BAGAIMANA jadinya jika kita dipercayakan untuk mengabdi di sebuah kampung yang terpencil? Berada di sebuah pulau yang jauh dari akses kota? Tak ada jaringan signal telepon, apalagi internet. Apalagi, tugas di sana adalah mengubah wajah kampung itu menjadi lebih maju.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
SEBAGIAN dari kita mungkin akan merasa jika hal itu tak akan bermanfaat bagi diri sendiri. Ada pula yang berpikir, bagaimana mau melakukan hal sesulit itu, padahal segala fasilitas yang amat terjangkau ada di sekitar kita.
Namun, ada juga yang akan merasa jika itu adalah sebuah tugas mulia dan harus dijalankan sebagai warga negara yang baik. Bisa jadi, tipe ketiga inilah yang masuk golongan bukan orang biasa.
BKM yang ikut serta dalam sebuah diskusi akhir tahun yang diadakan oleh beberapa penggiat literasi menemukan sosok itu. Seseorang yang hingga kini masih berusaha untuk membangun citra salah satu kampung di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Namanya Ma’ruf M Nur. Ia mencoba mengubah wajah kampung di Pulau Balikuku melalui literasi.
Ma’ruf adalah pria kelahiran Desa Bone-bone, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Pria 29 tahun ini memang dikenal ‘gila’ akan pengabdian. Baginya, kebermanfaatan tindakan bagi orang lain adalah kebahagiaan baginya.
Diawali dengan program Patriot Energi yang dicanangkan oleh Pemkab Berau, Ma’ruf awal-awalnya mulai menganalisis apa yang dibutuhkan oleh masyarakat di sana. Ternyata anak-anak di pulau itu tidak memiliki bahan bacaan yang bisa dijadikan referensi belajar.
“Mereka di sana tidak ada buku. Makanya, saya berpikir sepertinya bagus kalau mereka punya akses buku-buku bacaan. Begitupun juga buku-buku sekolah,” kata Ma’ruf.
Masyarakat di sana terbilang berada pada kondisi ekonomi bawah. Karena tidak adanya sekolah menengah. Biasanya anak-anak harus keluar pulau untuk melanjutkan sekolah. Bahkan, tidak sedikit justru orang tua melarang anak-anaknya melanjutkan sekolah, karena takut dipengaruhi oleh pemikiran luar dan tak kembali ke kampung.
Dari hasil analisisnya itulah, ia pun menggagas dan mendirikan Perpustakaan Apung Balikuku di pulau tersebut. Mengapa namanya pustaka apung? Karena memang perpustakaan tersebut ia dirikan di atas laut. Letaknya berada di pulau.
Tujuannya jelas, mengubah wajah kampung melalui buku. Menambah wawasan masyarakat di sana, dan membuka pikiran anak-anak untuk bisa mengubah kampungnya menjadi lebih baik. Sasaran dari perpustakaan ini sendiri adalah anak-anak.
Ma’ruf mengumpulkan buku di perpustakaannya melalui berbagai sumber. Bukan hanya dari milik pribadinya, namun ia berhasil menjalin relasi dengan beberapa instansi dan kelompok untuk turut serta membantu menyumbangkan buku. Antara lain dari Pustaka Bergerak Indonesia, Kompas Gramedia, Grasindo, Basnas, serta Polri.
Di Pustaka Apung Balikuku, anak-anak bukan hanya membaca. Di sana mereka bisa sekaligus menggambar, melukis, mewarnai, belajar fotografi, serta belajar mengoperasikan komputer.
Banyak cerita menarik selama Ma’ruf menjalankan pengabdiannya. Mulai dari semangat anak-anak di sana, sampai harus berurusan dengan TNI-AL.
Anak-anak di daerah tersebut, dikatakan Ma’ruf begitu amat produktif selama adanya perpustakaan. Ketika mereka disodorkan buku, mereka seperti mempunyai mainan baru. Begitu amat bahagia.
Mereka bahkan biasa tak kenal waktu datang ke perpustakaan. Sampai Ma’ruf pun tak jarang terkena bujuk rayu untuk membaca. “Mereka selalu melakukan apapun untuk bisa membaca di perpus. Biasa itu anak-anak bujuk saya. Mereka bahkan mau cuci piringku sekadar untuk dibukakan perpus. Padahal saya tidak pernah pernah suruh mereka begitu,” kata Ma’ruf.
Saking produktifnya anak-anak di sana, mereka bahkan tak mau pulang jika tidak disuruh oleh Ma’ruf. Biasa pula orangtuanya langsung yang menjemputnya di perpustakaan untuk pulang.
Suatu hari, Ma’ruf juga pernah ditahan sementara oleh TNI-AL. Waktu itu ia membawa banyak buku, namun melalui jalur sungai yang langsung menuju ke laut untuk sampai ke pulau.
Saat itu mereka menahan Ma’ruf dan langsung menanyai isi dari barang bawaannya. “Ditanya-tanya saya sama tentara itu hari. Dua jam. Setelah itu baru bisa bebas,” terangnya.
Ia masih banyak menyisakan harapan bagi masyarakat, khususnya anak-anak di sana. “Semoga anak-anak tidak berhenti membaca. Bahkan ketika saya sudah tidak mengabdi lagi di sana. Semoga juga buku terus bisa terdistribusi ke sana,” imbuhnya. (*/rus/b)
