Site icon Berita Kota Makassar

Banjir Setinggi Atap di Blok X Antang

MAKASSAR, BKM — Banjir parah melanda pemukiman warga di Blok X Perumnas Antang. Seluruh rumah telah terendam. Bahkan, air sebagian sudah mencapai atap rumah. Penghuninya pun dievakuasi.
”Masih sementara evakuasi untuk warga Blok X Antang. Banjir tahun ini lebih parah dibanding tahun sebelumnya. Belum diketahui berapa orang yang mengungsi. Karena sebagian ada yang ke rumah ke keluarganya. Sebagian lagi dievakusi ke tempat yang sudah disiapkan,” kata Lurah Manggala, Anshar kemarin.
Guyuran hujan yang begitu lebat juga merendam wilayah yang selama ini tidak pernah dilanda banjir. Salah satunya di Jalan Adhyaksa, Kelurahan Pandang, Kecamatan Panakkukang.
Pandy, warga setempat mengatakan, rumahnya berada di samping kanan Hotel Swissbellinn Panakkukang kini sudah kebanjiran. ”Ini pertama kali rumah saya dimasuki air,” ujarnya, Jumat (22/12).
Sementara lokasi yang masih terendam banjir hingga hari keempat, yakni Kompleks Veteran, Jalan Swadaya, Jalan Toa Daeng III dan Bontobila, Kelurahan Batua, Kecamatan Manggala. Jumlah korban banjir terus bertambah.
Selain di Batua, ada enam kelurahan lainnya di Kecamatan Manggala yang tak luput dari banjir. Yakni Kelurahan Antang, Manggala, Bangkala, Borong Tamangapa dan Bitoa.
Di lokasi pengungsian Jalan Swadaya Mas, warga yang mengungsi di Masjid At Toyyibah semakin banyak jumlahnya. Meski begitu, kehadirannya tidak menghalangi warga untuk menunaikan salat Jumat, kemarin. Mereka bahkan banyak yang memberikan sumbangan. Dapur umum juga sudah didirikan.

Dinas PU Keruk Kanal

Agar banjir yang terjadi di Kota Makassar tidak bertambah parah, Dinas Pekerjaan Umum (PU) turun melakukan pengerukan sedimen di kanal yang berada di samping Masjid Al Markaz, Jalan Masjid Raya, Jumat (22/12) siang.
Kepala Dinas PU Makassar Muh Ansar mengatakan, pengerukan merupakan tugas rutin yang dilakukan sepanjang tahun sejak Januari sampai Desember. Namun khusus musim hujan seperti sekarang ini, pengerukan lebih intens dilakukan.
Sebenarnya, kata Ansar, pemeliharaan kanal di Makassar menjadi tugas dan kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWS PJ). Sementara jalan nasional di depan kantor Gubernur Sulsel Jalan Urip Sumoharjo, merupakan tugas Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) Metropolitan XIII.
Dia menambahkan, dalam pengelolaan dan pemeliharaan saluran air di Kota Makassar tidak sepenuhnya menjadi tugas pemerintah kota saja. Tetapi juga BBWS PJ, Dinas PU Sulsel dan BBPJN.
“Ada tiga kewenangan dalam pengelolaan sumber daya air. BBWS PJ memiliki tugas dan kewenangan dalam mengurusi sungai-sungai. Kenyataannya di lapangan, yang melakukan pengerukan sedimentasi dan perbaikan fisik di jalan nasional itu Dinas PU Makassar. Kalau itu tidak lakukan dan hanya menunggu dari pihak terkait, akan terlambat dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” terangnya.
Diakui Ansar, banjir yang terjadi di Kecamatan Biringkanaya dikarenakan air sungai Tallo naik. Sementara banjir di Jalan Swadaya disebabkan air kanal Pampamg meluap hingga naik ke pemukiman warga. Selain itu, adanya saluran dari Gowa masuk ke Kota Makassar dan tertampung di waduk di Borong.
“Melihat histori di tahun-tahun sebelumnya, kejadian seperti ini sudah pernah terjadi ketika curah hujan tinggi. Kita sudah melakukan langkah antisipasi secara maksimal sesuai sumber daya yang kami punya dengan menerjunkan alat-alat dan satgas,” jelasnya.
Kabid Bangunan Air Dinas PU Makassar, Fuad Azis menambahkan, khusus pemeliharaan saluran yang akhirnya mengarah ke kanal, harus rutin dilakukan pengerukan sedimentasi. Tujuannya agar tidak terjadi arus balik karena pendangkalan yang membuat kembalinya air kanal masuk saluran drainase.
“Pengerukan yang kita lakukan ini membantu teman-teman di balai pengerukan sedimentasi di kanal-kanal. Upaya lain yang dilakukan, semua perumahan nantinya membuat kolam yang bisa menampung air sementara untuk masuk langsung ke kanal,” terangnya.

Curah Hujan Tinggi

Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut, hujan turun cukup deras di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan dalam beberapa hari terakhir. Curah hujan lebih dari 100 mm dalam 24 jam. Makassar sendiri merupakan salah satu daerah dengan curah hujan yang tinggi.
Tercatat di BMKG Wilayah IV Makassar, curah hujan mencapai 166 mm. Di Stasiun Meteorologi Maritim Paotere mencapai 150 mm. Sedangkan di Stamet Hasanuddin Makassar tercatat curah hujan mencapai 162,5 mm.
Prakirawan BMKG, Siswanto mengatakan curah hujan dengan intensitas lebat ini terjadi karena adanya daerah pertemuan angin di sekitar wilayah Sulawesi Selatan bagian barat. Juga karena adanya angin baratan yang membawa uap air.
Kedua kondisi ini menyebabkan meningkatnya pertumbuhan awan dan hujan di sekitar wilayah Sulawesi Selatan, khususnya Sulawesi Selatan bagian barat.
Hujan dengan intesitas sedang-sangat lebat diperkirakan masih berpotensi terjadi dalam tiga hari ke depan. Terutama di wilayah Kota Makassar, Kabupaten Maros, Pangkep, Barru, Pinrang, Kota Parepare, Gowa, Takalar, Jeneponto, dan Bantaeng.
Angin yang bertiup di atas wilayah Sulawesi Selatan pada umumnya dari arah barat-barat daya dengan kecepatan 05 – 21 knot. Tinggi gelombang laut antara 1,25 – 2,5 meter dapat terjadi di Selat Makassar bagian Selatan, perairan Barat Sulawesi Selatan, perairan Kepulauan Sabalana, Perairan Kepulauan Selayar dan Teluk Bone bagian Selatan. Sedangkan tinggi gelombang bisa mencapai 2,5-4,0 meter terjadi di Laut Flores.
“Kondisi curah hujan tinggi ini berpotensi menimbulkan dampak lanjutan, seperti banjir dan longsor. Masyarakat diimbau agar waspada dan berhati-hati dalam melakukan aktifitas sehari-hari,” kata Siswanto. (jun-nug-arf/rus)

Exit mobile version