MAROS, BKM — Rencana pemerintah mengimpor beras pada akhir bulan ini, membuat sejumlah petani di Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan kuatir harga jual gabah akan anjlok.
Menurut mereka, harga jual gabah saja kerap turun setiap kali musim panen. Karena banyak gabah petani yang tak mampu diserap Bulog. Apa lagi, jika impor beras itu terjadi. ”Jelas kami tidak setuju. Karena di sini, setiap musim panen saja kadang harga turun. Apalagi kalau impor beras itu terjadi,” kata Abdul Herman, salah seorang petani, pada akhir pekan lalu.
Ia menambahkan, selama ini petani sudah terbebani dengan ongkos produksi yang sangat tinggi. Mulai dari harga pupuk, pestisida hingga sewa traktor. Belum lagi ancaman gagal panen akibat banjir ataupun hama.
”Rata-rata setiap hektarenya, kita bisa mengeluarkan biaya produksi itu hingga Rp5 juta. Itu juga belum ditambah jika ada hama atau banjir,” lanjutnya.
Keuntungan yang sangat tipis, menurutnya, membuat para petani berpikir untuk mengurangi luas lahan produksi pertanian. Selain untuk meminimalisir modal, mereka juga menghemat tenaga.
”Yah, sekarang kita berpikir hanya menanam padi untuk kita makan saja. Karena kalau mau dijual, itu hitungannya rugi. Belum lagi kalau kita ini hanya penggarap,” paparnya.
Ia berharap, rencana impor beras itu bisa dibatalkan pemerintah. Agar petani tetap punya peluang meraup untung saat musim panen dibulan Februari mendatang.
Senada dengan hal itu, Kepala Dinas Pertanian Maros, Muhammad Nurdin, berharap agar beras yang akan diimpor pemerintah, tidak masuk ke wilayah lumbung beras seperti di Maros.
”Kalau memang tetap ada impor, kita harapkan itu tidak masuk ke sini. Karena akan berpengaruh pada harga jual petani. Kita di sini setiap tahunnya surplus dan stoknya juga masih banyak,” terangnya.
Kabupaten Maros sendiri merupakan salah satu daerah penghasil beras terbesar di Indonesia Timur. Tiap tahunnya, produksi petani mencapai lebih dari 300 ribu ton dan mampu menyuplai Kalimantan dan Jawa.
”Tahun 2017 lalu kita surplus. Targetnya 350 ribu ton, kita mampu memproduksi 370 ribu ton beras dengan luas lahan garapan mencapai 26 ribu hektare,” tutupnya.(ari/mir/c)
Petani di Maros Tak Restui Pemerintah Impor Beras
