Site icon Berita Kota Makassar

Cuma Orang ‘Gila’ yang Mau Urus Olah Raga

MAKASSAR, BKM — Pembinaan serta peningkatan prestasi olah raga kerap menemui berbagai kendala. Selain porsi anggaran yang disiapkan pemerintah cukup terbatas, banyak bidang yang menjadi fokus pembiayaan. Apalagi tahun depan, sebagai tahun politik.
Dalam Diskusi Akhir Tahun yang digelar Harian Fajar di Lantai 1 Graha Pena, Kamis (28/12), dibahas berbagai persoalan yang membelit dua olah raga kita. Diskusi mengusung tema; Raih Prestasi
Tanpa Pembajakan Atlet.
Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto yang tampil sebagai narasumber, secara terang-terangan mengatakan kalau ingin membangun olah raga, kota harus mencari orang ‘gila’.
“Cuma orang ‘gila’ yang mau urus olah raga. Kenapa? Karena tidak ada interest apa-apa. Kalau politik kita kasih keluar uang, dapat dampak politiknya. Kalau di olahraga, kita keluar uang, tidak mungkin kembali. Orang yang punya orientasi luar biasa yang mau urus olah raga,” ungkap lelaki yang akrab disapa Danny Pomanto itu.
Selain butuh manajemen yang baik dan profesional, serta orang yang rela mewakafkan dirinya, menurut Danny, olah raga juga sedang diadang dengan sistem begal alias bajak membajak atlet.
“Kondisi terberat dalam dunia olah raga kita adalah bajak membajak atlet. Ini sebenarnya harus diperangi karena akan berpengaruh pada prestasi kita,” jelas Danny.
Dia menegaskan, kita harus bisa mengubah paradigma kalau perolehan medali dalam sebuah event olah raga itu adalah segalanya. Karena itu, dibutuhkan strategi dan upaya khusus pemerintah agar atletnya tidak lari ke daerah lain sebab iming-iming tingginya honor yang ditawarkan.
Untuk menjaga kesejahteraan atletnya, khususnya yang berprestasi, Danny mengaku merancang kebijakan khusus untuk memberi ruang kepada mereka memperoleh pekerjaan dan kesejahteraan layak. Misalnya ada atlet yang belum bekerja, akan diangkat sebagai tenaga honorer di lingkup Pemkot Makassar.
Selain itu, untuk merangsang atlet berprestasi, jika sudah memenangkan event olah raga bergengsi sebanyak lima kali, akan diangkat menjadi warga kehormatan.
Selain itu, Danny juga sudah menginstruksikan kepada Dinas Pemuda dan Olah Raga (Dispora) untuk membuat venue maupun fasilitas olah raga sebanyak mungkin hingga ke kelurahan.
“Tugas saya juga mendampingi KONI Makassar menjadi bagian yang merumuskan bagaimana target mencapai dan pasca prestasi. Kalau atlet pasca prestasi ada jaminannya, maka orang akan berprestasi dengan baik,” jelas mantan atlet softball itu.
Menurutnya, olahraga perlu diperjuangkan. Sistem harus dirancang dengan baik, harus dengan visi dan paradigma yang benar.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Makassar, Achmad Hendra Hakamuddin, mengatakan perkembangan olahraga di Kota Makassar cukup menggembirakan. Berbagai event, baik yang berskala lokal, regional, nasional, hingga internasional telah dilaksanakan.
Bahkan menjadi kebanggaan, karena saat event internasional F8, ada tiga cabang olah raga diperkenalkan. Yakni mua thay, jetski, dan fly board.
Pesatnya perkembangan olahraga di Kota Makassar, bisa dilihat dari bertambahnya cabang olah raga dan pembentukan pengurus-pengurus cabang olah raga. Ada kricket, jet pool, barongsai dan masih banyak lagi.
“Ini menandakan jika Makassar menuju kota dunia. Tidak hanya dilihat dari perkembangan infrastruktur saja, tapi juga dilihat dari perkembangan olah raga. Ini tidak lain dari keaktifan Ketua KONI. Alhamdulillah, cabor yang tercatat ada sekitar 36. Perkembangan olahraga kita tidak bisa lihat dari berapa banyak event atau seberapa banyak pengurus cabor yang telah dibentuk,” ungkap Achmad Hendra.
Dia menambahkan, jika pembinaan olah raga dilakukan dengan baik, tentu saja tidak ada istilah bajak membajak dan begal membegal. Kenapa fenomena itu bisa terjadi? Karena ada semangat primordial daerah untuk kumpulkan medali sebanyak-banyaknya sehingga memakai cara yang instan.
Bajak membajak kalau akhirnya jadi juara, sama saja dengan membeli piala yang sangat bertentangan dengan semangat olah raga yang selalu dijunjung tinggi, yakni patriotisme.
”Jadi kalau tradisi begal membegal tetap terjadi, mending tidak usah aja ada event olahraga,” cetusnya.
Soal pembinaan olah raga, ada banyak komponen yang terlibat. Mulai KONI, pemkot dalam hal ini Dispora dan pihak swasta.
Ketua KONI Makassar, Agar Jaya mengemukakan, berbicara soal pembajakan atlet, yang merasa paling dirugikan di Sulsel adalah Makassar.
Dia memberi contoh saat kompetisi renang di Selayar. Wagub mengatakan Selayar hebat meskipun tak punya kolam renang, mampu menjadi juara umum. Namun setelah diselidiki, ternyata atlet yang dari Makassar mewakili Selayar.
“Entah itu atlet yang latihan di sini ataukah memang atlet Makassar yang dipindahkan mewakili Selayar. Itulah fenomena yang terjadi, ” ungkapnya.
Pemindahan atlet Makassar ada beberapa cara. Salah satunya begal dengan modus menjanjikan bonus yang lebih besar dari Makassar. Biasanya itu dilakukan jauh sebelum pra Porda. Jadi memang butuh komitmen serta itikad baik berbagai pihak untuk mengatasi aksi begal membegal atlet ini.
Dekan FIK UNM Prof Dr Ikhsan,MKes mengatakan butuh komitmen berbagai pihak untuk mengembangkan olahraga di daerah ini. Istilah memasyarakatkan olah raga dan mengolahragakan masyarakat harus kembali digaungkan.
Olahraga harus dikembalikan ke khittahnya sebagai momen untuk meraih prestasi, bertanding secara fair, menjunjung tinggi persaudaraan dan sportifitas. Bukan sekadar untuk mengumpulkan medali.
Olah raga juga dibutuhkan di era kekinian, di mana masyarakat, khususnya di perkotaan butuh sarana untuk olah tubuh. Sehingga dibutuhkan sarana serta fasilitas yang representatif. (rhm/rus)

Exit mobile version