MENJADI entrepreneur atau pengusaha adalah mimpi atau cita-cita semua orang, begitupun Aufa zulfikar. Pria dengan sapaan akrab Fikar ini kerap tergiur saat mendengar kisah sukses pengusaha. Selain tajir, jam kerja pengusaha lebih bebas.
Laporan: ARIEF AL QADRY
Hanya saja, apa yang dia cita-citakan sejak di bangku sekolah belum bisa terwujud. Usai menempuh pendidikan di perguruan tinggi di tahun 2008, ia mendapat tawaran dari keluarganya masuk dan bergabung sebagai BPBD Kota Makassar sebagai tenaga kontrak. Diapun menerima tawaran itu. Bekerja di kantor pemerintahan sama sekali tak pernah ia bayangkan. ” Allah telah memberikan Setiap orang rezekinya masing-masing. Setiap orang akan menghabiskan sepertiga bahkan lebih hidup mereka untuk bekerja. Apakah mereka bekerja untuk diri mereka sendiri atau untuk orang lain,” ujar Fikar.
Setelah menerima tawaran kerjaan dan mendapat SK sebagai tenaga kontrak, diapun mulai masuk bekerja serta menyesuaikan dirinya. Tugas pertamanya yakni turun ke masyarakat melakukan sosialisasi pencegahan dan penanggulangan bencana. Sosialisasi dilakukan di wilayah rawan terjadi bencana.
” Pertama masuk kerja cukup bingung apa tugas dan apa yang saya kerjakan. Tidak lama saya diarahkan dan saya sudah paham tugas-tugas saya melakukan sosialisasi dan pencegahan penanggulangan bencana banjir. Saya suka kerjaan saya ini karena bisa membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan,” sebutnya.
Terangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah harapannya sebagai pegawai kontrak. Karena ketika menjadi PNS tentu pendapatannya sudah lebih baik dari sekarang ini yang di mana setiap bulan hanya mendapat honor sebesar Rp850.000 bersih. Apalagi tidak mendapat jaminan kesehatan.
“Sebenarnya honor Rp1 juta. Tapi Rp150.000 dipotong untuk jaminan hari tua. Tentu saya harap bisa terangkat sebagai PNS,” harapnya.
Meskipun honor yang didapatkan kurang, dan harus pandai-pandai diatur agar bisa cukup. Ia sudah senang dan cinta dengan apa yang dia kerjakan sekarang ini. Karena apa yang dia kerja untuk membantu orang-orang banyak.
Kepada penulis, Fikar mengaku, sebagai personil BPBD dituntut harus kuat dalam menjalankan tugas serta kuat jika mendapat makian atau cacian dari warga. “ Duka jangan ditanya, tapi jika berhasil, rasanya sangat lega dan puas,” ujar Aufa.
Bagaimana tidak, kata Aufa, personil harus berhadapan dengan maut dalam menangani bencana seperti banjir, belum lagi kendala kendala nonteknis lainnya. “ Kita setiap saat melakukan pemantauan titik-titik banjir. Termasuk jika ada telepon masuk, langsung kita tangani, dan ketika kita berangkat, warga kadang tidak sabar dan bentak-bentak petugas,” cerita Aufa.
Hanya saja, suka atau tidak suka, petugas BPBD harus ceria dalam melayani permintaan warga dan korban.
Di depan penulis, Aufa menceritakan jika musim penghujan tiba menjadi tanda bagi relawan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kota Makassar untuk siaga 24 jam di posko induk yang berada di Jalan Kerungkerung, Kecamatan Makassar.
Saat musim hujan, ancaman terjadinya bencana banjir sangat berpotensi. Dan banjir sering terjadi di malam hari atau waktu istirahat. Cukup berat bagi relawan TRC harus siap siaga di posko induk bencana selama 24 jam untuk segera turun melakukan evakuasi terhadap warga korban banjir.
Tugas relawan TRC terbagi. Ada yang turun melakukan pendataan di wilayah rawan banjir kemudian melaporkan kondisi terkini. Sementara selebihnya standby di posko induk bencana menunggu laporan petugas di lapangan adanya bencana. Jam berapapun, dalam kondisi apapun, relawan TRC harus turun jika mendapat laporan.
Selama hampir tujuh tahun menjadi Staf Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Makasaar dan relawan, punya banyak pengalaman suka dan duka yang panjang untuk di ceritakannya. Mulai dari turun melalukan sosialisasi pencegahan banjir, melakukan evakuasi korban banjir, hingga dimaki warga korban bencana.
Cerita Zul, sapaan akrab pria kelahiran Ujung Pandang, 21 Maret 1983, disaat melakukan evakuasi korban banjir, kotoran manusia yang terbawa arus dan mengapung sering dia temui dan itu tidak bisa dihindarkan. Bahkan selalu terjadi, di mana kotoran manusia yang mengapung di air menempel bajunya.
Rasa jijik sudah hilang dalam dirinya. Rasa jijik hilang dikalahkan dengan semangatnya untuk membantu insan yang sedang mendapat musibah.
Adapun yang pernah dialami yaitu bentrok di lapangan bersama warga. Namun bentroknya hanya sekadar adu mulut saja. Sering di alami relawan TRC mendapat maki dari warga korban banjir. Hal tersebut terjadi di mana warga korban banjir ingin mendapat perhatian tapi tidak sabaran.
Contoh saat kejadian banjir di Kodam 3, Kecamatan Biringkanayya, belum lama ini. Warga yang lelah tidak segan memaki relawan TRC yang lambat menyalurkan bantuan khususnya dapur umum. Bahkan mengeluarkan ancaman akan membakar mobil dapur umum BPBD Kota Makassar.
Itu berawal disaat warga yang tak sabaran mendapat jatah makanan, mendesak relawan segera membuka dapur umum. Untungnya ancaman itu tidak sampai terjadi. Relawan yang menghadapi warga dengan sikap dingin berhasil memberikan penjelasan ke warga untuk mendatangi dua dapur umum yang sudah ada yang siap melayani warga.(arf)
