BEKERJA sebagai petugas operator di Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU) di Jalan Sungai Saddang, menjadi pilihan Yasmiani. Alasan dia bekerja adalah untuk membantu mengurangi pengeluaran biaya orang tuanya.
Laporan: ARIF AL QADRY
Sekarang ini, Yasmiani sudah semester lima. Ia kuliah di Universitan Indonesia Timur (UIT). Agar kebutuhannya bisa dia penuhi, dia memilih untuk bekerja sambil kuliah namun tetap lebih memperioritaskan kuliahnya.
“Saya kerja karena mau bantu juga orang tua. Kasihan kalau biaya hidupku di Makassar dan uang kuliah semua orang tua yang tanggung. Jadi saya pilih kerja sambil kuliah saja,” katanya.
Di Kota Makassar, perempuan kelahiran Sinjai, 20 November 1998 itu tinggal di Jalan Rappocini. Ia tinggal berdua dengan teman kampusnya dengan menyewa kos-kosan seharga Rp5.500.000 pertahun. Cukup hemat ketika tinggal sendiri yang tentu harus membayar uang sewa full.
“Kalau tidak join ki mahal sekali. Jadi setiap tahun itu saya paling bayar setengah saja uang kos karena saya berduaji dengan teman ku,” ujarnya.
Setiap bulan gaji yang dia dapat dengan bekerja sebagai petugas operator SPBU sebesar Rp1 juta. Setiap gajian dia sudah mulai menyisihkan sedikit gajinya untuk biaya sewa kos, uang makannya dan sedikit uang kuliahnya.
“Rencana saya tidak maumi bebani orang tuaku, biaya kuliahku dari gajiku,” sebutnya.
Mendapat marah selama bekerja sebagai petugas operator SPBU sudah sering dia alami. Bahkan hampir setiap hari ada saja pemilik kendaraan bermotor yang memarahinya. Penyebabnya beragam, seperti karena ditegur salah posisi parkir kendaraan saat ingin melakukan pengisian BBM sampai karena bensin tumpah.
“Pernah sekali ada mobil masuk, dan saya arahkan untuk mutar karena selang tidak sampai ke tankinya. Eh malah pemiliknya marah. Ada juga karena bensinnya terlalu full sampai tankinya basah yang buat pemiliknya marah lagi sama saya. Tapi saya tetap sabar,” akunya.
Dengan menjalankan tagline 3S, Senyum, Salam dan Sapa yang diberlakukannya, ia tetap meminta maaf. Sebab konsumen adalah modal utama di SPBU.
Didepan penulis, ia mengaku tugasnya cukup sulit. Selain harus mampu berdiri selama berjam-jam, petugas operator SPBU dituntut harus bisa menguasai hitung uang secara cepat. Karena setiap hari jumlah kendaraan bermotor selalu ramai masuk mengisi BBM. Kalau bisa salah hitung, dan salah mengembalikan uang kembalian, petugas operator SPBU siap-siap untuk mengganti kerugian sesuai nilainya.
Kerugian yang dialami petugas operator SPBU bisa juga disebabkan karena adanya masalah komunikasi antara pembeli dan petugas operator SPBU. Biasanya pembeli meminta kepada petuga mengisi BBM senilai Rp20 ribu, namun petugas operator malah mendengar permintaan pembeli sebesar Rp25 ribu. Sehingga petugas mengisi BBM sebesar Rp25 ribu.
Sebenarnya untung-untungan saja. Kalau pembeli mau membayar lebih uang Rp5.000 maka petugas operator tidak rugi. Tetapi ketika pembeli ngotot dan tegas tidak ingin mengganti karena itu kesalahan petugas operator maka kerugian ditanggulangi petugas.
Petugas operator tidak bisa bermain atau curang ketika bekerja. Pasalnya usai bekerja sift, dilakukan pemeriksaan kembali. Tujuannya untuk mencocokkan bensin yang dijual dan uang yang disetorkan petugas.
“Kalau pemeriksaan ada tekor kita ganti. Tapi gantinya nanti gajian, jadi gaji kita langsung dipotong sesuai nilai kerugian kita,” aku anak bungsu dari enam saudara itu.
Tekor tidak bisa dihindarkan. Selama dia bekerja, sudah berapakali dia tekor. Gajinya yang hanya Rp1 juta setiap bulannya pernah sekali dia dapat cuma sebesar Rp800 ribu. Kondisi itupun sangat memprihatinkan ketika melihat risiko kerja dan jam kerja yang harus berdiri dan menghirup bensin.
Adapun keuntungan yang didapatkan tidaklah besar. Paling besar Rp1.500. Keuntungan dia dapatkan dari kembalian uang yang diberikan kepadanya, dan dari pengisian full BBM. (arf)
