Site icon Berita Kota Makassar

Ada Galeri Kaligrafi Lontarak Bugis-Makassar

BUKAN hanya mengajar anak-anak. ASCenter lebih dari itu. Orang-orang kurang mampu yang ada di sekitarnya tak luput dari santunan. Unsur kebudayaan juga sangat kental di tempat ini.

Laporan: Nugroho Nafika Kassa

SEJATINYA, ASCenter merupakan kediaman pribadi Prof Dr Aminuddin Salle. Namun, ia tak mau jika rumah itu nantinya menjadi warisan bagi anak-anaknya. Baginya, biarlah kegiatan sosial di tempat ini terus berlanjut sampai kapanpun.
“Alhamdulillah, empat anak saya sudah dapat pekerjaan yang bagus. Jadi saya tidak mau menjadikan tempat ini sebagai warisan. Biarlah tempat ini selalu ada,” kata Prof Amin.
Suami dari Suryana Hamid ini menyebut, saat ini anak didikannya ada sekitar 30 sampai 40 anak. Setelah dididik di ASCenter, karakter mereka semakin baik. Seperti, anak-anak didikannya sekarang tak pernah sekalipun mengambil barang yang bukan miliknya.
Prof Amin memberi contoh, biasanya ia tak pernah menutup pagar ASCenter. Namun ketika berbagai pohon berbuah, anak-anak tak pernah mengambilnya.
“Saya selalu mengajarkan mereka untuk tidak boleh sekalipun mengambil barang yang bukan hak milik kita. Mereka sekarang seperti itu. Jadi kalau mau makan mangga, rambutan, mereka pasti akan minta izin dulu,” jelasnya.
Gaya mendidik Prof Amin juga terlihat tak begitu kaku. Setiap akhir pekan, anak-anak didikannya bahkan biasa diajaknya untuk piknik bersama.
Jika hari libur tiba, Prof Amin membawa mereka ke tempat rekreasi yang sarat dengan ilmu pengetahuan. Seperti ke Benteng Rotterdam, makam Sultan Hasanuddin, sampai ke Balla Lompoa Galesong. Anak-anak pun tampak begitu bahagia, dan efeknya tentu mendapat sebuah pelajaran sejarah.
Selain anak-anak, Prof Amin juga kerap membantu warga kurang mampu yang membutuhkan bantuan. Seperti mereka yang memerlukan modal untuk usaha.
“Bukan cuma anak-anak, orang besar juga yang mau dagang, bikin usaha, biasa saya kasih pinjaman ke mereka. Karena kami mau juga kalau mereka bisa mencari nafkah dengan baik dan berhasil,” tambah Prof Amin.
Di ASCenter, bukan hanya mendidik anak-anak dan membantu para warga. Di tempat itu juga terdapat sebuah galeri yang cukup unik dan mungkin tak ada duanya di manapun. Yaitu ASCenter Galeri Kaligrafi Lontarak Bugis-Makassar. Di galeri tersebut dipajang beberapa kaligrafi dari huruf lontarak karya Prof Amin.
“Kalau Galesong masa lalu ada di Ngantang, Galesong. Masa sekarang ada di Balla Lompoa, Galesong. Masa yang akan datang ada di sini,” begitu tujuan Prof Amin mendirikan galeri ini sembari menunjukkannya kepada BKM.
Galeri ini didirikan tak lepas dari karyanya yang telah dipatenkan oleh Menteri Hukum dan HAM. Ketiga karyanya tersebut antara lain Logo Appaka Sulapa, Kaligrafi Aksara Lontara, dan Ceramah Kepemimpinan Appaka Sulapa.
“Jadi menteri Hukum dan HAM sudah menerbitkan paten mengenai logo, kaligrafi lontara, dan ceramah kepemimpinan. Ini logo Appaka Sulapa yang merupakan kepempinan empat penjuru angin, kaligrafi lontara yang kami pamerkan di galeri, dan ceramah kepemimpinan appaka sulapa,” jelasnya.
Prof Amin berharap, dengan adanya galeri ini bisa membangkitkan kearifan lokal yang ada di Indonesia ke arah pembangunan. Maksudnya adalah, jika prinsip-prinsip Bugis Makassar bisa dipegang teguh oleh masyarakat, maka tidak akan ada lagi korupsi dan kejahatan lainnya. (*/rus/b)

Exit mobile version