Site icon Berita Kota Makassar

Mulai Sepi, Pembelinya Tinggal Penghobi

DUA tahun lalu, pedagang batu akik cukup berjaya. Lapak dan galeri batu akik tidak pernah sepi dikunjungi penggemar batu yang silih berganti datang membeli atau hanya sekadar melihat lihat saja.

Laporan: ARIF AL QADRY

Namun kondisi tersebut tidak bertahan lama. Sekira pertengahan 2016, demam batu akik berangsur surut. Penggemarnya mulai hilang, dan begitu juga pedagang batu akik musiman juga mulai hilang. Yang bertahan hanya pedagang yang benar-benar untuk melayani penggemar setia dan penghobi batu akik.
Di Jalan Hertasning, dulunya hampir sepanjang jalan begitu banyak pedagang batu akik. Mulai yang hanya menjual batu dalam bentuk bongkahan, sampai yang sudah jadi. Sekarang ini, sisa tiga pedagang saja yang bertahan berjualan dengan membuka lapak di pinggir Lapangan Emmy Saelan.
Salah satunya Haris Harianto, pedagang batu akik di Jalan Hertasning. Di depan penulis ia menuturkan, surutnya penggemar batu akik dirasakan pada pertengahan 2016. Kondisi tersebut ditandai di mana pendapatan yang dulunya bisa diraih Rp3 juta sampai Rp4 juta menurun sekitar Rp200 ribu sampai Rp400 ribu setiap hari.
” Sekarang sudah susah, untung kalau dalam sehari peroleh rezeki Rp100 ribu. Biasanya empat hari baru ada yang terjual dan saya bersyukur kalau sehari bisa ada yang terjual. Pembeli yang datang benar-benar penggemar dan hobi batu akik. Beda dulunya yang hanya demam saja biar anak SD ada juga,” sebut pria kelahiran Ujung Pandang, 08 September 1981.
Sebelum berjualan di Jalan Hertasning, Anto sempat berjualan di beberapa tempat dengan membuka lapak mulai di Jalan Sunu, Jalan Gatot Subroto, dan di Jalan Perintis Kemerdekaan, depan perwakilan Perusahaan Otobus (PO). Dia pindah ke Jalan Hertasning karena peminat batu akiknya mulai hilang.
Belum lama dia berjualan di Jalan Hertasning. Ia mulai berjualan di Jalan Hertasning setelah dipanggil oleh temannya yang sudah cukup lama berjualan di samping lapangan bola tersebut. Meski animo masyrakat datang membeli atau sekadar melihat-lihat cincin di lapak jualannya juga rendah, setidaknya lokasi tersebut bisa melindunginya dari hujan dan panas.
” Saya buka dari 09:00 sampai 15:00. Jualannya sama, masih sepi. Tapi lokasinya bagus karena ada atap yang bisa lindungi saya dan barang-barangku dari hujan dan panas. Dulu di Jalan Perintis terbuka, kalau hujan harus segera tutup barang pakai terpal,” sebutnya.
Harga cincin batu akik yang dijualnya bervariatif mulai dari ratusan ribu sampai jutaan. Tergantung dari jenis batunya. Dari beberapa jenis batu yang dijual seperti batu kalimaya, sisik naga, bacan, obi dan tampaning asal Soppeng. Batu black opal asal Banten menjadi andalan yang dijual dengan harga yang dimulai Rp150 ribu. “Black opal menjadi primadona disini, karena sedikit penjual cincin yang masih menjual batu ini. Yang beli memang yang hobi batu,” ucapnya. (arf)

Exit mobile version