Site icon Berita Kota Makassar

Pilgub Sulsel Bisa Ikuti Poros di Pilgub DKI

MAKASSAR, BKM–Konstelasi dan arah dukungan partai politik masih sulit diterka. Hal tersebut erat kaitannya dengan kepentingan dari para elit partai di pusat.
Jika perubahan secara drastis terjadi, maka tidak tertutup kemungkinan Pilgub Sulsel akan seperti yang terjadi pada saat Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2015 lalu. Dimana ada tiga pasangan calon yang maju dari tokoh yang sesungguhnya ikut bertarung yakni poros Joko Widodo sebagai representasi kader PDIP, Prabowo Subianto sebagai representasi Gerindra serta Susilo Bambang Yudhoyono sebagai representasi dari Demokrat.
Tidak heran jika nantinya Prabowo mendadak merubah dukungannya di Pilgub Sulsel lalu mengusung Agus Arifin Nu’mang. Jika selama ini ketua umum DPP Gerindra ini telah meneken SK untuk pasangan Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman, maka bisa jadi mantan Danjen Kopasus ini menandatangani form B1 KWK untuk Agus yang telah dimintanya untuk berpasangan dengan Ahmad Tanribali Lamo (TBL).
Agus sendiri yang dimintai komentarnya menegaskan optimistisnya bakal mendapatkan dukungan dari Gerindra. Tak hanya itu, wakil gubernur Sulsel dua periode ini tetap berharap dapat usungan dari PKS, Demokrat dan PAN. “Insya Allah. Doakan saja,”ujar mantan sekretaris Golkar Sulsel diera HM Amin Syam ini, Kamis (7/12).
Soal seberapa besar peluang PKS mengalihkan dukungannya ke Agus, Ketua DPW PKS Sulsel Mallarangan Tutu menegaskan bila hingga kini partainya masih berada dibarisan NA-ASS. Meski demikian, jika terjadi perubahan tentu semua kader pasti taat azas. “Apapun yang diputuskan Dewan Suro dan DPP PKS tentu kita akan taat dan patuh,”ucap Mallarangan, di rumah makan Cobe-cobe Tamalanrea, Rabu (6/12) malam.
Terkait peluang tiga poros yang bertarung di Pilgub Sulsel seperti yang terjadi di Pilgub DKI Jakarta mendapat tanggapan dari pengamat politik dari Unismuh Makassar Dr Luhur A Prianto. Menurut Luhur, dirinya tidak sepenuhnya sependapat jika Pilgub Sulsel mirip yang terjadi di Pilgub DKI. “Bisa jadi, cuma kekuatan SBY via Demokrat sepertinya harus melebur di koalisi Jokowi atau Prabowo. Tapi saya kira posisi Nurdin Halid (NH) sulit merepresentasi jejaring politik Jokowi yang pimpin Amran Sulaiman dan tidak melebur pada poros Prabowo. NH bisa menjadi alternatif tanpa terlibat pada rivalitas poros nasional itu,”ujar Luhur.
Luhur mengemukakan bila pasca Ichsan Yasin Limpo memilih jalur independen, maka posisi Demokrat masih bisa berubah. “Sulit bagi Demokrat untuk bertahan dan memilih posisi sekedar partai pendukung independen saja,”jelasnya.
Menurutnya, pola kompetisi Pilgub Sulsel relatif lebih rumit dibanding Pilgub DKI Jakarta yang langsung mempolarisasi dukungan partai politik, ke tiga poros politik nasional. “Dalam beberapa kasus, Pilgub Sulsel saya kira juga mesti bersesuaian dengan situasi-situasi dinamika Pilbup/Pilwali yang berlangsung bersamaan,”pungasnya. (rhm/rif)

Exit mobile version