“DETEKSI dan terapi sedini mungkin akan menjadikan si penderita lebih dapat menyesuaikan dirinya dengan yang normal,” pesan Ratman kepada para orang tua yang memiliki anak autis.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
BIASANYA, para anggota Komunitas Terapi ABA Makassar berkumpul dan berdiskusi mengenai autis. Ada banyak yang dibahas. Mulai dari apa itu autisme. Bagaimana bisa terjadi, pencegahan, sampai bagaimana cara mengobati.
Mereka hanya tak mau jika hal yang terjadi pada anak-anak dan keluarga mereka, terjadi pula terhadap anak-anak lainnya. Dan yang paling penting, mereka ingin menyembuhkan anak-anak serta keluarga mereka dari autis.
Semua anggota yang tergabung dalam komunitas ini memiliki anak ataupun keluarga penderita autis. Makanya, pastilah mereka mengerti betul akan autis itu sendiri, dan bagaimana cara memperlakukan mereka.
Kadang-kadang terapi harus dilakukan seumur hidup kepada penderita. Hal ini akan membuat anak dengan autis malah akan cukup cerdas setelah mendapat terapi autisme sedini mungkin. Tapi sudah jelas, terkadang terapi harus dilakukan hingga seumur hidup.
Meski demikian, Ratman beserta para anggota kominitas terus berusaha mencari solusi dan ruang tidak hanya untuk anaknya. Melainkan kepada orang tua yang senasib dengan buah hatinya. Salah satu caranya yaitu dengan menyediakan ahli terapi.
Hingga saat ini mereka sukses telah menyediakan para ahli terapi. Para terapis tersebut, saat ini sudah tersebar pada beberapa daerah di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya kini mencapai kurang lebih 60 orang. Hal ini tentunya sebagai wadah untuk para anggota komunitas dan para orang tua lainnya, sehingga tak repot-repot lagi mencari ahli terapi autis di berbagai daerah.
“Saya sendiri sebagai koordinator bertugas menyiapkan ahli terapi. Saat ini ahli terapi di Komunitas Terapi ABA Makassar yang sudah saya rekrut kurang lebih 60 orang dan telah tersebar di beberapa daerah se-Indonesia,” tandas Ratman.
Ahli terapi yang direkrut telah mengikuti pelatihan tersendiri secara khusus. Mereka dibiayai oleh orang tua masing-masing anak. Serta harus mengikuti kontrak yang telah disetujui bersama.
“Sebenarnya Komunitas Terapi ABA Makassar tidak hanya menyediakan ahli terapi. Tapi di sisi lain membuka lapangan kerja. Karena ketika ada permintaan dari orang tua anak penyandang autis yang butuh terapis, maka kami kembali merekrut,” beber Ratman.
Setiap terapis yang telah direkrut, nantinya akan mendapat upah sesuai dengan standar yang ditentukan oleh pemerintah setempat. Tentu saja jika sudah mendampingi anak penyandang autis hingga diterapi dengan baik.
“Biaya terapi autis di tempat lain, untuk satu kali sekitar Rp2 juta. Sementara ahli terapi yang kami siapkan di Komunitas Terapi ABA Makassar selama satu bulan melaksanakan tugas, biayanya sebenarnya tidak ada. Cuma memberikan upah untuk biaya hidup sesuai UMR saja,” kata Ratman.
Ia berharap, komunitas ini bisa semakin berkembang lagi. Kian dikenal oleh orang banyak. Dan tentunya, bisa semakin lebih membantu para orang tua yang memiliki anak serta keluarga yang mengalami autis. (*/rus/b)
