WAJO, BKM — Tim Pengawasan dan Monitoring elpiji 3 kg Pemkab Wajo menggelar Inspeksi Mendadak (Sidak) keluhan masyarakat terkait kelangkaan elpiji 3 kg selama beberapa hari terakhir ini.
Ketua Tim Pengawasan dan Monitoring Elpiji 3 kg Pemkab Wajo, Muhammad Arwes mengaku salah satu pemicunya yakni adanya peralihan fungsi.
“Petani menggunakan elpiji untuk memompa air untuk kebutuhan sawahnya. Khususnya sawah tadah hujang,” ujarnya, Selasa (12/12)
Menurutnya, penggunaan gas elpiji untuk memompa air lebih hemat dibanding dengan bensin. “kalau mau dibandingkan itu bisa tiga kali lipat perbandinganya.
Kadis Koperasi dan UMKM Kabupaten Wajo Itu menjelaskan, sebelumnya jumlah pasokan gas elfiji 3 kg hanya 12.320 namun dari jumlah itu bertambah menjadi 16.000 dalam setiap harinya.
Bukan hanya langka, gas melon itu juga Selain mengalami kelonjakan harga ditingkat pengecer.
”Dari hasil sidak kita, ternyata, harga di pengecer memang mencapai Rp.20.000 sampai dengan Rp.25.000,”bebernya
Kadis berjanji akan menindak lanjuti peningkatan kebutuhan itu dengan meminta tambahan pasokan dari Pertamina.
Kepala Bagian Perekonomian Sekda Kabupaten Wajo Andi Musdalifah Z, pun mengakui kebutuhan gas elpiji 3 kg di 14 kecamatan di Wajo mengalami peningkatan. Itu terbukti dari banyaknya keluhan.
”Banyak masyarakat tidak kebagian elpiji 3 kg. Itu dikarenakan penggunaannya semakin meluas, bukan cuma kalangan rumah tangga tapi juga merambah ke petani. Belum lagi sekarang, musim pengantin dan maulid, otomatis permintaan semakin meningkat,”jelasnya. (*)
Tim Monitoring Sidak Agen Elpiji
