MAKASSAR, BKM — Hampir setahun Ikatan Guru Indonesia (IGI) menggerakkan revolusi literasi menulis di kalangan guru Indonesia. Diawali dengan diklat menulis buku, hingga menuju Gerakan Satu Guru Satu Buku atau Sagusaku. Bergerak dari satu provinsi ke provinsi lainnya dan telah menghasilkan ribuan buku.
Memanfaatkan teknologi telepon selular, IGI menggerakkan revolusi membaca dan menulis lebih mudah dalam tajuk Menemu Baling (Menulis dengan Mulut Membaca dengan Telinga). Perpaduan dari kedua gerakan ini kemudian melahirkan gerakan baru Bagusaku, atau Banyak Guru Satu Buku sehingga melahirkan banyak buku.
”Proses menulis ini melibatkan ribuan guru di Indonesia, hanya dalam 9 bulan terakhir IGI berhasil merevolusi “gaya” guru dari malas membaca menjadi rajin menulis. Sebuah revolusi yang melompati ekspektasi banyak orang sekaligus menghancurkan skeptisme orang-orang tentang guru Indonesia,” tulis Muh Ramli Rahim, Ketua Umum Pengurus Pusat IGI melalui rilisnya kepada BKM, kemarin.
Setelah itu, pelatihan menulis pun muncul dimana-mana. IGI sekali lagi merasa sukses menggerakkan literasi menulis di Indonesia. Bukan hanya di kalangan guru. Kampus-kampus tergerak. Demikian pula instansi pemerintah. Bahkan ruang-ruang kelas melahirkan gerakan Satu Buku Satu Kelas atau Satu Buku Banyak Siswa. Kesuksesan IGI begitu nyata dalam menggerakan sesuatu yang sebelumnya langka dilakukan oleh banyak orang.
”IGI akan menutup 2017, sekaligus mengawali 2018 dengan sebuah gerakan spektakuler, yaitu Menulis 1000 Buku dalam Lima Jam. Kami mengundang Museum Rekor Indonesia (MURI),” jelas Ramli Rahim.
Even ini akan berlangsung di Plaza Ki Kadjar Dewantara Kemendikbud. IGI akan menghadirkan 1.500 guru menulis lengkap dengan perangkat Menemu Baling, untuk membuktikan bahwa guru Indonesia telah berubah dalam sisi literasi tulisan. (rls)