MAKASSAR, BKM–Banyak pengalaman yang bisa dipetik dalam Film Maipa, Deapati dan Datu Museng. Keberanian, ketulusan cinta dan kecintaan terhadap daerahnya menyatu dalam film terbaik tersebut.
Ketua Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) Sulsel, Syahriar Tato yang turut bermain dalam Film Maipa Deapati mengatakan, film kolosal Maipa Deapati Datu Museng karya Paramedia Indonesia, akan tayang perdana di seluruh bioskop tanah air pada 11 Januari 2018.
Sebelumnya akan dilakukan gala premier 8 Januari pemutaran perdana.
” Jadi film ini target pasarnya internasional. Sehingga kami libatkan aktor tampan Shaheer Syeikh sebagai pemeran utama, karena saat ini Shaheer lagi terkenal,” kata Tato dan Wandi, juru bicara Paramedia saat berkunjungn ke redaksi Berita Kota Makassar, bersama para pemain Maepa Deapati dan Datu Museng, Kamis (4/1).
Lebih lanjut kata Syahriar Tato, untuk membuat film berlatar belakang sejarah tersebut, Paramedia Indonesia terlebih dahulu melakukan riset selama kurang lebih dua tahun. “Ini kan film sejarah, jadi kami harus riset dulu dan butuh waktu dua tahunan untuk itu,”ambah Om Tato, panggilan akrabnya.
Dalam kunjungannya Tato menambahkan dalam penangannya film ini dibutuhkan dukungan media.
” Kami butuh dukungan media, ini cerita sejarah, nuansa Bugis, Makassar, Sumbawa, pengorbanan seorang Maipa menghargai dirinya ketika Belanda meminta dirinya dan Maipa mempertahankan meminta kepada suaminya untuk membunuh dirinya,” tambah Tato.
Sementara itu, dalam sinopsis film itu menggambarkan keberanian Datu Museng sebagai panglima perang kesultanan Sumbawa.
Datu Museng diminta pulang ke tanah mangkasara (Makassar) untuk membantu keluarganya dan rakyat setempat. Mangkasar baru saja dikuasai oleh belanda. Datu Museng berangkat bersama pasukan terbaiknya menuju tanah Mangkasara, juga membawa istrinya Maipa Deapati, putri Sumbawa yang baru seminggu dinikahinya.
Setibanya di Tanah Mangkasara, Datu Museng dan seluruh pasukannya bergabung dengan pasukan Kerajaan Tallo, yang masih tersisa. Perang gerilya dimulai. Strategi dilakukan dengan cara merampok dan mengganggu konsentrasi pasukan Belanda.
Kabar tentang kehebatan Datu Museng dan pasukanya lalu sampai ke Tomalompoa (pimpinan tentara Belanda di Makassar), juga kabar tentang kecantikan Maipa Deapati, istri Datu Museng. Tomalompoa lalu mengirim mata mata untuk memastikan kecantikan Maipa. Ternyata Tomalompoaterbawa nafsu. Lalu menantang perang terbuka kepada Datu Museng. Tujuan utama sebenarnya, hanya ingin merebut Maipa karena Tomalompoa telah kasmaran dan terpesona atas kecantikan Maipa Deapati.
Perang pun terjadi, memperebut seorang Maipa. Perang pertama dimenangkan pasukan Datu Museng. Tomalompoalalu meminta tambahan pasukan kepada kelompok Belanda yang berada di Pulau Jawa. Ribuan orang serdadu Belanda dari Pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan, datang ke Makassar dan menyerbu pasukan Datu Museng, saat itu hanya berkekuatan sekitar seratus orang.
Menyadari kalah dalam jumlah, pasukan Datu Museng tetap melakukan perlawanan, sekalipun satu persatu orang dekat Datu Museng gugur dalam penyerbuan itu. Kekalahan di depan mata,membuat kekhawatiran dan kecemasan Maipa Deapati sangat signifikan. Takut jatuh ke pelukan Tomalompoa, lalu mendesak Datu Museng untuk membunuhnya. “ Jika kau benar-benar mencintaiku, bunuhlah aku. Sekalipun kau tak membunuhku,aku tetap bunuh diri, sebelum Tomalompoa menyentuhku,” minta Maipa kepada suaminya Datu Museng. Atas desakan cinta, akhirnya Datu Museng memenuhi permintaan sang isteri. Dengan sangat berat dan bertentangan hati nuraninya, sembari mulut dan tangan bergetar, Datu Musengberpesan, “Istriku, duluanlah kau menghadap Ilahi, aku akan menyusulmu sebentar. Jika aku tidak datang sebelum waktu shalat Dhuhur, aku akan datang sebelum Ashar, dan jika aku tidak datang sebelum Ashar, aku pasti datang sebelum Mahgrib.”
Datu Museng lalu mengiris leher istri tercintanya. Lalu meletakan jenazah istrinya dalam keadaan duduk. Selanjutnya dia berdiri menghadapi tentara Belanda sendirian.
Hingga adzan Dhuhur Datu Museng masih berperang. Datang Azan Ashar, Datu Museng juga masih bertahan. Menjelang waktu shalat Maghrib, azan pun berkumandan. Datu Musengingat dan sadar akan janjinya untuk menyusul Maipa, istri tercintanya. Datu Museng lalu meminta Tomalompoaturun dari kudanya,berperang berhadapan menghadapinya. Ternyata si pimpinan pasukan Belanda Tomalompoa itu takut dan tak berani. Akhirnya Tomalompoa mengutus jagoanya, seorang pendekar sejati dari Tanah Makassar yang diperangkan oleh Zulkifli Gani Ottoh untuk turun dari kudanya, menghadapi Datu Museng. Mengetahui kelemahannya telah diketahui oleh sang Pendekar, Datu Museng lalu melepaskan semua kekuatan dan keahlian yang dia miliki. Dia membiarkan dan rela dirinya dibunuh. Lagi pula, sudah waktunya menyusul Maipa, isteri tercintanya. Sesuai janjinya, Datu Museng akhirnya wafat sesaat setelah azan Maghrib, menyusul Maipa Deapati menuju ke keabadian cinta mereka. (jun/war)
Film Maipa Deapati Tayang Perdana 11 Januari
