Site icon Berita Kota Makassar

Pengurangan Angka Kemiskinan Belum Terealisasi

MAKASSAR, BKM – Kepemimpinan Gubernur Sulsel, Syahrul YasIn Limpo dan Wakil Gubernur, Agus Arifin Nu’mang (Sayang) Jilid II akan berakhir April mendatang. Secara umum, pembangunan di Sulsel kurun waktu lima tahun terakhit bergerak cukup baik.

Kendati demikian, masih banyak catatan yang ditorehkan. Sejumlah persoalan belum diselesaikan secara maksimal.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, secara absolut selama periode September 2016 hingga September 2017, penduduk miskin di Sulsel untuk perkotaan mengalami kenaikan 15,90 ribu jiwa. Sedangkan di daerah pedesaan meningkat sebesar 13,27 ribu jiwa.
Namun secara umum, persentase kemiskinan Sulsel masih di bawah angka kemiskinan nasional yang mencapai 10,12 persen.
Merujuk pada data tersebut, Ketua Pansus RPJMD, Selle KS Dalle mengatakan masalah pengurangan angka kemiskinan itu menjadi pekerjaan yang semestinya harus dituntaskan karena belum sesuai dengan target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).
“Belum terealisasi. Dari segi target pengurangan angka kemiskinan belum tercapai sesuai yang tertuang dalam RPJMD,” bebernya usai Rapat Paripurna Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Akhir Masa Jabatan Gubernur periode 2013-2018.
Ia juga mengatakan laporan pertanggungjawaban yang disampaikan pemprov sangat fantastis. Ia ragu, pemprov bisa mencapainya. Perlu data yang akurat.
“Kita lihat dulu data yang disampaikan Pemprov dengan BPS. Jangan berspekulasi,” tegasnya.
Selle mengatakan Pemprov di jaman SAYANG II memang hujan penghargaan. Namun tak berarti mampu mencapai target realisasi RPJMD.
“Ukuran kesuksesan sebuah periode pemerintahan itu dilihat pada target RPJMD itu tercapai atau tidak. Kita apresiasi penghargaannya, tapi RPJMD-nya perlu dilihat dulu,” ungkap Sekretaris Komisi B itu.
Beberapa tanggapan dari akademisi ini menilai SAYANG Jilid II masih gagal dalam menyelesaikan beberapa tugasnya. Seperti yang diungkapkan Lukman Irwan, pengamat pemerintah dari Universitas Hasanuddin ini mengaku terdapat beberapa pencapaian Sayang jilid II yang belum diselesaikan, diantaranya target pencapaian IPM sul-sel sesuai RPJMD 2013-2018 untuk masuk 10 besar nasional sampai saat ini belum tercapai
“Sulsel masih berada di urutan 14 nasional, artinya SAYANG jilid 2 masih harus berpacu untuk mencapai target pemenuhan kebutuhan dasar secara menyeluruh, sehingga target ini bisa dicapai melalui kebijakan yang beriorentasi bagi rakyat kecil, bukan hanya fokus pada proyek-proyek yg mercusuar,” ungkap Lukman, Minggu (7/1).
Selain itu, Irwan juga mengulas beberapa ketidakseimbangan antara prestasi dan ketimpangan pada pemerintahan Syahrul dan Agus.
Menurutnya, walaupun Sulsel telah banyak mendapatkan penghargaan secara internasional & nasional serta pertumbuhan ekononi diatas rata-rata nasiona, namun kata dia indeks giniratio provinsi sulsel masih besar artinya masih terjadi ketimpangan yang menganga antara masyarakat kaya dan miskin.
“Hal ini menjadi tanggungjawab yang harus dibenahi oleh pak SYL di sisa masa jabatannya bagaimana pemerataan pertumbuhan ekonomi sehingga kesejahteraan bisa dinikmati oleh smua masyarakat dan wilayah di Sulsel dapat tumbuh berkembang secara merata,” lugasnya.
Untuk menyelesaikan persoalan diatas, Syahrul sebagai orang nomor satu di Sulsel dinilai sulit merampungkan di sisa waktu yang ada apabila bekerja sendiri. Sementara diketahui, dua pionir yang ia miliki, Wagub, Agus Arifin Nu’mang dan Sekda, Abdul Latif sibuk mengurus pencalonan dirinya sebagai kepala daerah.
Menanggapi hal itu, kata Irwan kontestasi pilkada sangat diharapkan tidak mengganggu kinerja pak Syahrul dan Agus untuk menyelesaikan bengkalai-bengkalai program yg sampai saat ini masih banyak yg harus dibenahi.
“Pak SYL harus serius juga menyelesaikan bengkalai pembangunan jalan trans sulawesi dan proyek kereta api pare-Makassar, ini sangat dinantikan oleh masyarakat dan jangan sampai pak SYL sudah selesai tapi program-program ini masih terbengkalai juga,” terangnya.
“Untuk hal-hal tersebut di atas apabila tidak segera ditangani maka akan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat kepada pak Syahrul & pak Aan yg akan berakibat secara elektoral. Yang dimanifestasikan sebagai klan yasin limpo pasti jg akan mendapatkan imbasan elektoral yg negatif,” tutup Lukman.
Sebelumnya, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo menanggapi terhadap data yang dikeluarkan BPS beberapa waktu lalu. Menurtnya data itu agak paradoks dengan tingkat pertumbuhan perekonimian Sulsel saat ini yang selalu berada di atas rata-rata nasional.
“Agak paradoks sih karena kita melihat pertumbuhan perekonomian yang baik. Pendapatan rakyat sesuai datanya meningkat. Nah, angka kemiskinannya kok meningkat,” kata Syahrul.
Namun menyikapi data ini, Syahrul berusaha untuk tetap tenang. Dia memberikan warning kepada pemerintah, khususnya yang terkait dengan persoalan kemiskinan agar terus berupaya dalam meningkatkan taraf hidup rakyat. Terus menggali program maupun kegiatan yang sasarannya jelas, langsung pada tingkat kesejahteraan masyarakat. (rhm)

Exit mobile version