Site icon Berita Kota Makassar

Dari Kapal Semi Tradisional, Ajari Anak di Berbagai Pulau

ORANG yang baik adalah mereka yang tak mau menyia-nyiakan ilmunya dan membagikannya. Tak terkecuali bagi wanita. Seorang perempuan bisa mengambil peran dalam menciptakan perubahan, tak jauh beda dengan lelaki.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

TIDAK sedikit wanita di kehidupan kekinian yang mampu tampil memberi inspirasi. Banyak dari mereka yang melakukan hal berbeda di luar kebiasaan. Mengabdi di beberapa pulau tanpa bayaran salah satunya. Tujuannya tak lain adalah untuk mencerdaskan anak bangsa.
Dia adalah Nur Al Marwah Asrul, inisiator The Floating School. Dengan membawa kapal semi tradisional, perempuan yang karib disapa Nunu ini siap membagi ilmu pada beberapa pulau di Indonesia.
BKM bertemu dengan Nunu di salah satu cafe yang terletak di kompleks Pasar Segar Makassar, Selasa (9/1). Ia tengah membawakan materi metode pembelajaran di tempat itu. Setelah usai, barulah perbincangan dilangsungkan.
Nur adalah wanita kelahiran Riyadh, Arab Saudi, 23 Mei 1990. Asalnya dari Kota Parepare. Lahir di Riyadh, karena kedua orang tuanya telah menetap dan berdomisili di sana sejak tahun 80-an. Ia adalah anak dari pasangan orang tua bernama Asrul Sani Saini dan Nurlaelah Mahmud.
Nur sendiri adalah seorang alumni Biomedik, Pascasarjana Unhas. Saat ini tinggal di BTN Asal Mula, Tamalanrea, Makassar.
Berawal dari kegiatan kepemudaan Young Southeast Asean Leaders Initiative-Professional Fellowship Program 2016 (YSEALI), tiga anak muda asal Sulsel berencana mengabdikan dirinya. Salah satunya adalah Nur. Mereka kemudian mendirikan dan menjadi inisiator The Floating School.
Akhirnya, pada 28 November 2016, The Floating School resmi berdiri. The Floating School adalah kapal semitradisional yang membawa berbagai penunjang pendidikan. Antara lain buku, alat sekolah, dan fasilitator yang siap menjadi pengajar.
Mereka menjangkau berbagai pulau untuk memberikan workshop kreatif bagi anak-anak di pulau yang jarang menyentuh fasilitas luar. Tujuannya begitu mulia.
Nunu menerangkan, ia beserta temannya mendirikan The Floating School supaya dapat memberikan wadah belajar kepada anak-anak di kepulauan. Supaya anak-anak di berbagai pulau yang disinggahinya bisa belajar berbagai keterampilan serta mengasah kreatifitas.
Selain itu, The Floating School juga menjadi wadah bagi mereka untuk lebih mengakrabkan diri dengan anak-anak pulau. “Jadi konsepnya ini sekolah yang mendatangi siswa,” tuturnya.
Ada berbagai kelas dalam The Floating School ini. Semuanya mengajarkan skill. Jadi anak-anak di pulau bisa belajar berbagai keahlian seperti komputer, menggambar, menyanyi, menari, fotografi, menulis dan prakarya.
“Anak-anak yang kami sasar secara umum di pulau-pulau itu. Tidak membatasi mereka pelajar SD atau SMP. Tapi biasanya anak-anak usia 13 tahun sampai usia 20-an tahun,” jelas Nur. (*/rus/b)

Exit mobile version