicky Sondani, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Sulsel.
Dicky memberi salam sebelum melangkah lebih jauh. Seorang pria memberi salam balik dari dalam. Lelaki ini adalah Darwis, suami Ramlah.
Keterkejutan melingkupi Darwis. Pertanyaan menggelayut di benaknya. Ada apa seorang polisi datang ke kediamannya? Jangan-jangan ada masalah yang dihadapinya. ”Ada apa, Pak?” tanya Darwis.
Ditanya seperti itu, Dicky tidak langsung menjawab. Ia kemudian mencoba menelisik keadaan. Menoleh ke samping kiri dan kanan. Melihat barang-barang yang ada. Seperti kasur, bantal dan karung plastik yang tersusun bagai sampah. Sepertinya tak layak huni.
Masih diliputi rasa cemas, Darwis lalu memanggil putranya. Ayah dan anak ini lalu menerima kedatangan Dicky.
Pertanyaan Darwis kembali terlontar. Dicky pun kemudian memperkenalkan diri.
”Saya dari polda, Pak. Kedatangan saya untuk melihat istri bapak. Kabarnya sedang sakit,” ujar Dicky.
Perasaan Darwis pun lega. ”Iya, Pak. Istri saya ada di dalam sedang berbaring. Dia memang sakit. Benjolan di kepalanya kian hari tambah membesar,” kata Darwis.
Dicky kemudian meminta izin untuk melihatnya. Mengetahui ada polisi yang datang menjenguknya, seketika itu juga air mata Ramlah tak bisa terbendung lagi. Tangisnya pun pecah.
Darwis bersama anaknya pun ikut menangis. Mereka tak pernah menyangka akan dikunjungi seorang pejabat dari Polda Sulsel.
Keluarga inipun tak mau menyia-nyiakan momen tersebut. Berswafoto langsung dilakukannya.
Ajaibnya lagi, Dg Ramlah yang sebelumnya sulit untuk bangun dari pembaringan, langsung duduk. ”Terima kasih pak polisi atas kedatangannya, mau menginjak tempat tinggal kami ini,” kata Ramlah sambil terisak. Dicky pun ikut tampak mengusap airmatanya.
Di sebuah ruangan, Dicky dan Darwis beserta anaknya terlibat perbincangan. Yang ditanyakan seputar penyakit yang diderita Ramlah.
Darwis mengisahkan, bahwa penyakit yang diderita istrinya sudah berlangsung empat tahun terakhir. ”Pernah saya bawa ke rumah sakit, Pak. Kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Wahidin. Sekarang saya mencari nafkah, selain untuk makan, juga untuk biaya pengobatan istri saya,” tutur Darwis.
Usai memberikan bantuan, Kombes Dicky menjelaskan, kunjungannya ini merupakan bagian dari program kepolisian dalam upaya membangun kepedulian sosial kepada sesama.
”Saya ini seorang pria yang lahir dari seorang ibu. Kondisi Ibu Ramlah membuat saya prihatin dan iba. Apalagi menderita tumor. Kami di kepolisian sebagai pelayan, pelindung dan pengayom memang memiliki program kepedulian terhadap masyarakat. Nah, inilah definisi dari itu semua. Kami memberikan bantuan untuk pengobatan kepada Ibu Ramlah. Semoga kesabarannya berbuah kesembuhan,” kata Dicky. (*/rus/b)
