Site icon Berita Kota Makassar

Seringkali Ditegur dan Dikejar Satpol PP

CUKUP banyak duka yang dirasa Muh Farid selama berprofesi sebagai pedagang kaki lima (PKL) di Kota Makassar. Selain harus siap kehujanan dan kepanasan, ia juga seringkali ditegur dan dikejar personel Satpol PP Kota Makassar yang turun melakukan operasi penertiban PKL.

Laporan: ARIF AL QADRY

Bahkan generator set (Genset) miliknya sempat disita personel Satpol PP Kota Makassar. Genset tersebut disita selama lima hari di kantor camat.
Selama lima hari, Farid bersama sepupunya terpaksa tidak berjualan. Karena genset yang digunakan sebagai pembangkit listrik untuk menerangi tempat jualannya masih disita. Diapun kemudian datang ke kantor camat dan membuat perjanjian untuk tidak lagi berjualan di wilayah Kecamatan Panakkukang. Perjanjian agar bisa mendapatkan kembali gensetnya.
” April kemarin gensetku disita waktu ada operasi dari Satpol PP Makassar wilayah Panakkukang. Gensetku disita selama lima hari dan saya ambil setelah membuat perjanjian. Inilah yang membikin saya heran, kenapa banyak ji PKL di wilayahnya tapi sebagian ji yang digusur padahal saya juga bayar retribusi,” katanya.
Farid mengakui, setiap hari dia membayar retribusi ke PD Pasar sebesar Rp10.000, tetapi masih saja ditegur Satpol PP. Sehingga ia berharap pemerintah kota bisa memberikan solusi agar PKL tetap berjualan dan mencari rezekinya di Kota Makassar.
” Kita mau PKL juga diperhatikan, kalau jualan kami menjadi masalah tolong diberikan solusinya. Karena kami juga mau hidup,” sebutnya.
Pernah kata Farid dirinya menjual jam tangannya ke toko online. Tetapi tidak berlangsung lama. Sebab pembeli online kebanyakan hanya orang-orangnya iseng, sehingga dia kembali fokus jualan offline menggunakan mobil pick up yang lebih menjanjikan.
” Jualan online lebih banyak orang tanya-tanya sampai tengah malam. Baru tidak ada ji yang beli. Ada satu bulan saya jualan online, saya berhenti dan fokus kembali berjualan offline,” ujarnya.
Dengan jualan menggunakan mobil pick up, dia mampu menjual 10 biji jam tangan seharga Rp100.000 per biji. Sementara di bulan puasa dia bisa menjual 10 sampai 20 biji jam tangan setiap harinya. Omzet yang dia dapat kemudian dia putar untuk modal termasuk biaya cicil kendaraan miliknya.
“Rata-rata harga Rp100.000 yang banyak dibeli orang-orang. Dan bulan puasa paling banyak terjual bisa sampai 20 biji jam tangan setiap hari. Beda kalau hari biasa seperti sekarang paling banyak 8 atau 10 biji setiap hari,” tutupnya. (arf)

Exit mobile version