Site icon Berita Kota Makassar

Delapan Kasus Difteri dalam Rentang Waktu 11 Bulan

MAKASSAR, BKM — Beberapa bulan terakhir ini, masyarakat dicemaskan dengan munculnya penyakit Difteri. Sebuah penyakit yang menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Sulsel, selama tiga tahun terakhir, ada 24 kasus difteri yang terjadi di Sulsel. Tahun 2015 ada 11 kasus, tahun 2016 ada lima kasus, serta ada delapan kasus yang terjadi dalam rentang waktu 11 bulan, tahun ini.
Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, dr Rachmat Latif mengatakan, persoalan ini telah menjadi isu kesehatan yang cukup serius dan harus diperhatikan. Karena penyakit ini, selain menular, juga berpotensi serius mengancam jiwa
Dia mengimbau masyarakat mewaspadai peningkatan kasus difteri menyusul laporan status kejadian luar biasa (KLB) difteri di sebelas provinsi selama Oktober-November 2017.
Kata Rachmat, penyakit ini paling banyak menyerang anak dengan kelompok usia 5-9 tahun.
“Difteri merupakan penyakit menular disebabkan kuman Corynebacterium Diptheriae dan menyerang faring, laring atau tonsil. Bakteri penyebab difteri mengeluarkan racun yang menyebabkan kelumpuhan susunan syaraf tepi dan pusat, serta gagal ginjal. Kematian dapat terjadi karena sumbatan jalan nafas, akibat lapisan tebal di tenggorokan,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, penderita difteri bisa jadi tidak menunjukkan gejala yang cukup signifikan. Gejala bisa dilihat sejak penderita difteri sudah terjangkit antara 2 – 5 hari. Beberapa gejalanya, antara lain demam menggigil, sakit tenggorokan dan suara serak, sulit bernafas, terbentuk lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel, pembengkakan di leher, lemas dan pilek yang terkadang bercampur darah.
“Gejala awalnya berupa demam hingga 38 derajat celcius, ada muncul pseudomembran di tenggorokan, sakit waktu menelan, dan leher membengkak seperti leher sapi. Ini bisa mengakibatkan kelenjar getah bening di leher,” tambahnya.
Lantas bagaimana cara pencegahannya agar virus difteri tidak masuk ke tubuh kita?
Rachmat Latief menjelaskan, difteri bisa diobati dengan pemberian antibiotima dan antitoxin Anti Difter Serum (ADS). Sebelum terkena, masyarakat bisa mencegah melalui imunisasi. Adapun maraknya kemunculan penyakit tersebut belakangan ini, diduga karena adanya kekosongan kekebalan kalangan penduduk karena tidak lengkap imunisasinya.
Menyikapi peningkatan kasus difteri, masyarakat dianjurkan agar tanggap dini dengan diri dan lingkungan masing-masing.
Menurutnya, setiap orang hendaknya memeriksa status imunisasi untuk mengetahui kelengkapan berdasarkan jadwal dan umur. Jika belum lengkap, agar segera dilengkapi. Penting juga bagi masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat sehari-hari.
“Kalau merasa ada gejala difteri, segera melaporkan dan berobat ke Puskesmas terdekat,” tambahnya.
Langkah pencegahan paling efektif adalah melakukan vaksin DPT (Difteri, Pertusis dan Tetanus). Vaksin tersebut termasuk dalam imunisasi wajib bagi anak-anak di Indonesia dan pada umumnya dapat melindungi anak terhadap difteri seumur hidup.
“Kuncinya di imunisasi. Cakupan imunisasi yang tinggi dan kualitas layanan imunisasi yang baik sangat menentukan keberhasilan pencegahan berbagai penyakit menular, termasuk Difteri,” bebernya.
Dinas Kesehatan Sulsel, lanjutnya telah berkoordinasi dengan dinas terkait di 24 kabupaten/kota. Bersama Puskesmas, petugas di masing-masing diminta segera menyelidiki penyebaran penyakit menular. Terlebih jika dicurigai terjadi KLB difteri. Bila dianggap perlu, diinstruksikan segera melalukan imunisasi terpadu terhadap populasi rentan. (rhm)

Exit mobile version