Site icon Berita Kota Makassar

Ketemu dengan Erlangga Hartarto

DESAKAN agar Partai Golkar segera menggelar Munaslub pasca Ketua Umum Setya Novanto ditahan makin kencang.
Kondisi politik di intern partai berlambang beringin rindang tersebut berubah. Sejumlah pemimpin teras partai bermanuver untuk membangun komitmen sekaligus kekuatan. Pertemuan antara elit partai pun terjadi. Termasuk antara para pengurus partai yang pernah ikut bertarung untuk memperebutkan posisi kosong satu di tubuh partai tersebut.
Salah satunya, yang terjadi belum lama ini dimana Syahrul Yasin Limpo (SYL) dan Erlangga Hartarto melakukan tatap muka.
Ditanya soal pertemuannya dengan Erlangga, SYL menegaskan jika itu pertemuan biasa. Tidak ada deal-deal politik atau kesepakatan dukung mendukung yang dibicarakan. “Saya tidak punya deal-deal dengan siapa-siapa. Saya punya deal dengan idealisme bahwa Golkar itu penting untuk negara dan pemerintah,” ungkapnya di Kantor Gubernur Sulsel, Senin (11/12).
Dia menekankan, sebagai kader Golkar, dia punya kewajiban untuk terus menjaga warwah partai. Tetap konsisten dan berpihak pada kepentingan rakyat.
Sehingga, mau Munaslub atau tidak, mau cepat dilakukan atau tidak, tetap akan menjadi momentum yang sangat strategis bagi Golkar untuk melakukan konsolidasi kembali. Dia mengaku tidak akan membiarkan Golkar tidak berdaya karena adanya konflik kepentingan di dalamnya. “Partai politik mampu memenuhi harapan dan kebutuhan rakyat. Dan seperti itu harusnya Golkar dibawa,” tegasnya.
Dia melanjutkan, soal siapa yang jadi ketua umum, itu tidak penting. Yang penting haruslah paket yang baik, dan dibutuhkan oleh rakyat dan negara.
Berdasarkan hitung-hitungannya, saat ini, kader Golkar tidak harus berpikir siapa dan harus siapa yang menjadi ketua umum tapi bagaimana sosok ideal yang bisa berkompromi terhadap kepentingan rakyat.
Menurutnya, Golkar itu bukan untuk kepentingan orang. Makanya lebih baik dirinya pasif jika tidak sependapat dengan kebijakan maupun orang-orang yang dianggap tidak sepikiran dalam membawa partai tersebut ke arah yang lebih baik. “Saya ini orang Bugis Makassar. Mungkin tidak menolak dan melawan. Tapi saya akan lebih banyak pasif, ” ungkapnya.
Namun, dia berjanji jika kemudian Golkar dipimpin orang yang memang punya idealisme untuk kepentingan bangsa dan negara, yang ingin menjadikan Golkar sebagai pintu mengagregasi kepentingan rakyat, dirinya akan siap untuk membantu. “Saya siap mendampingi, mendorong, mendukungnya. Tidak harus jadi pengurus pun tidak masalah sepanjang untuk kebaikan Golkar, ” jelasnya. (rhm/rif)

Exit mobile version