Sulfiah Dg Rannu tetap bertahan untuk berjualan kripik penyek. Setiap harinya kripik yang dia jual hingga 50 bungkus perharinya. Kripik tersebut milik tetangganya.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
“Saya akui itu tidak cukup nak. karena harus menambung untuk kebutuhan sehari-hari. Paling saya beli beras 5 kilo untuk saya makan sebulan bersama dua anak,” ungkapnya di depan penulis.
Syukur-syukur ujar wanita berjilbab ini, pendapatan hasil mengumpulkan barang bekas bisa menambah penghasilan sehari-hari.
“Kalau lagi untung semua peyek laku itu bersih saya dikasih Rp30 Ribu. Tapi beberapa hari ini sedikit yang laku dan saya hanya dapat upah Rp5.000, kalau timbang barang bekas cuman Rp10-20 ribu saya dapat,” ujarnya.
Meski hanya sedikit Daeng Rannu panggilan akrabnya mengaku, tetap bersyukur.
“Upah dari hasil menjual kripik saya cukupkan saja untuk memenuhi kebutuhan di dapur. Sementara hasil memulung barang bekas saya tabung untuk membeli kebutuhan sekolah adekmu yang duduk di bangku kelas 5 SD dan satunya lagi sudah duduk di bangku kelas 2 SMP. Saya kasih saja secukupnya, kalau uang bukunya ada beasiswanya dari sekolah,” ucapnya.
Ketika prestasi kedua anaknya ditanya, ia tidak mengetahui secara pasti. Ia hanya mengajarkan anaknya untuk tetap rajin bersekolah dan tidak meninggalkan pelajaran.” Tidak ku tahu saya nak, yang penting mereka mau sekolah dan saya kasih uang atau saya bekalkan mereka makanan ke sekolah,” tambahnya.
Daeng Rannu mengaku sempat mendapatkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) dari Pemerintah Pusat tepatnya tahun 2007. “Dulu pernah dapat waktu suaminya saya masih hidup terakhir tahun 2007, setelah itu tak ada lagi dan sampai saat ini,” tutupnya.
Untuk itu, ia sangat berharap adanya bantuan pemerintah pemerintah untuk memberikan modal dan memperbaiki gubuknya agar lebih layak dihuni. Apalagi, rumah yang ia tempati berlindung hanya beralaskan lantai dari tanah dan sebagian ruang di dalam rumahnya banjir bahkan air got pun masuk ke dalam.
Warga Kelurahan Rappokalling, Kecamatan Tallo, Makassar ini, setiap harinya menjual keripik peyek di sejumlah toko, pasar dan sekolah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Janda yang telah ditinggal mati suaminya ini mencoba bertahan hidup dengan penuh kemandirian dan kejujuran. Ia tak mau meminta belas kasihan orang lain dengan berkeluh kesah diantara orang-orang yang mampu dan berkecukupan.
Setiap harinya, warga kelahiran Makassar ini tabah berkeliling menjual dan menitip kripik penyeknya tersebut.
“Saya berjualan setiap hari, mulai dari jam 6 pagi sampai jam 17 sore,” ungkap ibu dua orang anak ini.
Menurutnya kepada penulis, daripada harus mengemis di jalanan, ia lebih memilih bekerja keras untuk menghidupi dirinya dan anaknya.
“Sejak ditinggal suami, saya kerja keras untuk anak saya. Saya tidak mau anak saya seperti saya nantinya,” ucapnya saat disambangi di rumahnya.
Ia juga tidak ingin hidup dari belas kasih orang. Sebab menurutnya selama tangan dan kakinya masih mampu bekerja, ia masih mampu menghidupi keluarga kecilnya. Meskipun rumah yang ia tempati hanya memiliki satu kamar yang behadapan langsung dengan dapur.
Saat penulis masuk hingga ke dapur, pencahayaan lampu sudah redup, lantai yang masih beralas tanah. Jika musim penghujan seperti saat ini, kondisi rumah Sulfiah becek bahkan banjir. Termasuk seringkali alat memasaknya hanjut ketika banjir.
“Kalau hujan tidak bisa apa-apa, hanya diatas tempat tidur saja sama anakku. Biasa juga tempat masak ku kena banjir, jadi tidak bisa jualan,” bebernya.
Rumah kecil berukuran 4×7 disebelah utara Kota Makassar, betul-betul mengharapkan bantuan Pemerintah Kota Makassar. Sebab semenjak di tinggal wafat suaminya Dg Rannu juga menyempatkan bersama anaknya mengumpulkan barang-barang bekas untuk menambah penghasilan.
“Habis pi jualanku biasanya saya sama anakku pergi ambil barang bekas, botol untuk pergi ku timbang, itumi saya belikan beras biasa. Kalau penjualan keripik saya tabung untuk beli kebutuhan sekolahnya anakku,” tuturnya.(ita)
