Site icon Berita Kota Makassar

Banjir Kian Meluas, 22 Sekolah Terendam

MAKASSAR, BKM — Banjir di Kota Makassar kian meluas. Rumah warga yang terendam bertambah banyak. Sekolah juga terkena dampaknya.
Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Makassar merilis, hingga Kamis (21/12), sedikitnya ada 22 sekolah yang kebanjiran. Masing-masing 20 gedung Sekolah Dasar (SD), dan dua SMP.
Sekolah tersebut memang sudah menjadi langganan banjir jika hujan deras melanda. Beruntung, proses belajar mengajar sebagian telah rampung usai ujian semester.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Disdik Kota Makassar, B Linda Deryani mengatakan, sekolah terendam banjir disebabkan oleh posisinya yang lebih rendah dari jalan. Tingginya debit air di saluran drainase juga membuat air dalam sekolah tidak bisa mengalir keluar.
”Biasanya, satu jam setelah hujan airnya sudah surut. Jadi cepatji surut kalau debit air di drainase sudah rendah,” kata Linda, Kamis (21/12).
Adapun sekolah yang membutuhkan waktu berminggu-minggu agar genangan air surut, yakni SD Inpres Kejenjeng, SD Inpres Jongaya, SD Inpres Barombong III, SDN Rappojawa 71, SD Buttatianang, SDN Karuwisi 1, 2 dan 3 serta SDN Maccini. Sementara dua gedung SMP, masing-masing SMPN 15 dan SMPN 7 Makassar. Ketinggian air di sekolah tersebut mencapai 30 hingga 50 cm.
“SD itu yang butuh waktu satu sampai dua minggu baru surut airnya. Karena daerahnya rendah. Meski hujan sedikit sudah ada genangan dan lama surutnya. Kita usulkan anggaran kemarin Rp1,9 miliar untuk rehabilitas sekolah,” ucapnya.
Kepala Disdik Kota Makassar, Ismunandar menambahkan, tahun depan akan dilakukan penimbunan terhadap sekolah yang banjir. Priotitasnya adalah sekolah yang masuk kategori banjir permanen.
“Ada dua kategori sekolah banjir versi kami. Pertama, ketika hujan redah, genangannya surut. Ketegori dua adalah sekolah banjir permanen, atau setiap tahun kena banjir dan lama surutnya. Sekolah yang banjir permanen itulah yang kami prioritaskan dilakukan penimbunan di 2018,” terangnya.

Air Setinggi Atap Rumah

Jumlah rumah warga yang terkena banjir di Jalan Toa Daeng III dan Jalan Swadaya, Kelurahan Batua, Kecamatan Manggala terus bertambah. Saat ini tercatat 371 rumah terendam, dengan 584 kepala keluarga (KK).
Jumlah itu terdiri dari 1.487 jiwa. Sebanyak 20 diantaranya adalah balita. Mereka kini berada di Masjid At Thoyyibah Jalan Swadaya Mas yang dijadikan lokasi penampungan sementara.
Banjir juga melanda kompleks perumahan BTN Kodam III, Jalan Paccerakkang, Kelurahan Katimbang, Kecamatan Biringkanaya. Sedikitnya 712 rumah yang dihuni 745 kepala keluarga, terendam. Kurang lebih 4.000 jiwa dievakuasi dan ditampung di tempat yang tersebar. Diantaranya rumah ibadah dan ruko.
Dari pantauan BKM, ketinggian air sebagian sudah mencapai atap rumah warga.
Di Jalan Biring Romang Lorong 2 RT 3/RW 7 Kelurahan Kapasa, Kecamatan Tamalanrea, banjir merendam 50 rumah. Ada 60 kepala keluarga dan 350 jiwa yang menempati rumah tersebut.
Sekretaris Kecamatan Tamalanrea, Reza menjelaskan, terendamnya rumah warga di Jalan Biring Romang disebabkan karena pembangunan perumahan Mutiara Gading. Pengembang menutup saluran Sungai Daya yang menjadi akses keluar masuknya kendaraan pengangkut bahan bangunan perumahan.
“Kalau genangan di wilayah kami sering terjadi. Tapi kalau banjir, baru kali ini. Ini disebabkan oleh pembangunan perumahan Mutiara Gading yang menimbun sungai, hingga air tidak bisa mengalir. Lebar yang ditutup itu ada 8 meter, dengan kedalaman hingga 5-6 meter. Ini juga salah satu penyebab terendamnya kompleks Kodam yang di Paccerakkang. Sementara sungai kita gali, antisipasi pengembang timbun lagi,” ungkap Reza saat ditemui di lokasi banjir Jalan Biring Romang.
Sekretaris Kecamatan Biringkanaya, Mahyuddin juga turun memantau lokasi banjir di Kompleks Kodam III Jalan Paccerakkang. Menurutnya, daerah ini pemukiman ini memang dataran rendah yang dikelilingi area persawahan.
Di lokasi penampungan warga korban banjir yang dievakuasi dari Kompleks Kodam III, telah berdiri dapur umum serta bantuan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Kompleks Perumahan Bukkang Mata Indah Residence, Paccerakkang juga tak luput dari banjir. Kurang lebih 116 rumah yang terendam air dengan ketinggian 50 cm hingga satu meter.
Ketua RT 5/RW4 Kelurahan Paccerakkang, Bachtiar menyebut, warga yang terdampak banjir berjumlah 210 jiwa. Terdiri dari dewasa 121 orang, usia lanjut 42 orang dan balita 47 orang. Angka tersebut telah dilaporkan ke BPBD.
Sebagian diantaranya telah diungsikan ke Masjid Arramun. Namun, ada pula yang masih bertahan di rumahnya masing-masing karena khawatir akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan.
Masjid Arramun yang dijadikan posko pengungsian telah ramai dengan warga. Dapur umum juga sudah didirikan. Bantuan berupa mi instan, beras dan gula mulai berdatangan.
Ketua Komisi A DPRD Kota Makassar, Abdi Asmara telah menyerahkan sumbangan kepada korban banjir di Kelurahan Katimbang. Ia menjelaskan, penyebab banjir disebabkan karena sungai yang ada di belakang kompleks Kodam III tidak lagi bisa menampung debit air.
”Kita minta sungai di belakang BTN Kodam III itu digali agar lebih dalam. Kemudian dibuatkan talud, supaya kalau hujan seperti sekarang, air tidak langsung meluap ke perumahan warga,” imbuhnya. (arf-jun-ita/rus)

Exit mobile version