Site icon Berita Kota Makassar

Share Happines Kabulkan Permintaan Orang tak Mampu

MELAKONI berbagai kegiatan sosial tidaklah mudah. Banyak suka dan duka yang ditemui. Demikian pula halnya dengan para anggota FIM Ewako Makassar. Selain terkadang harus mengeluarkan biaya sendiri, mereka juga mesti merelakan waktu dan tenaganya.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

BAHASA yang bernada kasar dari anak-anak pemulung kerap kali didengar oleh Nadzra dan teman-temannya. Sulit diatur juga kadang-kadang. Tapi semua itu tidaklah menjadi soal. Sebaliknya, malah dijadikan sebagai pengalaman dan kenyataan yang harus dinikmati.
Biasa pula, sikap serta pembawaan anak-anak yang kerap mereka singgahi juga terasa kurang baik. Namun, pantang menyerah menjadi hal yang mesti dilakukan.
Apalagi para orang tua anak-anak tersebut sangat baik menyambut kedatangan FIM Ewako Makassar. Bahkan tak jarang sering membantu mereka dalam mempersiapkan pengajaran.
Selain mengajar ke berbagai tempat di lingkungan pemulung, FIM Ewako Makassar juga memiiki program sosial lain yang intens dilaksanakan. Namanya share happiness.
Melalui program ini, mereka akan “menculik” para orang-orang yang kurang beruntung dari segi ekonomi untuk mengabulkan sebuah permintaannya.
Mereka terlebih dahulu mensurvei orang-orang yang terlihat renta dan sebatang kara. Selain itu juga terlihat lemah, namun tetap berjuang mempertahankan hidupnya.
Salah satu contohnya, para anggota FIM Ewako Makassar pernah mendapati sepasang suami istri tuna netra yang berjualan keripik di sudut Jalan Hertasning. Merasa iba, mereka akhirnya menyewa sebuah mobil yang digunakan untuk mengangkut pasangan tersebut.
Awalnya tentu agak sulit mengajaknya. Karena pasangan tuna netra itu seakan trauma dengan orang asing yang langsung mengajaknya. Hal itu diakui keduanya. Sebab banyak orang yang telah menjahatinya selama ini. Tidak heran jika awalnya pasangan tuna netra ini sempat menolak.
“Setelah dibujuk-bujuk, kami beri keyakinan, akhirnya mereka mau kita ajak,” kata Nadzra.
Pasangan tuna netra itu kemudian naik ke mobil, dan selanjutnya akan dibawanya berjalan-jalan. “Kami berusaha mengajak mereka untuk jalan-jalan. Terus, kami tanya hal apa yang sangat ingin mereka lakukan. Mereka bilang mau sekali makan kepiting, kami pun berusaha mewujudkannya,” kata Nadzra.
Melihat keinginan pasangan tersebut yang ingin makan kepiting, para anggota FIM Ewako ini berusaha keras untuk memenuhinya. Mereka mengumpulkan dana sendiri, dan kemudian mengajak pasangan tuna netra ini ke sebuah tempat makan untuk makan kepiting.
“Mereka terlihat sangat bahagia. Otomatis kami pun juga merasakan hal yang sama. Tujuan kami di sini memang berbagi kebahagian, dan berbagi ternyata begitu indah,” ucap Nadzra sambil tersenyum.
Tidak mudah pula menentukan orang mana yang akan diberikannya kebahagiaan. Pernah suatu ketika tim dari FIM Ewako Makassar melihat seorang tua yang menjadi tukang bengkel keliling. Ketika hendak dibantu, terlebih dahulu mereka memata-matai.
Hasilnya, pria tua itu ternyata merupakan orang yang tergolong agak mampu. Kriteria ini bukanlah menjadi sasaran mereka.
Dana yang mereka kumpulkan biasanya adalah uang pribadi dari para anggota FIM Ewako sendiri. Mereka melakukannya dengan ikhlas demi kebahagian masyarakat dan demi pembentukan karakter yang baik di kalangan masyarakat.
Harapan Nadzra ke depan, semoga pemerintah bisa lebih membantu aksi-aksi yang FIM Ewako Makassar lakukan. Selain itu, ia berharap para anak muda di Makassar juga bisa bergerak dan berkolaborasi bersama FIM Ewako Makassar. (*/rus/b)

Exit mobile version