Site icon Berita Kota Makassar

Faktor Cuaca Picu Inflasi di Sulsel

MAKASSAR, BKM — Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sulsel melakukan pertemuan akhir tahun untuk membahas inflasi di daerah ini.
Sejumlah lembaga dan instansi yang berkepentingan duduk bersama membahas persoalan ini.
Pertemuan bertajuk High Level Meeting itu digelar di Ruang Rapat Pimpinan (Rapim) Kantor Gubernur Sulsel, Selasa (19/12).
Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Ekonomi Sulsel, Binawan Bintang, saat ini, posisi inflasi Sulsel berada pada angka 3,68 persen.
Dalam kondisi saat ini, ada beberapa faktor yang menyebabkan atau memicu inflasi.
Salah satunya adalah kondisi cuaca. Musim penghujan yang sudah mulai memasuki puncaknya menjadi ancaman tersendiri bagi perekonomian. Bahkan bisa menyebabkan inflasi mengalami kenaikan.
Kepala Balai Besar BMKG Wilayah IV Makassar, Ahmad Fachri Radjab mengatakan, saat ini pesisir barat Sulsel sudah mulai memasuki musim penghujan. Sementara di wilayah timur akan memasuki musim hujan di awal tahun.
“Ini cukup kuat pengaruhnya soal inflasi di Sulsel. Apalagi berhubungan dengan sektor pangan, seperti tambak bandeng dan sayuran,” katanya.
Pihaknya sendiri telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah terutama dinas pertanian, kelautan dan perikanan. Ini dilakukan agar petani dan nelayan bisa mengatur jadwal tanam atau melautnya.
Deputi Direktur Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sulsel, Musni Hardi mengakui peringatan yang dikeluarkan oleh BMKG harus segera diantisipasi. Semua sektor terkait harus segera mencari jalan keluarnya.
Terutama daerah yang berperan sebagai konsumen. “Misalnya Makassar harus berkoordinasi dengan kabupaten sekitarnya, ini agar pasokan pangan tetap terjamin,” akunya.
Musni menjelaskan di akhir tahun atau saat musim hujan ada beberapa komoditi yang berpengaruh pada Inflasi mulai dari ikan bandeng, tomat, cabai, beras, telur ayam dan bawang. Khusus di Makassar, komoditi tertinggi Penyumbang kenaikan inflasi adalah tomat.
Berdasarkan data BI bukan November lalu inflasi 0,28 persen, sementara bulan ini diperkirakan antara 0,5-0,9 persen. Untuk sampai akhir tahun, BI optimis inflasi masih berada direntang 4 plus minus 1 persen.
Terkait persiapan perayaan Natal dan Tahun Baru 2018, BI sendiri sudah menyiapkan uang tunai Rp2,5 triliun. Uang ini telah disebar ke beberapa kantor kas dan perbankkan.
Hal yang sama diungkapkan oleh GM Pertamina MOR VII Sulawesi, Joko Pitoyo menambahkan pihaknya juga telah membentuk satgas pendistribusian bahan bakar minyak (BBM) dan LPG.
“Masyarakat kalau mau beli silahkan ke agen resmi. Khusus Selayar memang belum ada depo, tapi kita tetap jamin stok sampai ke sana. Makanya kami minta Pemda untuk memfasilitasi pembangunannya,” tambahnya.
Sementara itu, Asisten Bidang Pembangunan, Ekonomi dan Kesejahteraan Setda Sulsel, Muhammad Firda mengatakan masukan dari BMKG harus diperhatikan. Meski demikian pihaknya menjamin ketersediaan beberapa stok pangan.
“Stok kita cukup tidak ada masalah, yang harus jadi perhatian antisipasi cuaca ekstrim. Untuk Natal dan tahun baru tidak ada gejala permintaan yang luar biasa, terutama masyarakat yang memboyong banyak sehingga harga terkendali,” katanya.
Untuk pengawasan dan pengendalian inflasi, Firda menyebutkan TPID provinsi dan kabupaten/kota bersama Tim Satgas Pangan Polda mulai turun melakukan pemantauan harga dan stok pangan di pasar, gudang dan beberapa tempat lainnya. (rhm)

Exit mobile version