Site icon Berita Kota Makassar

Pemkab Mamasa Antisipasi Makanan Berformalin

MAMASA, BKM — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mamasa melalui dinas kesehatan bekerjasama Mamasa Community Devloment Fondution
(MCDF) gelar seminar hasil penelitian makanan berformalin se Kabupaten Mamasa di aula Matana Dua, kemarin.
Hadir dalam kegiatan tersebut, masing-masing Wakil Ketua DPRD Kabupaten Mamasa, Marthinus Tiranda, Kepala BPOM Sulawesi Barat, Dr Netty Nurmuliawati Apt, MKes, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mamasa, Dr Hajai, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Mamasa, R Pualillin, pengurus MCDF, LSM, dan beberapa tokoh masyarakat.
Martinus Tiranda selaku Wakil Ketua DPRD Kabupaten Mamasa, mengatakan, mengenai penelitian bahan makanan yang mengandung formalin di Mamasa sebelumnya telah dibicarakan dengan pemerintah. Mengingat, banyaknya kecurigaan para pedagang ikan dan makanan lain yang dipasarkan di wilayah Kabupaten Mamasa ini.
”ini kan sangat berbahaya bagi kehidupan masyarakat, kepada kita semua. Karena dampak yang ditimbulkan sangat besar. Memang itu bukan untuk pengawet ikan melainkan itu pengawet mayat,” terang Marthinus dalam sambutannya.
Kepala BPOM Sulbar, Dr Netty Nurmuliawati Apt, MKes, menjelaskan, pihaknya telah melakukan uji sampel dibaberapa daerah di Kabupaten Mamasa di antaranya Kecamatan Mamasa, Tabang, Nosu, Aralle, dan Kecamatan Mambi.
”Kami telah mengambil 304 sampel baik ikan basah, ikan kering juga cumi-cumi. Dari hasil penelitian kami, ditemukan hanya satu yang positif mengandung formalin yaitu cumi-cumi,” jelas Dr Netty.
Pihaknya juga menjelaskan, sebenarnya penelitian terhadap bahan makanan yang mengandung formalin itu sedianya akan dilakukan setiap bulan untuk mengantisipasi hal-hal buruk bagi kesehatan masyarakat. Namun, kata dia, bukan hanya satu komoditi yang diperiksa, tapi banyak. Umpama kosmetik, obat tradisional dan lain-lain.
Ditempat yang sama, Kepala Dinas Kesehatan, Dr Hajai menerangkan, sampel yang diambil dari lima kecamatan itu sudah mewakili dari 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Mamasa. Dikarenakan, lima kecamatan itu merupakan pintu masuk bagi para pedagang baik ikan maupun bahan makanan lainnya.
”Secara otomatis. Kalau sudah di pintu masuk yang terdeteksi formalin, sudah jelas yang di dalamnya juga demikian. Makanya, sengaja kami mengambil sampel di baberapa tempat saja yang kami anggap adalah pintu masuk dari pada para pedagang,” ucapnya.
Sepanjang tahun 2017 lalu, pihaknya melakukan pemeriksaan sampel sebanyak empat kali yang dimulai dari April, Mei, Juni, dan November.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Mamasa, R Pualillin, mengatakan, ke depan akan membuat TIM untuk mengantisipasi hal-hal buruk yang kemungkinan akan terjadi dilapangan seperti yang telah ditemukan sebelumnya.
”Kami segera membentuk TIM untuk meminimalisir hal-hal dianggap membahayakan bagi kesehatan masyaraka. Jadi segera kami bentuk Posko untuk meningkatkan pengawasan di lapangan,” kata R Pualillin kepada Berita Kota Makassar. (ala/mirc)

Exit mobile version