ORANG yang baik adalah dia yang bisa memecahkan masalah untuk kepentingan bersama. Misalnya, menjadikan sebuah daerah semakin berkembang dan berpotensi besar bagi masyarakat dan bangsa. Itulah keinginan dari seorang Irianti.
Laporan: Nugroho Nafika Kassa
TAK ada kepentingan pribadi yang diharapkan dari penelitian yang dilakukan Irianti. Potensi alam yang bisa lebih dikembangkan, menjadi satu-satunya alasan mengapa ia mau menjalankan misi sosial ini. Kemakmuran masyarakat juga menjadi tujuannya.
Kepada BKM, Irianti menjelaskan apa maksud dari konsep 3E yang ada dalam penelitiannya. Singkatan dari Education, Environment, dan Entrepreneurship dalam penelitiannya ternyata memiliki makna yang mendalam.
Yang pertama adalah education. Dari namanya kita tahu bahwa ini berhubungan dengan pendidikan. Ya, maksudnya akan ada pendidikan yang diberikan untuk para wisatawan yang berkunjung ke Danau Tempe.
Dengan mengunjungi Bola Atakkae, rumah terapung yang ada di sekitar Danau Tempe, wisatawan akan diperkenalkan budaya dan kearifan lokal di Danau Tempe. Selain itu, juga akan ada pendidikan untuk masyarakat yang bermukim di sekitar danau. Diantaranya melalui pelatihan-pelatihan seputar pengembangan pariwisata danau yang akan dilakukan di balai pertemuan.
Yang kedua adalah environment. Irianti mengatakan, Danau Tempe akan dijadikan tempat pariwisata yang berbasis lingkungan dengan pendekatan sosio-kultural. Artinya, dengan pendekatan yang menekankan pada pentingnya memahami aspek sosial-kultur masyarakat lokal dalam pengelolaan lingkungan pariwisata.
Terakhir adalah entrepreneurship. Di Danau Tempe nantinya akan dibuat pusat usaha Kappala Balu-balu (kapal jualan). Center usaha ini sebagai wadah bagi masyarakat untuk memperkenalkan kuliner dan sovenir khas Wajo, khususnya Danau Tempe. Ini menjadi peluang usaha bagi masyarakat di sekitar danau untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraannya.
Irianti mengakui jika penelitian yang dilakukannya ini tidaklah mudah. Ia merasakan suka dan duka dalam menjalankannya. Tentunya karena hal ini memerlukan pematangan konsep dalam tata kelola Danau Tempe itu sendiri.
Karena pengembangan Danau Tempe harus ia tinjau dari segala aspek. Bukan hanya pariwisata saja, namun juga aspek geografi, sosial, ekonomi, dan aspek lainnya.
“Yg menjadi kesulitan nantinya bisa saja adalah pendangkalan danau. ini menjadi kendala utama. Juga karena adanya beberapa bangunan terapung yang ingin dibuat, agar tercapai pariwisata mandiri yang berbasis 3E tersebut. Ini perlu persiapan matang, dan tentunya dukungan dari berbagai pihak,” kata Irianti.
Ia sangat berharap ide dan hasil dari penelitiannya kelak bisa direalisasikan. Dukungan dari pemerintah daerah setempat serta masyarakat sekitar Danau Tempe sangat didambakannya. (*/rus/b)
