DIKARENAKAN tak punya pekerjaan tetap hanya sebagai tukang service elektronik keliling, Djalil memutuskan untuk bantu-bantu membersihkan masjid DPRD Makassar yang berada di belakang gedung. Apalagi, karena faktor usia ia tidak mungkin bisa bekerja di instansi pemerintah.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Tapi apa yang dibayangkannya ternyata berbeda dengan kenyataan. Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang memberikan rezeki ke Djalil karena kesabarannya bekerja di masjid.
Dari lokasi itulah, Djalil bertemu salah seorang pegawai di DPRD Makassar dan memanggilnya bekerja sebagai tenaga kontrak hingga tenaga honorer.
” Ia dulu ada teman yang panggil jadi tenaga kontrak. Sambil bekerja, saya juga membuka kantin,” ucapnya.
Setelah 10 tahun menjadi tenaga honorer dan berjualan di kantin, kini Djalil sudah sangat terkenal di kalangan legislator di Makassar.
Tak anyal jika sudah memasuki makan siang dirinya kerab menjadi langganan makanan para legislator Makassar dan pegawai yang ada di gedung wakil rakyat tersebut. Hal itulah yang membuat Djalil merasa bahagia jika menu kantinnya banyak disukai dan menjadi tempat makan para anggota dewan.
” Syukur sekali mi’ saya nak, kalau banyak yang suka makanan ku. Biasa memang dewan makan disini atau minta dibawahkan makanan ke ruangannya, biasa juga mereka bilang kenapa dijual murah makanannya,” ungkapnya saat ditemui penulis.
Namun menurut Djalil harga ia patok untuk menu makanan dan minumannya sudah lebih dari cukup untuk bisa memenuhi kebutuhannya sehari-hari, meski ia hanya medapatkan keuntungan Rp500 hingga Rp1.000 rupiah dari satu piring makanan yang ia jual.
” Saya belanja sehari-hari di pasar Rp400 ribu modal ku. Biasa saya dapat sehari-hari Rp450-500 ribu, sudah untungma 50 ribu,” Katanya.
Selain itu tidak jarang ia juga mendapatkan fee dari para anggota dewan yang makan di kantinnya. Tidak hanya anggota dewan, biasanya para sesama pegawai juga memberikannya uang tambahan ke dirinya.
” Biasa memang kalau dewan makan Rp50 ribu baru uangnya 100, biasa na kasih semua kah. Dia bilang suruh simpan saja untuk uang belanja,” bebernya.
Namun kesyukurannya, ia juga mempunyai kisah sendiri ketika banyak yang berutang di kantinnya. Akan tetapi ia tidak mempermasalahkan, sebab sesama temannya akan mengerti kondisinya.
“Tidak masalah ji nak. Biasa kalau melintas atau mereka datang sendiri disini untuk ingatkan saya utangnya,” tuturnya.
Pria yang berumur 59 tahun hanya berharap makanan dan kinerjanya di DPRD Makassar dihargai, itu sudah lebih dari cukup.
Ia juga selama ini bekerja dibantu oleh anaknya. Ketika anaknya sudah mempunyai keluarga baru, hanya dirinya dan istrinya Rosmayanti yang sering membantunya kalah ia kewalahan melayani pembeli.
” Dulu saya sendiriji, tapi biasa ada anakku yang bantu. Tapi bekerja mi juga di kecamatan makanya tinggal saya dan ibu yang disini,” tutupnya.
Kepada penulis, ia menceritakan kisahnya yang sejak 2009 diangkat menjadi tenaga honorer di DPRD Makassar.
” Kalau gaji mau diandalkan sebulan tidak cukup. Dulunya saya hanya menjual makanan seadanya hanya untuk menghilangkan lapar teman-teman di kantor. Tapi karena banyak permintaan, makanya saya memberanikan diri membuka kantin dan menjual lauk,” ungkapnya saat ditemui di belakang kantor DPRD Makassar.
Hujan gerimis dan udara yang sedikit dingin tidak menyurutkan tangan-tangan Abu Djalil untuk mencuci piring dan gelas yang telah digunakan pembeli.
Menurutnya, hasil jualan di kantin adalah modal selama ini untuk menghidupi istri dan keempat anaknya. Anaknya-pun tersenyum bisa mengenyam pendidikan hingga ke perguruan tinggi di Makassar.
Sebelum menjadi tenaga honorer di DPRD Makassar, Djalil pernah terangkat menjadi pegawai negeri sipil di salah stasiun TV pemerintah di Makassar. Tapi karena capek bolak-balik ke Ternate, ia lebih memilih mengundurkan diri menjadi PNS. Apalagi, ibunya juga sering sakit-sakit, yang mengharuskan saya bolak-balik Ternate-Makassar. ” Saya kewalahan harus bolak-balik ke Ternate-Makassar untuk merawat ibu, maka saya putuskan berhenti bekerja,” katanya.
Selepas Djalil menghentikan statusnya sebagai PNS, ia diangkat menjadi pegawai Telkom. Namun kesempatan itu juga ia lepas dikarenakan dirinya tidak ingin di bagian teknisi listrik. ” Saat itu saya hanya di uji saja, tapi sudah terlanjur mengundurkan diri dan beralih menjadi tukang servis TV dan kulkas. Karena saya pikir pendapatan servis itu dua kali lipat dibanding gaji PNS. Baru saya menyesal sekarang,” jelasnya.
Djalil datang ke DPRD pada pukul 08.00 pagi. Sebelum datang, ia terlebih dahulu berbelanja di pasar untuk membeli kebutuhan di kantinnya, selepas pukul 09.00 pagi ia sudah membuka warungnya hingga magrib menjelang.
“Saya setiap hari datang ke kantor 08.00 pagi, tapi sebelum datang saya singgah dulu di pasar. Baru nanti jam 09.00 saya sudah masak dan sambil kerja di Bagian Perlengkapan,” tuturnya.(ita)
